Banjir Kudus-Jepara- Pati, Gus Nasrul: “Jewer” Pemda

0

RISALAH NU ONLINE, JEPARA – Banjir yang kembali merendam wilayah Pantura Jawa Tengah, dan bisa dikatakan banjir terbesar 10 tahun kebelakang ini, khususnya yang melanda Kudus, Jepara, dan Pati, disorot oleh mantan dewan penasehat Tim resmi kampanye Nasional Capres-Cawapres Parabowo-Gibran Dr. KH Nasrullah Afandi, Lc., M.A. yang akrab disapa Gus Nasrul, Ia menilai banjir dipicu pengerukan tanah dan masifnya pembangunan pabrik-pabrik raksasa.

“Karena faktor utamanya tahun ini daerah Kudus, Jepara, Pati, itu karena pengerukan tanah besar –besaran yang sudah berlangsung sekian tahun lamanya,” kata Gus Nasrul, di sela-sela penatikan pengurus dewan Eksekutif Mahasiswa Ma’had Aly Balekambang, Minggu (25/1/2026).

Atas musibah tersebut, Ketua Pimpinan Pusat Persatuan Guru NU (PP Pergunu) mengajak para mahasantri untuk turut peduli lingkungan. Gus Nasrul menjelaskan, kawasan pegunungan dan dataran tinggi di Kudus dan Jepara terus dikeruk dalam skala besar untuk mengurug berbagai mega proyek. “Tanah-tanah terus dikeruk berpuluh-puluh atau bahkan sudah mencapai ratusan hektare, ntuk proyek-proyek besar di Semarang dan sekitarnya, sehingga di sini menjadi gundul,” tegasnya.

Kondisi tersebut, lanjutnya, dominan turut memicu longsor di kawasan Gunung Muria. “Termasuk di daerah Gunung Muria terjadi longsor, akibat hutan sudah banyak digunduli dan dirubah jadi industri kebun kopi”. Tegas Gus Nasrul yang juga menjabat Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat itu,

Bahkan sekitar 80 persen kawasan hutan gunung Muria, telah berubah menjadi Kerkebunan Kopi(Radar Kudus, Senin, 1 Desember 2025) Sangat memperihatinkan zona religious, bersejarah, ziarah Sunan Muria itu, papar Gus Nasrul kiyai muda NUyang aktif berceramah di berbagai pelosok Indonesia itu.

Sedangkan di Kabupaten Jepara. Menurut Gus Nasrul, ada dua faktor dominan.

Pertama; Pengerukan tanah, galin C secara besar-besaran hingga banyak dataran tinggi di Jepara menjadi gundul dan berubah menjadi dataran rendah.

Kedua: Alih fungsi lahan berlangsung masif. Puluhan hektare lahan kosong berubah menjadi kawasan industri. “Sehingga lahan yang semula kosong, tahun-tahun sebelumnya bisa menampung air saat curah hujan, kini puluhan hektare berubah menjadi pabrik-pabrik pindahan dari JABOTABEK dengan karyawan ratusan ribu. Bahkan jumlah pabriknya terus bertambah. Karena satu pabrik saja ada yang puluhan ribu karyawan,” tegas Gus Nasrul kiyai aktivis dari pesantren Balekambang Jepara itu.

Dampaknya, daerah resapan air semakin menyempit. Lahan yang sebelumnya berfungsi menampung air saat curah hujan, kini tertutup bangunan. “Jadi lahan yang semula pekarangan, area sawah, yang bisa meresap air, kini menjadi pabrik- pabrik raksasa, sehingga air tidak ada resapannya. Jadi faktor pengerukan tanah dan pembangunan pabriklah biang kerok utamanya,” tegasnya.

Ia menilai, kondisi ini harus segera dievaluasi oleh pemerintah daerah. Jika tidak, banjir akan terus meningkat setiap tahun.

Pabrik-pabrik raksasa memang ada manfaatnya, bagi sebagian golongan , menciptakan lahan pekerjaan, atau keuntungan bagian beberapa orang yang bisnis tanah urugan, tetapi ingat, kerusakannya jauh lebih besar, menyusahkan khalayak luas.

“Maka hal ini perlu ada evaluasi serius dari pemerintah daerah. Kalau dibiarkan, tahun-tahun kedepan akan terus mengalami preseden buruk terjadinya banjir yang tidak bisa diantisipasi,” ujarnya.

Hal pengerukan tanah yang mengakibatkan gundul, itu juga diantar faktor yang menyebabkan, banjir parah di kabupaten Pati, banyaknya galian C atau pengerukan tanah bahkan yang ilegal. Tegas Gus Nasrul alumnus pesantren Lirboyo Kediri itu.

Gus Nasrul berharap pemerintah lebih tegas mengendalikan aktivitas tambang galian C, dan pembangunan industri demi menjaga keseimbangan lingkungan. Jangan hanya pola piker pragmatis terwujudnya lahan pekerjaan atau keuntungan materi sesaat. Parahnya lagi, pabrik-pabrik raksasa itu berada mayoritas di zona pemukiman padat.

“Mestinya pabrik-pabrik raksasa di Jepara itu, dipindahkan, jangan di zona pemukiman padat, apalagi di Mayong, kecamatan mutiaranya kabupaten Jepara, tempat kelahiran wanita hebat RA Kartini, banyak pesantren tua dan besar, tempat kampung Mbah kiyai Tasmin Kakeknya Kiyai Soleh Darat(Gurunya Ulama se Indonesia) Jika pabrik -pabrik raksasa dipindahkan dari Mayong dan sekitarnya, setidaknya bisa meminimalisir terjadi banjir saat hujan,” tutup rektor Ma’had Aly Balekambang itu. (rls)

Leave A Reply

Your email address will not be published.