RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) secara resmi telah menginisiasi Gerakan Pesantren Cakap Artificial Intelligence (AI). Peluncuran program ini digelar di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, pada Kamis (22/1/2026) kemarin.
Ketua RMI PBNU, KH Hodri Arief, memaparkan bahwa program pelatihan ini ditargetkan dapat menjangkau 40.000 peserta. Mereka terdiri dari pelajar, tenaga pengajar, dan pengurus NU di berbagai tingkatan. Pelatihan dirancang untuk membekali santri dan guru dengan materi dasar pengenalan AI, agar dapat memanfaatkan teknologi digital untuk memajukan pendidikan.
“Bagi para peserta yang terdaftar akan mendapatkan lisensi microsoft 365 secara gratis dan itu menjadi perangkat yang sangat mendukung dalam kegiatan belajar,” jelas KH Hodri Arief dalam sambutannya.
Ia menekankan bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah cara berpikir, belajar, dan berinteraksi masyarakat, termasuk di lingkungan pesantren. Menanggapi hal ini, Kiai Hodri menyatakan pentingnya tindakan nyata.
“Sikap waspada terhadap kemajuan teknologi informasi ini tidak bisa dibiarkan tetap bertahan sebagai sikap waspada saja, tetapi perlu ada langkah-langkah serius *Al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah* tanpa perlu kehilangan akar tradisi kita,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyoroti tantangan utama dalam menghadapi dunia yang berubah dengan percepatan tinggi.
“Betapa masa depan bagi kita ini semakin menekan, masa depan rasanya menjadi lebih cepat datangnya menekan kita semua untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi,” ujarnya.
Gus Yahya juga mengakui bahwa pesantren kerap menghadapi keterlambatan dalam beradaptasi dengan perubahan zaman, termasuk dalam aspek digitalisasi.
“Pesantren tidak serta merta mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi pada waktu itu. bahkan pada awalnya menolak,” tuturnya. Oleh karena itu, menurutnya, digitalisasi menjadi kunci bagi pesantren untuk menjawab tantangan zaman.
Dukungan juga datang dari sektor swasta. Arief Suseno, Elevate Skills Director Microsoft Indonesia, menyatakan tujuan program ini adalah meningkatkan produktivitas dan menciptakan nilai ekonomi baru.
“Kita ingin memastikan bahwa setiap siap menghadapi era kerja yang semakin kolaboratif antara manusia dan juga AI,” jelasnya.
Arief mengungkapkan, pada tahun sebelumnya, Microsoft telah berhasil melatih lebih dari 1,2 juta orang dalam literasi AI. “Ini adalah pencapaian yang membanggakan dan bukti nyata bahwa bersama-sama kita bisa ciptakan dampak yang besar bagi masyarakat Indonesia,” pungkasnya.
Gerakan Pesantren Cakap AI ini menjadi langkah strategis untuk membentengi ekosistem pendidikan pesantren dengan literasi digital masa depan, sekaligus menjaga kearifan tradisi yang telah mengakar.
(Ekalavya)