RISALAH NU ONLINE, JAKARTA — Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) LP Ma’arif NU Tahun 2026 sebagai forum konsolidasi nasional untuk memperkuat arah kebijakan dan program pendidikan Ma’arif NU ke depan.
Rakornas ini dihadiri oleh jajaran pengurus LP Ma’arif NU PBNU, PW LP Ma’arif NU dan Sako Pandu Ma’arif se-Indonesia, serta para pemangku kepentingan pendidikan. Dalam arahannya, Ketua LP Ma’arif NU PBNU, M. Ali Ramdhani, menegaskan pentingnya penguatan sistem pendidikan Ma’arif NU agar mampu menjawab tantangan demografi, perubahan sosial, dan kebutuhan masa depan.
“LP Ma’arif NU memiliki kekuatan yang sangat besar, baik dari jumlah satuan pendidikan maupun aset. Namun, tanpa sistem yang kokoh dan terstandar, potensi ini tidak akan terkelola secara optimal,” ujar Ramdhani pada Sabtu (31/1/2026) malam.
Pemetaan Nasional
Berdasarkan hasil pemetaan nasional, LP Ma’arif NU saat ini membina 21.045 satuan pendidikan, dengan total aset tanah yang telah terdata mencapai 16.431.429 meter persegi. Meski demikian, baru sekitar 15 persen satuan pendidikan yang melaporkan data secara lengkap, sehingga penguatan tata kelola dan pendataan menjadi agenda strategis ke depan.
Rakornas juga mencermati dinamika demografi nasional. Indonesia dinilai telah melewati puncak bonus demografi, yang berdampak pada penurunan jumlah peserta didik di berbagai jenjang pendidikan.
“Kondisi ini harus disikapi secara objektif. Pendidikan Ma’arif NU tidak boleh hanya bertumpu pada kuantitas, tetapi harus memperluas akses pendidikan yang inklusif dan meningkatkan kualitas layanan,” tegas Ali Ramdhani.
Laporan Kinerja
Dalam Rakornas tersebut, LP Ma’arif NU PBNU juga menyampaikan laporan kinerja tahun 2025. Sejumlah program strategis yang telah dijalankan antara lain:
* Dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan layanan kesehatan gratis bagi siswa madrasah dan sekolah Ma’arif;
* Partisipasi aktif dalam reformasi Sistem Nasional Pendidikan sebagai bagian dari kontribusi pendidikan Islam terhadap peradaban bangsa;
* Penguatan profesionalisme pendidikan, melalui sistem merit kepala sekolah dan madrasah, peningkatan kapasitas guru, serta penguatan kurikulum dan tata kelola data;
* Penguatan peran sosial dan kemanusiaan, khususnya dalam penyediaan data satuan pendidikan yang membutuhkan intervensi kebijakan;
* Pengembangan kemitraan strategis internasional, termasuk kerja sama dengan Global Partnership for Education (GPE) bersama UNICEF dan mitra global lainnya.
Prioritas dan Rekomendasi Program 2026
Rakornas LP Ma’arif NU 2026 menghasilkan sejumlah prioritas dan rekomendasi kebijakan, antara lain:
1. Penguatan kelembagaan dan sistem pendidikan Ma’arif NU;
2. Standarisasi dan penguatan peran Badan Penyelenggara Pendidikan (BP3);
3. Peningkatan aksesibilitas pendidikan yang inklusif dan berkeadilan;
4. Penguatan pendidikan vokasi yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja;
5. Pendampingan beasiswa pendidikan dalam dan luar negeri;
6. Penguatan kurikulum Aswaja, pembelajaran mendalam (deep learning) dan penerapan kurikulum berbasis cinta, serta kesiapan masuk perguruan tinggi negeri.
Selain itu, LP Ma’arif NU juga mendorong internasionalisasi pendidikan dengan memfasilitasi siswa Ma’arif NU untuk melanjutkan studi ke luar negeri melalui skema pendanaan mitra strategis.
Menutup Rakornas, Ramdhani menegaskan bahwa kritik terhadap kebijakan dan produk pendidikan harus dimaknai sebagai bagian dari proses perbaikan berkelanjutan.
“Pendidikan Ma’arif NU harus terus bergerak dan berkarya. Lebih baik kita dikritik karena berbuat, daripada tidak melakukan apa-apa,” pungkasnya. (rls).