Perdamaian Dunia
Sejak Amerika Serikat membom Iran melalui operasi Epic Furry akhir Pebruari lalu dan mensyahidkan Ayatullah Ali Khamenei, dunia terguncang. Ada apa lagi. Ukraina dan Rusia belum selesai, muncul masalah baru yang menyambung dari krisis Gaza dan Israel.
Tidak hanya para pemimpin negara, termasuk PBB yang mencoba ikut berupaya menyelesaikan persoalan, juga kalangan internal di AS, tokoh-tokoh agama, termasuk Paus Leo V, pemimpin umat Katholik sedunia. Bahkan teratkhir, Presiden Trumph ‘melawan’ Paus yang menginginkan berhenti perang.
Para tokoh dunia banyak berperan dalam upaya mendamaikan konflik AS–Iran melalui jalur diplomatik, tekanan politik, dan mediator internasional.
Hal ini ditunjukan ketika para pemimpin dunia itu menyambut baik gancatan senjata. Pemimpin Eropa menyambut gencatan senjata sementara dan menekan agar dibuka negosiasi lebih luas. Indonesia dan beberapa negara non‑blok aktif mendorong dialog tanpa prasyarat, termasuk lewat forum seperti “Board of Peace” (BoP) yang menjadi mediator antara Washington dan Teheran. Terutama negara‑negara kawasan seperti Turki, Qatar, dan Oman yang relatif lebih netral di antara Iran dan Barat.
Iran bukan negara lemah yang diboikot puluhan tahun oleh dunia masih bisa bertahan hidup dan justru mampu mengembangkan senjata mutakhir. Bahkan tanpa duga, kemampuan militer Irak dan teknologinya melampaui dugaan negara-negara besar yang memiliki kekuatan intelijen. Dugaan Trump bahwa Iran akan bertekuk lutut seperti Venezuela dalam hitungan hari meleset. Bahkan memasuki bulan kedua ini, kekuatan Iran masih belum habis.
Dunia menangis. Bukan karena banyaknya nyawa melayang sia-sia, tapi karena gejolak dunia yang tak menentu dan muncul berbagai hambatan dan kecemasan. Permainan tutup buka Hormuz, misalnya, membuat spekulasi harga minyak naik turun. Sebab, dari situ kebutuhan 20% energi dunia dialirkan.
Secara singkat, langkah tokoh dunia berpusat pada: memanfaatkan mediasi netral, mengikat Iran dan AS dalam paket politik‑ekonomi yang saling menguntungkan, dan menetapkan zona keamanan dan komitmen internasional agar perang tidak meluas.
Indonesia tentu mengalami imbasnya karena ketergantungan kita pada impor bahan bakar dari negara teluk. Gejolak ekonomi akan membawa dampak stabilitas politik dan sosial.
Banyak tokoh dan pemimpin organisasi yang mencoba urun pendapat melalui saluran resmi di Jakarta. NU antara lain. Ketua Umum PBNU mencoba mendatangi semua perwakilan negara yang ’terlibat’ konflik –minus Israel yang tidak memiliki kantor perwakilan di Indonesia, memberi masukan dan ‘menekan’ agar mau damai. Selayaknya di zaman digital dan tanpa batas negara ini semua persoalan diselesaikan dengan dialog kesetaraan.
Tentu peran media massa dan sosial yang gemuruh setidaknya ikut menyampaikan pesan damai kepada semua pihak.
Terutama ketika risiko perang terbuka dan kenaikan harga minyak mulai mengancam ekonomi AS dan citranya. Perang bisa melunak tapi bukan karena perubahan idealis, melainkan karena kombinasi tekanan biaya perang, tekanan domestik, dan peluang tawar untuk memutar narasi sebagai “trading” yang menguntungkan. Sebab, miliaran dolar dari perang dihaburkan percuma.
Memang, masyarakat dunia tak bisa berbuat apa-apa selain usulan, diplomasi, suara melalui media, dan berdoa. Ini bukan perang agama karena telah menabrak berbagai dinding perbedaan. Di belakang AS ada beberapa negara Islam juga.
Maka, kita hanya bisa menyatakan keprihatinan dan doa. Seperti disebut dalam hadis Thabrani dan Al-Hakim: “Barangsiapa tidak prihatin dengan kondisi kaum muslimin maka ia bukan dari mereka.”









