RISALAH NU ONLINE, BANGKALAN – Kilas balik sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) kembali dihidupkan melalui rangkaian perjalanan spiritual. Ritual napak tilas yang mengulang jejak pemberian restu pendirian jam’iyah itu dimulai dari Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil di Bangkalan, Madura, pada Ahad (4/1/2026).
Kegiatan ini menegaskan kembali posisi sentral Pesantren Syaichona Moh. Cholil sebagai lokus sejarah yang tak terpisahkan dari kelahiran organisasi Islam terbesar di Indonesia. Ketua Umum Ponpes Syaichona Moh. Cholil Bangkalan, RKH Muhammad Nasih Aschal, menekankan bahwa napak tilas ini adalah penelusuran kembali perjalanan bersejarah yang dilakukan oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin atas perintah gurunya.
“Syaikhona Muhammad Khalil sang pemberi restu atas lahirnya jamiyah ini atas perintah yang diberikannya kepada santri beliau Kiai As’ad Syamsul Arifin berjalan dari Bangkalan menuju Pondok Pesantren Tebuireng. Hari ini kita ingin mengulang sejarah itu,” tutur Kiai Nasih.
Lebih dari sekadar mengenang romantisme masa lalu, kegiatan ini dimaknai sebagai ikhtiar untuk menghidupkan esensi dan nilai-nilai yang melandasi berdirinya NU.
“Hari ini kita bersama-sama ingin menceritakan kembali bagaimana pendirian Jamiyah Nahdlatul Ulama tidak hanya lahir melalui cerita-cerita tongkat, tasbih. Tetapi di dalamnya terkandung berbagai makna, di dalamnya terkandung berbagai hikmah,” ujar cicit Syaikhona Muhammad Khalil itu.
Kiai Nasih juga mendudukkan peran Syaikhona Muhammad Khalil bukan hanya sebagai inspirator, tetapi sebagai sumber semangat yang abadi bagi generasi penerus.
“Syaikhona Muhammad Khalil bagi kami bukan hanya sekedar sosok inspirator dalam pendirian jamiah terbesar ini. Tetapi kami memaknai bahwa Syikhana Muhammad Khalil dengan kedalaman ilmunya, Syaikhona Muhammad Khalil dengan luasnya pengetahuan. Syaikhona Muhammad Khalil dengan pemikiran-pemikiran besarnya. Pada akhirnya mendudukkan beliau bukan hanya sekedar pahlawan nasional tetapi beliaulah yang akan terus menjadi penyemangat bagi kita semua untuk ikut andil di dalam mendidik umat, untuk ikut andil di dalam menjaga umat,” lanjutnya.
Ia menjelaskan bahwa isyarah tongkat dan tasbih yang legendaris itu bermula dari proses istikharah, berlanjut menjadi isyarah, dan mencapai puncaknya sebagai bisyarah atau kabar gembira bagi umat.
“Istikharah ini adalah sebuah proses di mana Syaikhona Muhammad Khalil ingin menyampaikan pesan penting tentang bagaimana pentingnya menjaga umat ini. Isyarah ini juga menjadi pesan yang sangat kuat kepada seluruh umat, terutama kepada seluruh Nahdliyin Nahdliyat NU. Bahwa Nahdatul Ulama apapun keadaannya, apapun kondisinya akan senantiasa mendapatkan aliran doa dari para masyaikh, para wali-wali Allah termasuk Syaikhona Muhammad Khalil. Ya Jabbar, Ya Qahar. Ini adalah doa yang akan selalu dibaca oleh seluruh umat,” kata Kiai Nasih.
Pesan mendalam juga terkandung dalam maqolah Syaikhona Khalil, *al-‘ashā liman ‘aṣā*, yang menunjukkan bahwa tongkat juga bisa berfungsi bagi siapa saja yang tidak mengikuti tuntunan para ulama.
“Saya kira ini juga menjadi pesan kuat bagi kita semua untuk hari ini,” ujarnya.
Kiai Nasih pun meluruskan makna sejati dari bisyarah, yang menurutnya adalah jaminan keselamatan hidup di dunia dan akhirat.
“Lebih dari itu, bisyarah sebenarnya adalah kabar gembira ketika kita ikut para masyaikh, ketika kita ikut Kiai Hasyim Asy’ari, ketika kita ikut Syaikhona Muhammad Khalil dan seluruh pendiri Nahdatul Ulama, hidup kita akan terselamatkan. Hidup kita akan menjadi sa’idun fid-dunya wa sa’idun fil akhirah,” tuturnya.
“Sekali lagi kami hanya ingin melihat bahwa perahu besar ini akan semakin kuat ke depan. Kami hanya ingin melihat siapapun yang menahkodai kapal besar ini akan mengantarkan umat ini menuju tujuan terselamatkannya. semua umat. Amin,” pungkasnya.
Rangkaian acara dibuka dengan prosesi simbolis penyerahan replika tongkat dan tasbih bersejarah dari Pengasuh Ponpes Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan, RKH Fakhruddin Aschal, kepada KHR Achmad Azaim Ibrahimi dari Ponpes Sukorejo, Situbondo, untuk kemudian diantarkan ke Ponpes Tebuireng, Jombang, dan diterima oleh KH Abdul Hakim.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf secara langsung melepas rombongan napak tilas dengan doa.
“Bijahi Sayidina Rasulillah Muhammadin sallallahu ‘alaihi wasallam. Berkati Sayidina Syekh Kiai Muhammad Khalil bin Abdul Latif Al Bangkalan. Berkati jamii muasisi jamiyati Nahdlatil Ulama. Bismillahirrahmanirrahim. Ya Allah, Allahumma sholli ala Muhammad,” ucapnya.
Ekalavya