RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – Menteri Agama (Menag) Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar resmi membuka Musyawarah Nasional (Munas) XI Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Kamis siang, 20 November 2025. Acara ini berlangsung di Hotel Mercure Ancol, Jakarta.
Munas MUI merupakan forum permusyawaratan tertinggi yang digelar secara periodik untuk merumuskan arah kebijakan, memperkuat peran ulama, serta memperkokoh kontribusi MUI bagi kehidupan umat dan bangsa.Dalam sambutannya, Menag Nasaruddin mengatakan MUI sebagai institusi yang sangat penting di Indonesia.
Menag mengatakan di zaman sekarang, ada banyak tantangan yang dihadapi ulama.
“Tantangan kita di masa depan, mungkin dahulu tidak sulit menjadi ulama karena merujuk Al-Qur’an dan hadits tapi di era saat ini sangat otoritatif, jika tidak didukung oleh media dan politik bisa jadi, sesuatu yang mutlak menjadi tidak mutlak,” kata Menag.
Pada momen ini juga Menag menyampaikan harapan agar MUI kedepannya bisa semakin kokoh.
“Harapannya semoga MUI lebih mengokohkan diri sebagai individu maupun organisasi,” lanjutnya.
Menag juga menyampaikan harapan agar Munas MUI IX ini akan melahirkan proteksi umat.
“Semoga MUI melahirkan keputusan yang paralel dan berkelanjutan.Dalam sambutannya, Menag Nasaruddin mengatakan MUI sebagai institusi yang sangat penting di Indonesia.
Sementara itu, Ketua Steering Committee (SC) Munas XI MUI, KH Masduki Baidlowi menegaskan bahwa penyelenggaraan Munas memiliki posisi strategis bagi keinginan MUI.
“Ini adalah kegiatan yang sangat penting. Munas ini digelar lima tahun sekali, dan khusus Munas ke-11 ini bertepatan dengan 50 tahun pertama MUI sekaligus mengungkap 50 tahun ke depan. Di sini kita akan memaparkan sejumlah pokok penting,” ujarnya.
Dia juga menyoroti tantangan yang tengah dihadapi MUI, terutama terkait otoritas keulamaan di tengah perubahan perilaku generasi muda.
“Yang menjadi tantangan adalah otoritas MUI dan pimpinan-pimpinan ormas lainnya. Saat ini, anak-anak muda Gen Z dan Gen Alfa semakin banyak bertanya kepada AI. Semua hasil survei menunjukkan demikian, dan itu kami rumuskan sebagai tantangan,” katanya.
Dia juga menjelaskan bahwa MUI tidak mempublikasikan isu calon Ketua Umum karena lebih banyak ketegangan substansi pembahasan di Munas, bukan dinamika politik internal.
Menurutnya, tradisi di MUI adalah menjaga keteduhan organisasi dan memperkuat musyawarah sebagai prinsip utama.
“Hal yang penting dalam Munas ini adalah pemilihan Ketua Umum MUI. Kalau MUI itu lebih mengedepankan kerukunan atau lebih mengedepankan Ahlul Halli wal ‘Aqdi, yakni ahli musyawarah atau pemuka umat, seperti ketika Rasulullah wafat,” ucapnya.”
Munas XI MUI diselenggarakan membahas strategi program, penguatan otoritas keulamaan, serta arah gerak MUI dalam menghadapi dinamika era digital.
(Aji Stiawan).