Nilai Sebuah Jabatan

0

Penuh kejutan saat Hammad menyambut Ubbad dalam jamuan makan siang kali ini. Hammad menyambutnya sejak dari gerbang rumahnya.

Kuda Ubbad langsung diarahkan seorang budak ke sebuah tempat yang terhormat di halaman luas sebelah rumah Hammad. Hamparan permadani merah menyambut kedatangannya.

Hammad merangkul dan menciumi pipinya bertubi-tubinya. “Marhaban. Ahlan wa sahlan saudaraku.” Begitu juga Niamah, istri Hammad yang ikut menyapa hangat. “Alhamdulillah kita jumpa setelah sekian lama tidak ditakdirkan jumpa Tuan Menteri,” sapa Niamah penuh pujian, berseloroh.

“Tahu begini, aku ajak Sil’ah, istriku yang juga rindu bertemu kalian,” kata Ubbad sambil melepas baju luar dari beludru yang biasa dikenakan pejabat. Hammad meletakkan baju itu di gantungan khusus dekat pintu.

Mereka tampak bahagia dan penuh gelak tawa sambil menuju ruang tengah. Di situ, terhampar permadani buatan Ardabil yang terkenal ornamen bunganya. Terhidang makanan khas Isfahan. Daging kambing yang diolah dengan susu dan rempah khas bau menyengat yang disebut Sabzi Khordan. Beberapa hidangan lainnya yang disebut Burhah.

Ada nasi masakan semacam biryani namun tak terlihat nasinya karena terutup kepala kambing dan irisan tomat, lobak dan bawang bombai. “Rasanya aku terbang kembali pada masa empat puluh tahun yang lalu,” kata Ubbad, sambil mengambil potongan lobak di atas kepala kambing yang dibakar dengan madu.

Empat puluh tahun yang lalu dua orang ini tak saling kenal. Hammad dari kota Kahab sebelah utara sungai Zayandeh Rud. Sedangkan Ubbad dari Khanlanjan, kota sebelah selatan sungai. Mereka anak orang-orang mampu yang bisa melanjutkan belajarnya ke Baghdad.

Keduanya dipertemukan dalam sebuah kafilah menuju Bagddad. Jarak sepanjang hampir 1.000 kilometer itu mempertemukan dua orang yang memiliki tujuan sama. Mereka membayar 25 Dinar kepada pimpinan kafilah. Dalam sekor unta ada empat anak kecil di atasnya.

Waktu itu Baghdad merupakan pusat ilmu pengetahuan. Pada abad keempat Hijri itu ada ulama besar ahli hadis Imam Addaruquthni. Ada ahli fikih Imam Qadli Al-Baqillani, Imam Al-Asfahani, Imam Isfirayini, Imam Alfarabi, dan lain sebagainya.

Dalam perkembangannya kemudian, keduanya lulus dengan nilai baik. Tak kembali ke negara asalnya. Keduanya diterima di kantor khilafah. Ubbad agaknya lebih mujur karena ia mampu memikat penguasa Addud Dawlah sehingga dalam usia 45 tahun ia diangkat menjadi menteri muda pada perbendaharaan negara. Sementara Hammad masih menjadi staf pada kantor yang sama.

Hammad menikah dengan Niamah, anak seorang mawla (budak) asal Homs. Ubbad menikah dengan anak orang pejabat Baghdad, Sil’ah, yang masih keturunan Isfahan. Hammad dan Ubbad menikmati warisan besar dari kedua orangtuanya. Ayah Niamah mendapat warisan dari Tuannya yang tidak memiliki anak, beberapa bidang tanah luas di sekitar Baghdad.

Lantas mereka menikmati teh madu khas Isfahan. Ada kue almon yang padat dengan madu dan jahe. Berbagai macam buah yang dijual di pasar Tahliyah juga disuguhkan, termasuk buah khas Isfahan yang jarang ditemukan di Baghdad; anggur putih.

Mereka rebahan sambil mengenang masa lalunya. Gelak tawa terdengar hingga di luar. Bahkan nyanyian kampung halaman membahana. Beberapa pelayanan membereskan sisa makanan. Niamah lalu menyuguhkan makanan penutup buah dalam yogurt.

Waktu pertemuan dengan Sultan tiba membuat mereka berpisah. Ubbad segera meninggalkan mereka.

Menutup Mulut

Sultan telah menungunya di Balairung. Ubbad merasa tak nyaman seolah dia terlambat. Padahal tepat waktu. Sebagai pejabat di bagian keuangan ia selalu membawa catatan keuangan dalam tasnya. Begitu juga saat dipangggil Sultan, tak lain tentu akan mempertanyakan perbendaharaan, terutama pemerintah waktu itu akan membangun beberapa jembatan yang menghubungkan antar kota yang dipisahkan Sungai Dajlah (Efrat).

 

Ubbad menyampaikan salam dan lalu membuka tasnya. Tapi ia khawatir bau mulutnya bekas makanan yang beraroma menyengat mengganggu pertemuan, Ubbad berkali-kali menutupi mulutnya dengan tangannya. Sultan menatapnya dengan pandangan tidak suka.

 

“Cukup,” kata Sultan. Ia lantas meningalkan Ubbad dan masuk ke ruangannya. Tak lama Sultan keluar dengan mambawa surat yang disegel. “Tolong berikan surat ini kepada staf kerajaan,” katanya.

 

“Terima kasih.”

Ubbad keluar dengan plong, tapi, sedikit magul. Ternyata, di pintu gerbang istana Hammad telah menunggunya.

“Kau menyusulku?”

“Iya. Aku tadi ingin menyertaimu,” kata Hammad. “Lalu?”

“Aku perlu memyampaikan surat bersegel kepada staf kerajaan,” kata Ubbad. Biasanya hadiah berharga.

“Baiklah, biar aku yang antar suratmu. Kau tungu di rumahmu. Aku nanti akan mengantarkan hasilnya dengan Niamah ke rumahmu. Percayalah!”

BACA JUGA

“Baik. Aku percaya. Terima kasih. Aku akan siapkan makanan untuk kalian nanti.”

 

Malam itu terlewatkan begitu saja. Ubbad lama menungu Hammad yang tak kunjung tiba. Keesokan harinya ia harus bertemu Sultan melengkapi laporan kemarin yang tak selesai, ditutup mendadak.

 

Tapi, Sultan terperanjat berat melihatnya.

“Ubbad!” teriaknya

“Baik Sultgn.”

“Engkaukah?”

‘Iya.”

“Sudah kau berikan suratku kemarin?”

“Bukan saya yang menyerahkan Tuanku. Hammad mengambilnya.”

“Hammad?”

Sultan berpikir keras untuk mengingat sesuatu. Ia kemudian merangkul Ubbad dan mengajaknya ke ruang pribadinya.

“Ubbad, sepekan lalu, Hammad menemuiku, mengatakan bahwa engkau kurang suka denganku yang bisa dibuktikan dengan menutup mulutnya jika bercakap dekat denganku.”

Ubbad pun berkisah: “Kemarin Tuanku, hamba tak enak rasa karena habis makan makanan berbau menyengat yang dihidangkan Hammad.”

“Benar. Aku tidak suka melihatmu menutup mulutmu kemarin sehingga aku meminta stafku untuk menghukum mati. Dalam surat itu tertulis: “Pembawa surat ini segera eksekusi mati akrena telah menghina sultan.”

‘Hammad mati?” teriak Ubbad.

“Entahlah. Laporan stafku menyatakan telah melaksanakan tugasnya dengan baik dan telah menyerahkan kepada keluarganya.”

Ubbad merana dan menitik air matanya.

“Menutup mulut saat bicara denganku adalah penghinaan,” kata Sultan.

“Mafkan kami Paduka Tuanku.”

Sore itu juga ia menuju rumah Hammad yang baru baru saja melaksanakan pemakaman. Dikisahkan, kepala Hammad terpenggal algojo. Ia melihat wajah Niamah yang sendu. “Maafkan suamiku,” kata Niamah.

“Maafkan aku, seharusnya aku yang mati tapi suamimu mengambilalih kematianku,” kata Ubbad, terbata-bata.

“Memang itulah iri dan dengki yang tak disangka jika berakhir begini. Hukuman yang dijatuhkan begitu mahal. Ia hanya berharap engkau dipecat dari jabatan tinggi,” kata Niamah.

Malam itu ia tak bisa tidur hingga terputuskan kemudian, “Saya harus mundur dari jabatan dan kembali ke Isfahan untuk mengajar. Jabatan telah menghancurkan hidup dan persahabatanku.”

Dikutip bebas dari Nuzhatul Majalis wa Muntakhabun Nafais oleh Syekh Abdurrahman bin Abdussalam

As-Shafuri As-Syafi’i (w 894H), jilid 1 halaman 9, terbitan Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, Libanon, tahun 1441H/2019M. —Musthafa Helmy    

Leave A Reply

Your email address will not be published.