Lembaga Dakwah PBNU Buka Kick Off Pelatihan Dai Go Global 2026

0

RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) secara resmi membuka Kick Off Pelatihan Dai Go Global 2026, program yang telah berjalan selama kurang lebih empat tahun belakangan. Pelatihan Dai Go Global pada hakikatnya menitikberatkan pada penguatan kapasitas para dai dalam pengelolaan konten dan media dakwah global.

Dalam pengantarnya, Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU, KH. Nurul Badruttamam menegaskan bahwa LD PBNU telah dipercaya oleh masyarakat muslim global untuk mengirimkan para dai yang berpaham ahlussunnah wal jamaah al-Nahdliyah ke negara-negara seperti Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Hongkong, Timor Leste, Australia, Belanda, dan Jerman.

“Karena itu, para dai yang telah terpilih harus All-Out dalam melaksanakan dakwah di negara-negara yang menjadi tujuan,” kata Kiai Nurul melalui Zoom, Senin, (19/01/26).

Sementara itu, alumni Dai Go Global 2025, Kyai Agus Mawardi menyatakan bahwa dakwah di negara-negara di mana kaum muslim menjadi minoritas, tidak cukup hanya bertumpu pada penguasaan materi keagamaan. Lebih dari itu, kemampuan para dai dalam membangun narasi, visual, dan sudut pandang dakwah fikih minoritas harus diperkuat. Ciri khas tersebut meliputi tiga aspek utama, yakni visual, verbal, dan sudut pandang. Dari sisi visual, para dai harus memiliki atribut yang merepresentasikan nilai-nilai Islam moderat dan identitas Nahdlatul Ulama.

Di lain pihak, Kyai Nida Husna Malik, alumni Dai Go Global 2025 yang bertugas di Australia menyinggung bahwa negeri Kangguru digambarkan sebagai ruang dakwah yang menantang sekaligus kaya pelajaran. Menurutnya, sebagai negara dengan tingkat keberagaman budaya dan keyakinan yang tinggi, Islam hadir sebagai agama minoritas yang kebebasan beragamanya dijamin, namun sering ditempatkan sebagai urusan privat. Kondisi itu menuntut pendekatan dakwah yang lebih kontekstual, reflektif, dan berorientasi pada keteladanan, bukan semata ceramah verbal.

Selanjutnya ia menegaskan bahwa dakwah di Australia lebih banyak berlangsung dalam bentuk sederhana dan sunyi, seperti percakapan di ruang publik, interaksi sosial, aktivitas komunitas, hingga keteladanan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Dakwah tidak lagi dipahami sebagai proyek instan, melainkan sebagai proses membangun relasi, kepercayaan, dan makna secara berkelanjutan. Tantangan dakwah di negeri minoritas juga tidak ringan. Islamofobia, kesalahpahaman publik terhadap Islam, kuatnya sekularisme, serta dinamika internal umat menjadi realitas yang harus dihadapi para dai. Namun di balik tantangan tersebut, terbuka peluang dakwah yang luas melalui dialog antaragama, kerja-kerja kemanusiaan, serta pemanfaatan media dan ruang digital.

(Khoiron)

Leave A Reply

Your email address will not be published.