Di Balik Sajadah “AKU MENYULAM NEGERI”

0

Oleh: Annisa Kholifatur Rosyidah

MA Unggulan K.H. Abd. Wahab Hasbulloh Bahrul Ulum Tambkberas Jombang (MAUWH)

 

          Malam di pesantren selalu punya caranya sendiri untuk berbicara sunyi berarti bukan kosong. Di sela-sela detik yg merambat, terdengar suara jangkrik yang saling bersahutan. Derik pintu kayu tua yang tertiup angin dan langkah-langkah pelan santri yang baru saja kembali dari kamar mandi membawa ember berisi baju hasil cucian dan gayung yang penuh dengan peralatan mandi khasnya anak laki-laki. Lampu neon mushala yang berkelap-kelip, kadang terang, kadang temaram. Seolah-olah ikut bertasbih bersama para santri yg tenggelam dalam doa, aku duduk di balik sajadah dan menatap Al-Qur’an didepanku yang telah usai ku baca lengkap dengan meja untuk meletakkannya. Di sampingnya, terletak buku catatan kecil yang sudah lusuh oleh banyaknya noda cokelat di tiap lembarannya. Catatan itu berisi renungan doa-doa pendek maupun panjang, sejak pertama kali aku masuk ke pesantren ini. Dengan tangan bergetar, aku menuliskan doa dan harapan kecil melalui tinta penaku.

 “Ya Allah, jadikan langkah kecilku berarti bagi negeri ini. Meski aku hanya santri biasa, izinkan benang kecilku menyulam kain besar bernama Indonesia.”

Pena berhenti, dadaku terasa sesak merasakan resah yang tak kunjung usai sejak sore tadi. Sepulang dari mushala dan pergi menuju kantor kepesantrenan untuk sekadar mendengar berita, namun apalah daya, bukan seperti yang aku harapkan. Berita yang kudengar dari sebuah radio kecil yang cukup usang hanya menyampaikan berita tentang fitnah yang menyebar di media sosial, perpecahan antar warga hanya karena berita palsu, anak muda yang hanya sibuk berdebat tanpa arah, dan pejabat yang lupa janji akan awal pengabdiannya pada negara. Kini seakan rapuh meski diatas kertas tampak gagah.

Aku menutup catatanku dan menunduk.

“Apa yang bisa dilakukan oleh seorang santri sepertiku, bukan orang kaya, pemimpin yg memiliki wewenang, ataupun tokoh terkenal yang dapat memberi motivasi besar bagi pendengarnya, bagaimana bisa orang sepertiku mampu menyulam negeri yang kini kian merapuh?”  

 Kemudian aku teringat akan pesan dari Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari yang terdapat dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim:

“Siapa yang menuntut ilmu dengan ikhlas, maka setiap langkahnya adalah ibadah”

Pernyataan itu menyeretku jauh ke belakang, kali pertama aku menjejakkan kaki di pesantren ini. Aku lahir dan dibesarkan di sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Ayahku seorang buruh tani dan ibuku seorang penjual sayur di pasar. Hidup kami begitu sederhana tetapi doa selalu ada di setiap langkah kami. Suatu hari, Ayah pernah berkata

“Nak, kalau kami tidak bisa mewariskan harta, maka warisilah doa dan ilmu kepadamu” 

Waktu lulus sekolah dasar, ayah memutuskan untuk memondokkanku. Membuat rasa takut mulai bergelimang di penjuru otakku. Membayangkan betapa asingnya di sebuah pesantren yang sama sekali belum pernah kujejaki. tembok tinggi yang menjulang, ketatnya peraturan, dan kehidupan tanpa keluarga. Aku menangis di malam terakhirku sebelum keberangkatan, dalam dekapan dan pelukan ibu isak tangisku, tak terkendali. 

“Bu, aku takut gak betah, aku gak mau jauh dari rumah” mintaku sambil memohon supaya tetap di rumah.

“Nak, justru di pesantren kau dapat menemukan rumah yang lebih luas, keluarga baru yang penuh kasih sayang dan suasana yang selalu diisi dengan lantunan doa, mengaji, dan menimba ilmu” jelas Ibu dengan penuh keyakinan..

Ibuku hanya tersenyum walau matanya basah. Aku memeluk erat sambil berusaha menerima segala situasi. 

Keesokan harinya, aku tiba di pesantren bersama ayah, dengan menaiki bus sebagai penunjangnya. Pintu gerbang yang sangat sederhana terbuat dari besi dengan catnya yang sudah mulai mengelupas, menggambarkan kondisi dalamnya yang juga sederhana. Namun, di balik pagar kulihat ratusan santri lengkap dengan sarung dan pecinya, sebagian membawa Al-Qur’an, mengangkut ember dan sebagian lagi sedang duduk membaca buku. Aku merasa seperti titik kecil yang sedang berada di tengah samudra yang luas. Sampai di sebuah rumah yang letaknya sekitar 3 meter dari gerbang dengan nuansa yang penuh dengan lukisan kiai terdahulu dan potongan kaligrafi surat dan doa. Saat bersalaman dengan kiai tanganku bergetar. Suaraku nyaris hilang saat menjawab salam beliau. Beliau menatapku penuh makna lalu berkata pelan, 

 

 “Nak, jangan takut di sini kau akan belajar bukan hanya ilmu yang kau pahami melainkan juga arti hidup yang sebenarnya, ingat doa dan ilmu santri adalah sulaman kecil yang akan membuat kain besar penopang Indonesia” nasihat beliau sarat makna.

Aku yg tak mengerti apa arti dari semua itu, hanya diam dan mengangguk perlahan. Bagiku kata – kata beliau begitu indah namun sulit dimengerti bagi seorang anak yang baru lulus dari sekolah dasar.

Hari-hariku di pesantren penuh suka dan duka. Bangun sebelum subuh, salat Tahajud, mandi, mengaji, sekolah formal, lalu kembali mengaji di sore hari. Seperti biasanya waktu malam hari saat mengaji, aku selalu tertidur di atas kitab karena lelah. Pernah suatu ketika aku dimarahi ustaz, karena terlalu sering ketiduran saat mengaji berlangsung. Alhasil, sering kali aku disuruh menyalin ratusan nazam sebagai hukuman. Tapi aku yakin, di balik semua itu ada kebahagiaan dan hikmah yang hingga kini tak pernah kulupakan. Suatu malam setelah menyalin nazam aku kembali menatap sajadah dan catatan kecilku, semua kenangan dari masa awalku merakit kisah di pesantren kini hanya terasa seperti benang yang belum teranyam “aku bertanya-tanya apakah benang-benang itu mampu merakit kembali negeri yang hampir koyak ini?”

Kehidupan di pesantren berjalan seperti layaknya roda berputar, setiap pagi buta kak Fajar seorang pengurus baru saja membunyikan lonceng tua yang berdentang keras di depan musala membuat kami para santri mulai berhamburan berebutan kamar mandi untuk mengambil air wudu dan melaksanakan salat subuh berjamaah. Aku termasuk sebagian yang sering terlambat dan menjadi langganan hukuman membersihkan halaman musala sebelum subuh, namun di balik semua kelelahan itu ada kehangatan yang sulit kutemukan di luar area pesantren. Kami pernah makan bersama dalam satu nampan, kami belajar menghafal kitab Tarqib, belajar tiap bait kitab Kuning, bahkan ketika salah satu dari kami ada yang sakit dengan sigap bergantian berjaga. Ada momen yang selalu ku ingat, ketika kami duduk melingakar saling bertukar cerita akan impian dan cita-cita. Masih teringat jelas mereka mengatakan ingin menjadi guru mengaji, polisi, dokter, pengusaha sukses dan lebih hebatnya lagi ada yang ingin menjadi astronot karena cintanya yang begitu besar pada luar angkasa.

Ketika mereka menanyakan mimpiku, aku hanya terdiam sejenak. 

 “Aku…. hanya ingin jadi orang yang bermanfaat untuk negara dan tidak hanya itu melainkan juga ingin meneruskan ilmu yang kumiliki agar tidak berhenti di aku “ jawabku sangat lirih

Teman-teman mengangguk dan tersenyum,  mungkin terlihat sederhana namun bagiku mimpi itu cukup berat untuk kujalani seorang diri. Bagiku kain besar tak kan pernah ada tanpa benang-benang kecil yang teruntai, sama halnya seperti mimpiku. 

Namun, seiring berjalannya waktu aku sekarang lebih sering mendengar kabar dari luar pesantren yang mrmbuat hati ini gundah bukan kepalang. Dari koran bekas yang kukumpulkan tak hanya berselang 1 atau 2 hari melainkan setiap hari berita dengan topik yang sama selalu beredar, selain itu juga cerita dari wali santri tentang negeri ini yang seakan tak akan berhenti diterpa masalah. Ada berita tentang anak muda saling melakukan perundungan , banyak pernikahan anak usia dini, anak perempuan di bawah umur yg mendapat perlakuan semena-mena, kisah korupsi para pejabat yang tak ada hentinya, aksi unjuk rasa anarkis membuat ratusan nyawa melayang yang berujung merusak fasilitas dan lingkungan yang pada kodratnya tidak bersalah dan bersangkutan. Penjarahan tak terkendali….ya Allah, ngilu rasanya.

Malam hari, aku bersujud di sajadahku, pikiran semakin berat oleh pertanyaan dan pencarian solusi yang dapat memperbaiki negeri tercinta ini, 

“untuk apa aku belajar kitab ratusan lembar kuhafalkan kalau di luar sana kebohongan dan pedihnya perlakuan antara sesama manusia sangat merajalela?”gumamku lirih.

“apakah doa-doa yang kupanjatkan ini benar-benar sampai pada langit atau hanya berhenti di atap musala yang kian merapuh juga ?” tanyaku dengan sejuta pengharapan

Keraguan membuatku murung dan mempengaruhi belajar di kelas dan mengaji. Ustaz mulai memperhatikan perubahanku akhir-akhir ini, tidak memiliki semangat seperti dulu. Mengamati wajah murungku yang tak hentinya melamun. Hingga suatu malam, aku memberanikan diri menemui kiai setelah selesai pengajian rutin malam. Beliau duduk di beranda rumahnya ditemani secangkir kopi hangat yang baru saja terminum setelah disajikan.. Aroma melati khas dari pekarangan taman tepat di sisi kanan dan kiri rumah beliau menyebar dengan lembut. Kemudian, aku bersimpuh di hadapannya menunduk dalam 

“Kyai….” Suaraku bergetar 

“apakah benar doa santri bisa mengubah negeri?, aku merasa kecil, aku berdoa aku belajar tapi kejahatan serta kerusakan  di luar sana masih terjadi begitu saja, apa arti semua ini?” tanyaku penuh keputusasaan.

Kiai tersenyum hangat. Keriput di wajahnya semakin jelas, ketika cahaya lampu tampak menerangi, beliau menatapku begitu lama dan sangat dalam seolah-olah bola mataku sedang menggambarkan bagaimana keadaan negeri ini sekarang, lalu berkata pelan tapi tetap tegas “Nak jangan pernah meremehkan doa-doa itu, seperti benang halus kau tak mungkin bisa melihatnya sekarang namun benang itu sedang menyulam kain besar yang kelak akan membawa mu berkelana, memperbaiki semua kerusakan itu, ilmu yang kau pelajari juga begitu kelak akan menjadi bekal dan tenaga dalam menyebarkan pentingnya menjaga bukan lagi merusak. Jangan ukur dirimu dari apa yang kamu lihat tapi ukurlah dirimu denga apa yang bisa kau wariskan kelak” jawab beliau penuh kelembutan.

Aku terdiam berusaha mencerna kalimat itu pelan-pelan, kiai melanjutkan

 “ Negeri ini besar penuh warna ia seperti kain baik ada benang yang merah ada yang biru dan ada yang putih kau hanya salah satu dari benang kecil itu. Tugasmu sederhana jangan berhenti menyulam kelak benangmu akan semakin panjang dan menjadi penopang kerusakan ini “tutur beliau, nasihat beliau yang begitu bermakna.

Aku menunduk dan meneteskan air mata tanpa kusadari nasihat kiai menembus hatiku, memberiku sedikit kekuatan. Namun, jauh di lubuk hati paling dalam aku masih bertanya “bagaimana caranya menyulam negeri jika kau hanyalah seorang santri biasa ?”

Ya Allah…..hatiku bergejolak.

Pagi itu, ketika sedang menyapu aku tak sengaja melihat pengumuman di papan mading yang terbuat dari kayu terletak di sebalah aula musala. Tulisannya jelas “PROGRAM PENGABDIAN SANTRI DESA TERPENCIL” entah apa yang kurasakan sekarang, namun aku menatap lekat-lekat tulisan itu seperti diperuntukkan untukku. Sebagai jawaban dari Tuhan atas doa-doaku kah?. Dadaku berdebar, jantungku tak lagi berdetak semestinya seperti ada aliran kuat yang mendorongku untuk menuruti panggilan ini, tapi di sisi lain keraguan besar mulai muncul membuat hati ini juga terasa bimbang. Aku memantapkan diri untuk mengikuti program ini.

Hari keberangkatan tiba lebih cepat dari yang kuperkirakan. Tas ransel sederhana berwarna abu tua berisikan beberapa potong kaos dan baju koko, kitab tipis dan sajadah serta tak lupa catatan kecil usang yang selalu menemani tiap detik perjalananku. Teman-teman kamar menyalamiku erat, tetapi sebagian bercanda agar aku tidak cepat pulang. Sebagian lagi, menatapku memberikan harapan karena tak semua bisa mendapat kesempatan ini, sebelum benar benar pergi aku menyempatkan diri untuk menghampiri kiai yang juga menyaksikan keberangkatanku dari serambi rumahnya. beliau hanya berkata singkat 

“jangan takut salah nak, kau pergi bukan untuk jadi orang besar melainkan untuk belajar menjadi benang kecil yang bermanfaat, ingat niatmu menentukan segalanya” nasihat Beliau,

Aku mengangguk lalu mencium tanganya dengan penuh haru.

Perjalanan menuju desa pengabdian butuh waktu hampir setengah hari aku menaiki bus tua yang kursinya reyot,  lalu disambung dengan ojek motor melewati jalan bebatuan. Udara semakin sejuk sawah dan hutan bergantian menyambut kedatanganku. Di kanan kiri jalan aku merasa seperti masuk ke dunia yang asing. Ketika sampai, beberapa anak kecil berlarian sambil berteriak 

“santri datang! Santri datang!” suara anak kecil yang begitu nyaring.

Aku tersenyum kikuk tak tahu harus harus membalas dengan cara apa, warga menyambut dengan ramah, meski sebagian wajah tampak ragu. Mungkin mereka bertanya-tanya, apa bisa anak muda sederhana yang hanya seorang santri  dari desa seberang mampu memberi sesuatu untuk desa mereka? 

Aku ditempatkan di rumah Pak Lurah,  kamar yang aku tempati jauh lebih sempit ukurannya dibandingkan kamar di pondok. Dindingnya terbuat dari kayu, namun masih layak ditempati. Malam pertama aku tidur ditemani suara jangkrik dan lolongan anjing hutan. Aku merindukan suara kentongan pesantren dan candaan teman sekamar. Namun, esok paginya tugasku sudah menunggu. Anak desa berkumpul di surau kecil, mereka duduk bersila sebagian membawa papan tulis kecil dan buku lusuh. Matanya berbinar seolah menunggu sesuatu yang besar dariku. Pelajaran pertama belajar huruf Hijaiyah sederhana, suaraku gugup tapi mereka mengikuti dengan antusias. Setelah itu,  mengenalkan bacaan doa-doa pendek, menulis latin, dan berhitung layaknya sekolah formal. Aku mulai mengenal mereka satu per satu, ada Rina anak perempuan yang selalu datang paling awal meski harus berjalan jauh dari lading, ada Budi bocah yang nakal tapi cepat tanggap ketika diajari menulis dan berhitung, serta ada Raka pemalu tapi rajin menyalin dan menghafalkannya ayat Al-Qur’an. 

Suatu sore aku mendengar beberapa warga berkata

 “Santri ini apa bisa ? jangan-janagan hanya numpang makan katanya mau ajari literasi tanpa mereka mengerti kehidupan desa? “ ucapnya dengan penuh kecurigaan. 

Perkataan itu menusuk hatiku, aku ingin marah tapi aku tahu keraguan mereka wajar. Aku orang luar, memang butuh waktu untuk membuktikan bahwa bukan sekadar tamu yang datang sebentar lalu pergi, melainkan memang berniat Lillahita’ala karena Allah. Untuk negeri tercinta.

Tantangan semakin berat, ketika aku menyadari betapa derasnya arus berita palsu masuk ke desa ini. Warga sering mendapat pesan berantai dari ponsel murah mereka. kabar tentang bencana, fitnah terhadap tokoh tertentu bahkan berita yang membuat mereka saling curiga. aku berusaha menjelaskan 

“kita harus cek dulu, pak bu tidak semua yang di ponsel itu benar” Aku menjelaskan dengan penuh semangat.

Namun, mereka hanya mengganguk tanpa yakin 

“ah, santri muda apa tahu ? itu berita dari orang kota pasti benar” ucap sebagian mereka penuh provokasi.

Suasana makin memanas, mereka meninggalkanku penuh acuh. 

Malam itu aku pulang ke kamar dengan berat hati,  kemudian sujud di atas sajadah 

“Ya Allah “ bisikku 

“ternyata menyulam negeri tidak semudah membalikan telapak tangan, benangku terasa terlalu tipis, aku takut putus di tengah jalan” doaku penuh pengaduan.

Tak terasa air mata menetes. Aku teringat wajah kiai, suara lembutnya ketika berkata bahwa setiap benang punya tempatnya sendiri. Aku mencoba menguatkan hati memang tidak bisa langsung mengubah semuanya, tapi setidaknya bisa menenun harapan lewat anak-anak yang setiap hari menatapku dengan kesabaran. 

Aku membuat papan tulis dari kayu bekas, menulis dengan kapur seadanya, aku ajarkan anak-anak cara membaca berita dengan hati-hati untuk membedakan mana fakta dan mana kabar bohong. 

“kalau ada berita yang bikin takut, jangan langsung percaya coba tanya dulu benar tidaknya” kataku sambil menggambarkan gambar sederhana di papan tulis, mereka mengangguk. Rina bahkan berkata:

“kalau ada berita aneh aku mau tanya ke ustaz dulu” celetuknya dengan santai.

Aku tersenyum, mungkin inilah sulaman kecil?…

Malam itu aku menulis lagi di catatanku 

“menyulam negeri ternyata bukan perkara besar, dimulai dari suara anak-anak membaca doa dengan lantang, dari senyum mereka ketika berhasil menulis huruf dengan benar, dari keyakinan mereka bahwa kebaikan lebih kuat dari kebohongan.  Benangku tipis tapi aku yakin ia tetap punya arti “Aku menutup buku itu dengan hati bergetar, percaya benang kecilku sedang menyulam sesuatu yang lebih luas dari yang bisa kulihat.

Saat musim hujan tiba langit desa sering muram, jalanan becek, dan anak-anak kadang tidak bisa datang belajar karena harus membantu orang tua di sawah. Meski begitu, semangat mereka  tidak padam. Aku begitu kaget melihat Rina dan Budi datang dengan tubuh basah kuyup membawa buku yg sudah hampir lepek.

 “ustaz….” panggil mereka

 “hari ini kita tetap mau belajar” ucap mereka penuh semangat.

Aku terdiam, tenggorokanku tercekat, mata panas mulai berkaca-kaca. Aku teringat lagi kaliamt kiai “jangan berhenti menyulam “ ternyata meski tanpa sehelai benang, aku mampu menenun tekad kecil dalam hati anak-anak ini.

“semoga Allah memudahkan, menjadikan kalian anak-anak sukses dunia akhirat” doaku sambil mengusap kepala mereka yang basah kuyup.

Suatu malam, kabar hoaks beredar konon desa sebelah terkena bencana karena tidak mengikuti ritual tertentu. Warga panik bukan kepalang, sebagian percaya dan ingin melakukan ritual. Suasana semakin mencekam, kemudian aku memberanikan diri bicara di balai desa. Suara gemetar tapi aku mencoba tenang sebelum berdiri aku teringat dawuh K.H Wahab Hasbulloh “santri harus jadi pelopor perjuangan bukan pengekor kebodohan” petuah ini seperti bara yang menguatkan langkahku, seperti halnya beliau menyemangati santrinya untuk menjadi penggerak dalam masyarakat dan berdakwah. 

“bapak ibu jangan percaya  begitu saja, saya sudah mencari berita dari sumber resmi itu tidak benar. kalau kita mudah percaya kita bisa di adu domba “ ucapku dengan tegas.

beberapa warga sempat marah menuduhku sok pintar. 

“santri ini benar jangan mudah terpengaruh, kita saat ini sedang dipermainkan jangan sampai bisa menimbulkan perpecahan “ penegasan Pak Lurah.

Sejak malam itu, warga mulai berhati-hati menerima berita tidak semuanya berubah sekaligus tapi setidaknya mereka punya pemahaman baru.

 Tiga bulan pengabdian terasa seperti sekejap, mereka mulai menerimaku. Saat malam terakhir di desa warga mengadakan doa bersama di surau, anak-anak yang dulu tak bisa membaca kini sudah mampu membaca, melafalkan doa dengan lancar, dan bisa menulis namanaya sendiri. Selesai acara Rina menghampiriku dengam mata berkaca kaca

 “ ustaz  jangan pulang kalau pulang siapa yang ajari kami?” ucapnya sambal berlinang air mata

Aku terdiam membelai kepalanya pelan. 

“Rina aku memang harus pulang, tapi kalian jangan berhenti belajar ilmu itu tidak boleh berhenti di satu orang saja kalian harus teruskan” jawabku menahan kesedihan.

Air matanya jatuh membuat dadaku sesak, aku tahu perpisahan adalah bagian dari perjalanan.

Malam itu, aku duduk di atas sajadah di kamar kecilku. Sajadah yang sama yang menemaniku sejak di pesantren. Aku teringat lagi dawuh Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari detik-detik menjelang Resolusi Jihad 22 Oktober 1945.

“Cinta tanah air adalah sebagian dari iman.”

Aku membuka catatan harian dan menuliskan kalimat terakhir sebelum tidur:

“Di balik sajadah, aku menyulam negeri. Benangku mungkin terlalu tipis untuk dilihat. Tapi ketika aku melihat anak-anak membaca doa dengan suara lantang, warga desa mulai lebih hati-hati menghadapi kabar bohong, aku tahu benang itu telah menempel pada kain besar bernama Indonesia, semoga Allah menjahitkanya bersama benang-benang lain agar kain ini tak pernah koyak” air mataku jatuh tapi kali ini bukan karena resah melainkan syukur.

Keesokan harinya, ketika berjalan meninggalkan desa suara anak-anak terdengar memanggil namaku. Mereka melambaikan tangan dengan senyum tulus. Aku tahu sulaman kecilku akan tetap tinggal di sini, meski tubuhku pergi. Aku pulang ke pesantren dengan hati yang berbeda dari saat kali pertama berangkat. Kini aku paham benar maksud kiai

“ Doa dan ilmu santri memang sulaman yang kecil, tapi tanpa sulaman kecil itu negeri ini akan kehilangan kekuatannya”.

Sejak hari itu setiap kali duduk di atas sajadah, aku tidak lagi merasa resah. Yakin, sekalipun hanya santri sederhana. Aku telah ikut menenun negeri ini dengan benang doa dan pengabdian.

Leave A Reply

Your email address will not be published.