Dai Go Global 2026 Harus Menguasai AI, Diplomasi Agama, Ekoteologi, dan Dialog Internasional

0

RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – Lembaga Dakwah PBNU kembali menggelar Pendidikan dan Latihan Program Dai Go Global 2026 di Jakarta. Senin (26/01/26).

Pelatihan di hari kedelapan menghadirkan Staf Khusus Mentegri Agama RI, Dr. KH. Gugun Gumilar, M.A., Ph.D..

Menurutnya, Program Dai Go Global dirancang sebagai ikhtiar strategis untuk menyiapkan dai Indonesia yang mampu menjawab tantangan global secara komprehensif. Di tengah percepatan teknologi dan dinamika geopolitik internasional, dai tidak lagi cukup hanya menguasai ilmu keagamaan klasik, tetapi juga dituntut adaptif terhadap perkembangan zaman. “Khususnya dalam penguasaan teknologi, bahasa, dan diplomasi lintas budaya,” ujarnya.

Salah satu kompetensi utama yang ditekankan oleh Kyai Gungun pada kesempatan itu, adalah penguasaan Artificial Intelligence atau AI. AI dipandang bukan sekedar alat bantu, melainkan instrumen strategis dalam produksi, distribusi, dan penguatan pesan dakwah.

Dalam konteks ini, muncul adagium yang relevan: orang pintar tanpa AI berpotensi dikalahkan oleh orang yang secara intelektual biasa saja tetapi mampu memanfaatkan AI secara optimal. “Karena itu, dai global harus cakap memanfaatkan teknologi digital untuk riset, pengelolaan informasi, serta penyebaran dakwah yang efektif dan berdaya jangkau luas,” ungkap pakar komunikasi Islam ini.

Selain tantangan teknologi, lebih lanjut Kyai Gungun juga menegaskan bahwa dai go global 2026 harus mempunyai kemampuan berdialog di level internasional. Dunia global hari ini membutuhkan pendekatan yang lebih humanis dan persuasif, di mana diplomasi agama menjadi elemen penting sebagai penyeimbang bahkan kontra atas diplomasi politik yang sering kali kaku dan elitis.

“Ulama dan dai dinilai memiliki kedekatan langsung dengan umat, sehingga memiliki modal sosial dan moral yang kuat untuk membangun dialog lintas bangsa dan lintas agama,” tegasnya lagi.

Dalam kerangka itulah, konsep Islam Nusantara diusung sebagai fondasi diplomasi agama. Islam Nusantara dipahami sebagai Islam yang adaptif terhadap budaya lokal, moderat, dan berakar kuat pada nilai-nilai perdamaian.

Konsep ini tidak berhenti pada konteks lokal Indonesia, tetapi diproyeksikan untuk diintegrasikan dengan budaya internasional. Indonesia pun diposisikan sebagai role model perdamaian dunia berbasis agama, sehingga dialog keagamaan di tingkat global menjadi agenda yang penting untuk terus digaungkan.

Tidak hanya itu, Kyai Gungun juga menekankan bahwa penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, menjadi prasyarat mutlak bagi Dai Go Global 2026. Bahasa dipandang sebagai kunci untuk membuka akses ke percakapan global, forum internasional, serta jejaring keilmuan dunia.

“Tanpa kemampuan bahasa yang memadai, gagasan besar dakwah Islam Indonesia berpotensi terkungkung dalam batas lokal,” ujarnya.

Lebih jauh, Dai Go Global 2026 juga memikul tugas intelektual strategis, yakni menggaungkan riset terhadap manuskrip dan karya-karya ulama Nusantara. Warisan intelektual tersebut perlu dikaji secara akademik dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar dapat diakses oleh komunitas global, sekaligus memperkaya khazanah keilmuan Islam dunia dari perspektif Nusantara.

Terakhir, dai global masa depan harus memiliki basis intelektual yang kuat dengan memahami geopolitik internasional serta isu-isu global kontemporer, termasuk ekoteologi. Pemahaman tentang menjaga lingkungan berbasis nilai-nilai agama menjadi sangat relevan di tengah krisis iklim global.

“Dengan bekal tersebut, Dai Go Global 2026 diharapkan tampil sebagai duta perdamaian, intelektual, dan kemanusiaan yang mampu menjawab tantangan dunia dengan hikmah dan kebijaksanaan,” harapnya. (nufus)

Leave A Reply

Your email address will not be published.