Dalam perjalanan NU yang sudah sampai satu abad ini –baik Hijri dan Masehi, ternyata ada warna keterlibatan Nabi Khidlir, meski secara tidak langsung. Minimal dalam mendorong semangat para pendirinya. Pertemuan Nabi Khidlir dengan sejumlah ulama NU menjadi pertanda bahwa nabi yang masih hidup itu sering muncul di lingkungan para wali.
Menurut beberapa kalangan, Al-Khiḍlir yang memiliki nama asli Balya bin Malkan itu adalah Xerxes, seorang pangeran yang hidup di zaman Iskandar Zulkaranin sekitar 350 tahun SM. Bahkan ia disebut sezaman dengan Arsitoteles. Ia menghilang setelah menemukan mata air kehidupan dan berusaha menjalani sisa hidupnya untuk melayani Allah.
Nabi Muhammad sendiri pernah mengatakan bahwa Nabi Elia (Ilyas) dan Nabi Khidr bertemu setiap tahun dan menghabiskan bulan Ramadhan di Yerusalem. Begitu juga saat 9 Zulhijah wukuf di Arafah. Pernah pula Nabi Khidlir terlihat berjalan bersama khalifah Umar bin Abdul Aziz. Diriwayatkan juga bahwa Khidlir bertemu dengan Sayidina Ali bin Abi Thalib di Ka’bah.
Dalam laporan Al-Baihaqi, Nabi Khidlir hadir pada pemakaman Nabi Muhammad dan hanya dikenali oleh Ali bin Abi Thalib. Kemunculan Khiḍlir pada pemakaman Rasulullah diceritakan, seorang laki-laki berpenampilan perkasa, tampan, berjanggut putih datang melompati punggung orang-orang sampai dia mencapai tempat jenazah Rsulullah dibaringkan. Sambil menangis tersedu-sedu, dia menoleh ke arah para Sahabat dan menyampaikan kesedihannya.
Para wali kemudian juga sangat dekat hubunganya dengan Nabi Khidlir. Pertemuan dengan sang nabi itu menjadi penentu kewalian. Misalnya, Kiai Kholil Bangkalan, Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Hamid Pasuruan dan lain sebagainya.
Kisah KH Hasyim Asy’ari dan Nabi Khidir adalah peristiwa keramat, Nabi Khidlir menyamar sebagai kakek tua lumpuh yang minta digendong santri untuk bertemu Syaikhona Kholil Bangkalan. Santri yang bersedia menggendongnya itu hanya KH Hasyim Asy’ari.
Setelah berbincang dengan Syekhona Kholil laki-laki misterius itu lantas meminta Hasyim mengantarnya kembali di luar pondok. Syaikhona Kholil berkata kepada santri lainnya, “Saksikanlah, sesungguhnya ilmu-ilmu-ku sudah dibawa oleh dia (KH Hasyim Asy’ari)”.
Siapa sosok misterius itu? Tak lain Nabi Khidlir. Seperti dituturkan Syekhona.
Kisah ini sering diceritakan dalam tradisi pesantren sebagai bukti kewalian dan keramat pendiri NU itu yang kemudian menjadi ulama besar dan tokoh Nasional.
Pernah juga beberapa orang santri Kiai Hamid Pasuruan dijanjikan bisa bertemu Nabi Khidlir yang akan datang malam itu. Para santri itu menungggu dengan gairah kedatangan sang nabi dengan memicingkan mata sepanjang malam.
Namun, tak kunjung datang hingga menjelang waktu saur, selain orang ‘gila’ yang datang ngomel-ngomel ngalor ngidul yang tak ditanggapi para santri itu.
Menjelang subuh Kiai Hamid muncul dan bertanya, “Sudah bertemu?” Para santri itu sambil menjabat tangan menyebut tak bertemu. Sepanjang malam itu hanya seorang tak waras datang sambil mengomel.
Kiai Hamid tersnyum. “Itulah Nabi Khidlir. Belum waktunya kalian bisa bertemu Nabi Khidlir jika masih memiliki pandngan buruk terhadap orang lain.
Demikian juga dengan pengalaman KH Hasyim Soleh, pengasuh pondok pesantren Darul Huda Mayak Tonatan Ponorogo, Jawa Timur. Sebelum mengasuh pesantern sejak tahun 1968 ia adalah pedagang. Suatu saat ia menunaikan ibadah akhir tahun 1970-an.
Menjelang pulang saat thawaf wada’ dan berdoa di sekitar Kakbah tiba-tiba disampingnya muncul sosok orang tua berpakaian putih dengan wangi kahas menitipkan lima jilid kitab untuk diberikn kepada Hamim Djazuli al-Jawi. Tak dijelaskan alamatnya karena ia langsung menghilang. Nama yang disebut itu juga masih asing di telinga Kiai Hasyim.
Dalam perjalanan pulang dari Mekkah, Kiai Hasyim menyempatkan diri untuk membaca seluruh isi kitab, tapi ada dua jilid kitab yang dia tidak faham sama sekali. Selama perjalanan itu, Kiai Hasyim berusaha mencari tahu siapa gerangan Hamim Djazuli. Konon, Kiai Hasyim mencari Hamim Djazuli Al-Jawi selama tiga bulan, dari Ponorogo sampai wilayah Jawa Tengah.
Tak lama berselang terdengarlah informasi tentang sosok yang bernama Hamim Djazuli tepatnya di daerah Kediri. Uniknya ada dua nama Hamim Djazuli; yang pertama berasal daerah Pare dan yang kedua daerah Ploso Mojo Kediri.
Kemudian Kiai Hasyim menuju daerah Pare menemui orang yang bernama Hamim Djazuli, ternyata ia seorang Petani. Selanjutnya ia langsung menuju Pondok Ploso. Sebelum masuk daerah Ploso, ia berniat melaksanakan salat Isya karena jarum jam menunjukkan pukul 00.
Sesampainya di teras musalla, ia kaget melihat teras musalla itu dipakai main Domino. Salah satu dari empat pemain domino itu juga terkesiap melihat Kiai Hasyim berjalan masuk musalla.
Kiai Hasyim membatin mengapa musalla dipakai main kartu. Lantas ia menuju Ploso dan menunggu kedatangan Hamim Djazuli. Betapa kegatnya karena yang datang ditunggu itu adalah orang yang main kartu domino di musalla tadi.
Akhirnya, dua sosok ulama ini bertatap muka dalam sebuah ruangan. Hamim yang dikenal dengan nama Gus Miek itu menyambutnya. “Alhamdulillah Kiai Gede Ponorogo ndugi” (Kyai Besar Ponorogo datang). Untuk kesekian kalinya Kiai Hasyim kaget dengan sapaan “Kiai Ponorogo” padahal belum saling kenal.
Kemudian Kiai Hasyim menceritakan kronologi mulai awal hingga akhir. Gus Miek mendengarkan tutur kisah Kiai Hasyim dengan seksama. Kiai Hasyim lalu menyerahkan kelima jilid kitab itu.
“Beliau itu Nabi Khidlir,” kata Gus Miek. Kiai Hasyim kaget dan menyesal menyiakan kesempatan berharga bersama seorang nabi. Gus Miek menyerahkan 3 jilid kitab kepada Kiai Hasyim. Dua jilid yang tak difahaminya diambil Gus Miek.
Maka, jangan sepelekan siapa pun kerana kita tidak tahu siapa wali Allah atau Nabi Khidlir yang menyamar. (MH)