
Oleh: Hasna ifana (Ma’had Aly Andalusia, Banyumas)
Jam alarm berbunyi dengan nyaring, telingaku menangkap suara tersebut. Namun, aku belum memiliki niat untuk bangun. Rasanya sangat berat untuk membuka mata apalagi diiringi gemuruhnya hujan di luar membuatku merasakan posisi ternyaman untuk tidur, tapi alarm itu tak kunjung berhenti bahkan teman-temanku tidak merasa terganggu oleh berisiknya alarm. Akhirnya kupaksakan tubuhku untuk bangun mencari benda itu dengan keadaan kamar yang minim percahayaan, setelah kudapatkan jam itu ternyata menunjukan pukul 02.30 dini hari.
Akupun menghela napas, masih sangat pagi untuk bangun pikirku. Tetapi, aku teringat sesuatu yang membuatku langsung berdiri dan bergegas menuju kamar mandi.
‘Astagfirullah, aku belum salat isya’ batinku, aku lupa bahwa belum melaksanakan salat karena aku tidur lebih awal dan pasti teman-temanku mengira aku sudah solat.
Setelah berwudhu akupun langsung menggelar sajadah dan memakai mukena, lalu kulaksanakan kewajibanku sebagaimana seorang muslimah, usai melaksanakannya aku duduk terdiam sambil menikmati heningnya malam yang begitu menenangkan, hanya suara hujan mengguyur atap pesantren. Dan tanganku menengadah memanjatkan doa-doa yang selalu kututurkan kepada sang ilahi.
Kemudian, kuberdiri melaksanakan qiyamul lail yang mana memiliki keutamaan tersendiri dan waktu turunnya rahmat allah. Kulantunkan ayat suci dengan pelan sambil merasakan nikmat Allah yang tak terhitung, dalam setiap sujudku aku meminta ampunan padaNya dan harapan yang indah. Setelah selesai empat rakaat yang kudirikan aku tidak langsung beranjak, aku duduk merenung dan kuambil nafas dalam-dalam mencoba menenangkan hati dan pikiran.
Aku menunduk memandangi sajadah di bawah sinar lampu tidur yang remang-remang, kupandangi sajadah itu dengan lama entah mengapa mataku memanas ketika aku teringat sesorang, yang akhir-akhir ini sering muncul dalam benakku. Kemudian, sebutir air keluar begitu saja dari mataku yang semakin lama menjadi deras seperti keadaan hujan di luar.
Kala itu, ketika aku masih bersekolah, aku tak sengaja mengenal seorang lelaki yang mana akhirnya aku menyimpan rasa padanya. Awalnya kami hanya berteman, pikirku hanyalah teman biasa dan tidak akan berlangsung dengan lama, karena dia lebih tua dariku dan termasuk kakak kelasku. Pastinya setelah kelulusan nanti dia akan pindah dan melanjutkan ke jenjang selanjutnya, namun sayangnya aku terlanjur menyimpan rasa kepadanya.
Singkat cerita, saat hari kelulusannya aku merasa berat hati berpisah dengannya. Tetapi, aku hanya bisa memendamnya, lalu kuucapkan kata selamat dan perpisahan melalui pesan, hingga pada saat kelulusanku dia sama halnya sepertiku mengirimkan ucapan selamat kepadaku, setelah itu hubungan pertemananku semakin dekat dengannya apalagi saat mulai dijenjang kuliah yang ternyata tanpa kuketahui aku dan dia satu fakultas dengan prodi yang sama.
Hingga saat kegiatan pembelajaran aktif dengan gedung yang sama, aku sering kali bertemu dengannya walaupun sekedar berpapasan, suatu ketika aku masuk dalam organisasi dan langsung dijabat sebagai sekretaris dalam organisasi tersebut, dan lagi-lagi tanpadisengaja dia satu organisasi denganku bedanya, dia menjadi ketua. Secara tidak langsung aku dengannya semakin dekat, karena sudah lama memendam rasa padanya akupun merasa sangat senang bisa dekat dengannya.
Mulai saat itu imanku benar-benar diuji, sering kali aku berkomunikasi dengannya membahas progam kerja organisasi tersebut dan ini menjadi alasanku untuk dekat dengannya, aku tak memikirkan diriku akan seperti apa kedepannya, sampai-sampai waktu belajar dan mengajiku benar-benar tidak stabil dan sulit mengenali diriku sendiri.
“Tidak, tidak, laila kamu harus fokus, kamu harus profesional dalam kerja, dan ingat kamu hanya teman” ucapku, diwaktu itu mencoba menyadarkan diri sendiri dengan kenyataan yang memang benar adanya. Padahal aku hidup dilingkungan pesantren, seharusnya aku bisa fokus belajar, mengaji, dan tidak memikirkan hal yang belum seharusnya dipikirkan.
Kemudian, pernah suatu ketika aku memiliki jam mengaji bersama sang kyai dan saat itu giliranku diutus untuk membaca kitab, sayangnya waktu itu bacaanku banyak yang keliru dan salah, aku mencoba terus mengulanginya namun tetap banyak kesalahan dalam bacaanku. Sampai-sampai sang kyai geram kepadaku karena ketidak fokusanku dalam mengaji.
“Kamu sudah mondok lama di sini tapi kenapa ketika saya suruh baca saja malah banyak yang salah, seharusnya kamu bisa,maka dari itu sebelum mengaji dengan saya kamu harus membacanya terlebih daluhu agar tau mana yang benar dan mana yang keliru, kamu yang serius ngajinya, jangan memikirkan hal lain, saat kamu berada ditempat mencari ilmu maka sibukkan dirimu untuk menuntut ilmu.” Nasihat sang kyai kepadaku dengan lembut namun tegas. Tapi, aku tahu dalam nasihat itu tersirat sebuah perintah kepadaku agar serius mencari ilmu.
Seiring berjalannya waktu aku melupakan nasihat sang kyai, akupun terlena dalam perasaan kepada lelaki itu, hingga kedekatanku dengannya diketahui oleh beberapa orang terutama teman kamarku. Akupun menjadi sering berkomunikasi denganya dan sengaja bertanya-tanya tentang organisasi walau sebenarnya sudah tau jawabannya, semua kulakukan agar aku tetap bisa dekat. Kemudian, suatu ketika aku mengirimkan pesan kepadanya yang dalam pesan tersebut sangat jelas bahwa aku menyukainya, dan dia pun sadar dengan apa yang ku sampaikan pada dirinya. Sampai dia menjawab:
“Kamu tahu? seandainya saja kita ada hubunganpun aku tidak mau sedekat ini, aku tidak mau orang-orang salah paham pada kita dan malah menimbulkan fitnah, bukankah kita sekedar teman? Jadi tolong jangan melibatkan perasaan, mungkin ucapanku menyakitkanmu tapi ini adalah yang terbaik buat kamu”. Pesan itu membuat diriku langsung bungkam dan mencerna pesannya, cukup lama aku terdiam hingga merasa bingung harus membalas seperti apa.
“emm baiklah, setelah ini aku nggak akan ganggu kamu lagi dan maaf kalau membuatmu nggak nyaman” balasku, tersirat rasa kecewa, tapi atas hal apa? Yang diungkapkannya melalui pesan memang benar, pada dasarnya hanya aku yang menyukainya dan tidak ada timbal balik atas semua ini.
Kejadian itu teringat jelas di otakku, akupun tergugu sambil menunduk ke sajadah. Akhirnya aku sadar bahwa caraku dalam menyukainya sejak awal sudah salah, pandanganku semakin menunduk ke sajadah menenggelamkan wajahku pada kedua telapak tangan rasanya sangat malu pada diri sendiri, sebuah kehormatan perempuan yang seharusnya dijaga justru hilang oleh diri sendiri hanya karena sebuah perasaan.
Namun dibalik ini semua aku bersyukur kepada Allah, betapa baiknya Allah mengingatkan hambanya yang salah.
“Ya Allah, Engkau lebih tahu dengan yang ku rasakan saat ini” ucapku dengan sangat lirih yang terdengar samar oleh pendengaranku.
Kemudian tanganku menengadah aku panjatkan doa meminta ampunan dan harapan-harapan indah lagi yang sering kali aku ulang dalam setiap salat, air mataku kembali luruh rasanya sulit untuk membendungnya membiarkan jatuh begitu saja, lalu ku lirik temanku yang masih pulas dan tampak tenang, aku meraih jam alarm yang berada didekatku melihatnya sekilas yang ternyata menunjukan pukul 03.35 masih satu jam menuju jamaah subuh, pikirku.
Lalu aku mencoba membaringkan tubuh diatas sajadah masih dengan mukena yang melekat pada tubuhku, sedikit meringkuk mencari kehangatan dibalik mukena hingga rasa kantuk mulai menyerang, sesekali aku menguap dan mataku mulai terasa berat kembali sampai akhirnya aku terlelap.
***
Keesokan harinya, aku menatap diriku sendiri dalam pantulan cermin, mata sembab sisa menangis tadi malam masih terlihat dan kantung mata terlihat samar, lalu kupoleskan sedikit bedak untuk menutupinya.
“Tadi malam kamu kenapa? Aku dengar kamu nangis tapi aku tetap lanjut tidur” ucap temanku diakhiri dengan cengiran, aku melihatnya dari pantulan cermin dan kubalas dengan gelengan kecil lalu tersenyum samar.
“Kamu kalo lagi ada masalah jangan sungkan buat cerita, jangan dipendam sendiri, aku liat-liat mata kamu sering sembab, kenapa?” Aku diam tak berniat membalas ucapan temanku.
“Atau jangan-jangan kamu nangisin cowo ya?” celetuknya berhasil membuatku terkekeh, aku menggeleng pelan , “ enggak mira” jawabku yang jelas aku berbohong namun enggan memberi tahu.
Kemudian aku beralih menuju rak mengambil buku besar yang akan dikaji di kuliah, setelah semua siap aku dan temanku berangkat dengan jalan kaki menuju gedung yang jaraknya tidak jauh dari pesantren yang kutempati. Langkahku mulai memasuki wilayah area kampus yang mulai ramai berdatangan mahasiswa, namun secara tidak sengaja aku dan temanku melihat lelaki itu dari kejauhan yang berlawanan arah denganku, temanku yang mengenali lelaki itu langsung menyenggolku dan memberi kodean kepadaku.
“aku udah liat” ucapku berbisik dan dibalas dengan ber-oh saja. tetapi, tidak berhenti bertingkah menggodaku membuatku gemas akhirnya merasakan cubitanku, saat aku berpapasan dengannya dan pandangan kamipun bertemu yang berlangsung beberapa detik, namun aku langsung mengalihkan pandanganku. Pesannya masih teringat di otakku, dan kuputuskan setelah keikutsertaan diriku dalam organisasi tidak akan melakukan hal seperti itu lagi.
***
Hari mulai petang, mentari yang bersinar kini kian terbenam di ufuk barat, tidak berlansung lama adzan maghrib berkumandang yang terdengar begitu syahdu membuat dirku berhenti sejenak dalam membaca Al-Quran. Dan tak lupa membaca doa, “مرحبا بالقائلين عدلا وبالصلاة مرحبا وسهلا” doa andalanku ketika mendengar adzan.
Selesainya adzan aku kembali melanjutkan membaca al-quran sambil menunggu bel jamaah, tanpa sengaja menemukan satu ayat yang memiliki makna begitu indah dan membuatku tersentuh.
“الخَبِيْثَتُ لِلخَبِيثِينَ والخَبيثُونَ لِلخَبيثَتِ والطيّبتِ لِلطّيِّبِينَ والطيّبُونَ للطّيِّبتِ اولئكَ مُبرَّءُونَ مِمَّا يَقوْلُونَ لهم مَّغفِرَةٌ وَّرزقٌ كريمٌ”
Q.S An-nur ayat 26.
Artinya:perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik pula. Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia.
Aku terdiam mencerna arti tersebut hingga tak sadar air mataku terjatuh mengenai mushaf yang kupegang, kutarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri dan menghapus bekas air mata dengan jemariku. Hingga bel berjamaah berbunyi nyaring akupun bergegas menuju aula utama.
Bersambung.
***
Pesan yang dikutip dari cerpen tersebut yaitu jadilah pribadi yang lebih baik dalam menuntut ilmu jangan sia-siakan masa muda kita, terkadang sesuatu yang kita lihat baik itu belum tentu baik untuk kita dan salah satu pesan guruku dalam cerpen tersebut memang kuambil sedikit dari kisahku.