RISALAH NU ONLINE, JAKARTA — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Khatmil Qur’an dan Istighotsah dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke-103.
Acara tersebut menjadi momentum spiritual bagi keluarga besar NU untuk memanjatkan doa bersama, memohon kemudahan dari Allah SWT bagi seluruh ikhtiar jam’iyyah dalam mewujudkan kemaslahatan umat, khususnya dalam kepemimpinan Nahdlatul Ulama.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dalam kalimat attasyakur Harlah NU ke-103 menegaskan pentingnya meneruskan silsilah barokah yang telah diwariskan para pendahulu NU.q
“Meneruskan silsilah barokah dari jam’iyyah NU sebagai amal shalih para pendahulu kita, yang barokahnya masih kita terima secara nyata hingga hari ini. Amanah silsilah barokah ini harus terus kita lanjutkan kepada generasi-generasi penerus, bukan hanya untuk Indonesia, tetapi juga bagi segenap kemanusiaan,” ujar Gus Yahya di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (5/1/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Gus Yahya juga menceritakan pelepasan napak tilas perjalanan isyarah Kiai As’ad Syamsul Arifin yang membawa tongkat dan tasbih serta pesan isyarah Syaikhona Kholil Bangkalan kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang. Ritual napak tilas yang mengulang jejak pemberian restu pendirian jam’iyah itu dimulai dari Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil di Bangkalan, Madura, pada Ahad (4/1/2026).
Perjalanan napak tilas itu dilakukan dengan berbagai moda transportasi, mulai dari berjalan kaki, perahu, hingga kereta api. Rute dimulai dari Bangkalan pada pukul 06.00 WIB dan tiba di Jombang sekitar pukul 20.00 WIB. Prosesi tersebut dipimpin oleh Kiai Azaim Ibrahimy.
Gus Yahya menyampaikan salah satu isyarah penting yang disampaikan dalam napak tilas tersebut adalah pesan keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan.
“Menghadapi tantangan apa pun, jangan geser dan jangan gentar. Tetap berada di jalan, dan perbanyak dzikir kepada Allah. Semoga kita dijadikan orang-orang yang berjaya,” tuturnya.
(Anisa)