Gemerincing Kepingan Dinar Surga

0 46

Tausiyah:

Pasar Basrah pagi ini sangat ramai. Beberapa kapal membongkar sauh dan bersandar membawa barang. Aban mencoba mendekati dan menemui nakhoda-nahoda. Ia meminta pekerjaan, mungkin ia bisa membantu menurunkan barang, atau apapun.

Tapi, para nakhoda itu tanpa senyum menggeleng, menolak. Aban kecewa dalam. Ia kemudian menuju pasar. Ia hubungi satu persatu lapak penjual dan bertanya kepada pemiliknya, mungkinkah ia bisa mempekerjakan seseorang yang hanya untuk menghidupi anak dan istrinya.

“Maaf, pasar sedang sepi. Aku cukup dengan anakku saja yang menjaga. Aku belum mamu membayar orang lain,” kata seorang pedagang sayur dan buah yang baru saja dipenuhi dari muatan kapal. Ada bapak-bapak yang telah berusia lanjut membawa banyak barang. Aban mendekat menawarkan jasa angkut. Ia menggeleng pasti.

“Aku masih kuat mengangkatnya,” katanya sambil menepis tangan Aban yang mendekat.

“Saya hanya membantu bapak. Tak harus memberi upah saya,” kata Aban.

Setelah ia menatap wajah Aban dan kemudian tersenyum. Ia menyerahkan barangnya. Seperti janji Aban, orang tua itu tak memberinya apa pun.  Aban gembira karena ada orang yang sekarang mulai mau memanfaatkan jasanya meski tak menghasilkan kepingan dirham.

Ketika ia melihat bebeapa orang yang tengah menikmati makan siang, ia menangis. Ia teringat anak istrinya yang tinggal di puing-puing bangunan di pinggran kota Basrah. Mereka menahan lapar.

Dalam perjalanan pulang yang galau ia melihat sebuah masjid kecil yang sangat tak terawat. Ia masuk dan melaksanakan salat dua rekaat. Ia membersihkan masjid itu dengan kedua tanganya. Ia pel dan bersihkan hingga kelihatan mersik. Tak seorang pun salat di masjid itu. Aban kumandangkan azan dan iqamat sendiri, juga salat hanya sorangan.

Setelah usai Isya, ia pulang. Ia menutup pintu masjid itu. Tak ada lampu. Sepertinya, negara telah mencabut subsidi lampu untuk masjid ini karena tak lagi ada jemaah. Ia tercenung lama sambil menatap masjid itu. Ia harus pulang dengan tangan hampa.

Anak istrinya menyambutnya dengan harap penuh.  Tapi, setelah melihat wajah Aban, istrinya tak berani bertanya. Ia menunggu apa pun yang hendak dikatakan suaminya.

“Aku bekerja pada seorang raja yang belum memberiku upah hari ini. Semoga upah diberikan besok,” kata Aban.

“Ah, bekerja pada seorang raja?” tanya sang istri. Anak-anaknya juga ikut mendekat.

“Benar, seorang raja. Semoga besok upah itu akan diberikan.”

Mereka gebira mendengarnya. Malam itu anak istrinya tidur dalam himpiran lapar. Ia sangat takut jika kelapaan ini akan menggoyahkan iman anak-anak dan istrinya.

Keluarga ini baru saja memeluk agama Islam melalui ulama besar Maulana Malik bin Dinar. Aban, 33 tahun, bersama kakaknya Rahban, 53 tahun adalah pemeluk agama Majusi atau Zoroaster. Keduanya adalah warga persia. Mereka kemudian menguji, benarkan apa yang mereka sembah.

Jika api tidak lagi melukainya, maka ia terus menyembah tuhan api. Jika tidak maka keduanya akan mencari tuhan sebenarnya. Ia akan tinggalkan api sebagai tuhan sesembahan.

Setelah menguji, ternyata api masih melepuhkan tangannya. Maka keduanya bersumpah meninggalkan agama yang menyembah api itu. “Kita cari Tuhan yang maha menyayangi kita. Dosa kita bertahun-tahun bisa dihapus dengan ampunan sesaat,” kata Aban.

Namun, Rahban kemudian mengurungkan niatnya. Ia ingin kembali ke kaumnya karena tidak tahan menghadapi cemoohan lingkungannya di Persia. “Maafkan adikku, aku terpaksa harus kembali ke kaumku dan jalanlah terus mencari kebenaran itu. Aku tak sanggup menghadapi kaumku.”

Aban dan keluarganya menemukan Islam.

 

Hari Kedua

Aban kembali ke pasar pagi hari. Hari itu kamis. Pasar masih juga tak memberinya peluang kerja. Ia kelaparan berat. Ia kembali ke masjid kumuh tadi dan kembali membersihkan. Ia lantunkan azan lohor, ashar, magrib hingga Isya. Tak ada jemaah. Ia ingin hidupkan masjid itu. Sejumlah orang justru bertanya-tanya, siapa gerangan menghidupkan masjid yang telah mati karena tak lagi memiliki jemaah dampak urbanisasi.

Pulang. Sepanjang jalan ia menangis. Melolong sedihnya. Tak ada ada makanan yang ia bawa. Hanya air yang memadati perutnya selama seharian. Tapi, ia usahakan tersenyum dan gembira. Ketika ia tatap anak istrinya yang setia menunggu itu, ia upayakan tesenyum. “Anak istriku hari ini upahku tertunda. Siapa tahu raja akan memberi upahnya besok. Berdoalah. Jangan berburuk sangka dengan Allah. Dialah yang Maha memberi.”

Malam itu menyelimuti kembali mereka dengan kepedihan. Angin begitu bebas masuk menusuk tubuh mereka yang lapar. Hanya bulan masih menghibur dengan  menyinarkan kecerahan. Malam itu Aban salat sebanyak-banyaknya memohon petujuk Allah. Tetesan air matanya tak terasa menjatuhi ibu jari kakinya. Hangat merambat ke ubun-ubunya.

Pagi hari Jumat ini, Aban tak lagi ke pasar. Ia kayuhkan langkahnya langsung menuju masjid itu. Ia buka lebar-lebar pintunya dan ia membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Menjelang Jumat, ia tinggalkan masjid itu menuju masjid jamik besar di kota Basrah.

Ia bersimpuh. Ia tengelam dalam doa.

“Ya Allah ya Tuhan kami, berkat kemuliaan hari Jumat milik-Mu, aku tak kuasa lagi meminta apa pun kepada-Mu kaena engkau Mahatahu atas diriku.  Hanya Engkau yang Mahatahu kebutuhanku. Engkaulah Maha Memberi segala harapan hamba-Mu. Kepada-Mu, hanya kepada-Mu aku letakkan semua harapan masa depanku dan keluargaku ya Allah, ya Allah, ya Tan semesta alam.” Suaranya keras hingga banyak orang yang mendengar serentak ikut mengamininya.

Hari ini Aban akan berterus terang kepada istrinya tentang kegagalannya mencari kerja. Ia akan mengaku bahwa ia tidak bekerja pada seorang raja. Ia hanya bekerja membersihkan masjid yang tak terawat. Aban pulang kembali dengan tangan hampa. Surbannya ia gelar dan kemudian ia isi pasir. Jika sang istri bertanya, ia akan jawab tepung. Ia siap menerima damprat keluarganya. Ia berjaji akan mencium anak istrinya sebagai luapan permohonan maaf.

Dinar-dinar Surga

Seorang mengetuk pintu di siang bolong. Sarya, istri Aban membukakannya. Ia terbelalak melihat seorang laki-laki yang sangat tampak berdiri di depannya. Laki-laki itu membawa nampan emas besar bertutup kain satin sulam emas.

“Assalamualaikum. Saya diperintah mengantar upah suamimu yang telah bekerja dua hari lebih. Pada hari umat ini nilai pekerjaannya bertambah dan upahnya juga berlipat. Semakin rajin ia bekerja maka akan semakin banyak juga upahnya. Teruslah bekerja seperti yang sudah ia lakukan. Terimalah 1.000 dinar upahnya,” kata laki-laki dengan santun. Pakaian yang dikenakan belum pernah ia lihat di belahan dunia mana pun. putih dan berbinar cahaya.

Sarya hampir tak percaya. Ketika ia buka, dinar-dinar memantulkan kemilaunya. Ia ambil satu keping untuk membeli makanan. Ia datangi penukaran uang di kota yang kebetulan milik seorang Nasrani.

Ia amati dalam-dalam dinar itu. Ukiran yang ada menandakan keunggulan yang luar biasa yang pasti bukan ukiran manusia. Kilau emasnya melebihi 24  karat yang ada di muka bumi.

“Dari mana engkau dapatkan uang ini?” tanya Nasrani itu yang mash menimang dinar yang beratnya dua kali lipat dinar yang ada.

Sarya bercerita. Dinar ini upah keja dari seorang raja.

“Raja?”

Laki-laki Nasrani itu semakin tercengang mendengar kisahnya. Ia kemudian menatakan diri masuk islam. Ia tak sanggup menukarkan uang dinar istimewa ini dengan apa pun.

“Aku tak sanggup menukarnya. Bawalah pulang dan aku sertakan pula 1.000 dirham uang peak. Pakailah belanja uang dirham ini. Simpanlah uang dinarmu. Jika habis dirhammu, katakan kepadaku, aku akan memberimu lagi sebanyak kebutuhanmu.”

Sarya tak menyangka. Uang 10 dirham dibelikan makanan mewah hari ini. Ia akan sambut sauminya dengan makanan lezat itu.

Ketika Aban datang ke rumahnya, tercium bau sedap masakan lezat. Sorban berisi pasir ia tinggalkan di depan pintu.

“Apa pasal istriku?” tanyanya sambil menatap daging kambing bakar utuh disela buah-buah anggur dan delima.

“Tadi siang seorang datang membawa upahmu selama dua hari lebih. Upah kerja hari Jumat dilipatgandakan.”

“Ha…” teriak Aban. Hampir ia pingsan.

Mereka makan dengan lahapnya senja itu. Mereka mengakhiri hari Jumat itu dengan kenyang dan syukur. Malam diharap akan memberinya mimpi indah.

“Omong-omong, apa yang engkau bawa tadi di luar,” tanya Sarya.

“Ah, jangan dipikirkan.”

Tapi, Sarya telah melangkah keluar dan membuka surban itu. Subhanallah, tepung gandum memenuhi surbannya.

“Engkau membeli gandum,” teriak isterinya.

Aban semakin terhenyak. Ia tak lagi mampu menahan tangis syukur.  Allah maha besar.

Dukutip dari Kitab Al-Mauidzah karya Syaukh Al-Usfuri. (Musthafa Helmy)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.