Menag: NU Abad Kedua Tak Bisa Lagi Andalkan “Superman”, Saatnya Bangun Superteam

0

RISALAH NU ONLINE, JAKARTA — Menteri Agama RI Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) memasuki abad kedua tidak bisa lagi bertumpu pada figur pemimpin tunggal dengan kemampuan luar biasa atau “Superman”. Tantangan masa depan yang datang semakin cepat menuntut NU menguatkan kepemimpinan kolektif berbasis manajemen dan kerja tim atau superteam.

“Mungkin di masa lampau kita sudah sangat bersyukur hadir figur-figur leaders kita yang sangat kita kenal memiliki kapasitas mirip-mirip Superman, memiliki super-power yang sangat tinggi. Tapi ke depan, seiring dengan situasi berubah dan berbeda, yang kita perlukan adalah kombinasi antara figur manajer dan figur leaders,” ujar Menag Nasar dalam pidatonya pada puncak peringatan Harlah ke-100 Nahdlatul Ulama di Jakarta, Sabtu (31/1/2026).

Menurutnya, masa depan hadir lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mempersiapkan diri. Kondisi tersebut berpotensi melahirkan berbagai guncangan, mulai dari market shock, theological shock, cultural shock, political shock, economical shock, hingga scientific shock.

“Karena itu, untuk ke depan, Nahdlatul Ulama sudah waktunya kita lebih menekankan figur-figur manajer yang senantiasa akan mengedepankan superteam atau the power of we,” tegasnya.

Menag menilai, model kepemimpinan semacam itu sejatinya telah dicontohkan Rasulullah SAW. Nabi Muhammad tidak hanya tampil sebagai pemimpin visioner, tetapi juga sebagai manajer yang mampu mengelola umat dan peradaban secara kolektif.

“Nabi bukan hanya menonjol sebagai leaders, tapi juga menonjol sebagai managers. Karena itu Nabi Muhammad SAW, panutan kita semuanya, khususnya warga Nahdliyin, bagaimana menjadikan diri kita sebagai the best leader dan the best manager seperti yang dipraktikkan oleh Rasulullah SAW,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Menag Nasaruddin juga menggambarkan NU sebagai “pesantren besar” yang sarat dinamika keilmuan. Perbedaan pandangan dan perdebatan antar mazhab merupakan bagian dari tradisi akademik pesantren, namun tetap dijaga dengan akhlakul karimah dan rasa hormat kepada para kiai.

“NU seperti keluarga besar di dalamnya penuh dinamika tetapi menjadi keluarga sakinah,” ujarnya.

Menag berharap, dengan menguatkan kepemimpinan kolektif dan moderasi beragama, NU tetap menjadi wadah kekuatan besar bangsa Indonesia di tengah perubahan global yang kian kompleks.

“Nahdlatul Ulama tidak akan pernah menyamakan sesuatu yang berbeda, dan tidak akan pernah membedakan sesuatu yang sama. Itulah moderasi yang dipegang oleh Nahdlatul Ulama. Biarkanlah yang sama itu sama, dan biarkanlah yang berbeda itu berbeda,” pungkasnya.

(Anisa)

Leave A Reply

Your email address will not be published.