
Oleh: Malik Ibnu Zaman, Mahasiswa Universitas Pamulang, Tangerang Selatan
Perjalanan hidup memang tak terasa, berputar begitu cepat. Kalau tidak siap, maka siap-siap saja terlindas oleh zaman, lalu tertatih-tatih. Kini ia sudah menginjak usia delapan dasawarsa. Kalau kata orang waktunya santai saja di rumah, memperbanyak ibadah, sambil menunggu malaikat maut datang. Bapak dan ibunya sudah lama meninggal, begitu juga dengan saudaranya.
Abnar yang sedang duduk santai di beranda rumah menikmati sore, dikagetkan dengan kedatangan cucu perempuannya. Setelah beranjak remaja, sama seperti cucunya yang lain, Nevy jarang berkunjung ke rumahnya. Ia memaklumi itu, dirinya pernah muda, mereka punya dunianya masing-masing. Setelah bersalaman, Nevy langsung mencecar kakeknya dengan pertanyaan tentang dunia yang dulu digelutinya. Dan kini telah lama dunia itu ia tinggalkan. Kepada Nevy, Abnar menanyakan kenapa tiba-tiba tertarik dengan kisah hidupnya di masa lalu.
“Tanpa sengaja aku menemukan tiga artikel tentang kakek, ditulis oleh penulis yang sama,” ujarnya sambil mengarahkan gadget kepada kakeknya, “Tentu saja aku heran, sebab selama ini tak ada nama kakek di mesin pencarian Google.”
“Mata kakek sudah rabun, tolong kamu bacakan judul tulisannya!”
“Judul pertama ‘Abnar Romli: Santri Tebuireng, Aktivis Lesbumi, Sutradara Film Mak Lampir. Lalu judul kedua ‘Abnar Romli, Sastrawan Lesbumi yang Novelnya Dicekal Orde Baru’. Ketiga judulnya adalah ‘Orang-Orang yang Terhormat, Novel Sastrawan NU yang Dianggap Berbahaya Rezim Soeharto.”
Abnar mengernyitkan dahi dengan apa yang dikatakan oleh cucunya tersebut. Ia menduga bahwa yang menulis tersebut adalah generasi yang lahir di tahun 1980-an atau 1990-an. Seakan mengerti apa yang hendak ia tanyakan, Navy langsung menjelaskan siapa orang yang menulis tulisan tersebut.
“Di bawah artikel terdapat profil penulisnya. Wah, ia satu kabupaten dengan kakek. Lalu ia kelahiran tahun 2001.”
Navy kemudian menunjukan membacakan beragam komentar dari netizen yang telah membaca tiga tulisan tersebut: “Wah baru tahu sutradaranya seorang santri”, “Pantes di film Mak Lampir ada pesan dakwahnya”, “Masih suka nonton hingga sekarang”, “Ternyata orang kita sendiri”, “Wah baru tahu nama sutradaranya”.
Senyum campuran bahagia dan haru tersungging di bibirnya, bukan karena ada yang menulis tentangnya, lalu akhirnya namanya dikenal banyak orang. Toh, ia tak peduli dengan yang namanya nama. Abnar juga tak masalah apabila namanya kemudian hilang dalam
catatan. Sebab bukan ketenaran yang menjadi tujuannya. Ia terharu karena film yang ia jadikan sebagai medan dakwah masih ditonton oleh banyak orang hingga sekarang. “Semoga karya yang aku buat menjadi amal jariah, memudahkan jalanku menuju Allah,” batinnya.
“Kenapa kakek tak pernah cerita?,” tanya Navy, “Misalnya tentang cerpen kakek berjudul ‘Penjual Kapas’ yang dimuat di majalah Horison nomor 2 tahun 1967. Majalah tersebut kan majalah legendaris dalam kesusastraan Indonesia, diasuh oleh Paus Sastra H.B Jassin dan Maestro Sastra Mochtar Lubis. Cerpen tersebut tak berhenti sampai di situ, ‘Penjual Kapas’ mendapatkan penghargaan Hadiah Horison tahun 1966-1967 untuk kategori cerpen yang mendapat pujian dari redaksi.”
“Lagian kamu tak pernah bertanya.”
Navy mendengus kesal, “Sebagai seorang kakek harusnya cerita dong ke cucu-cucunya.”
“Jika aku tahu dari dulu tentang kakek, aku sudah pasti akan menjadikan kakek sebagai objek tugas akhir di jurusan Sastra Indonesia,” imbuh Navy sambil bangkit dari kursinya, lalu pamit pulang.
Sepeninggal cucunya, Abnar kini termenung. Ingatannya melayang, ke masa lalu. Masa di mana ia bertengkar hebat dengan ayahnya perihal pilihan sekolah. Pilihan dari ayahnya yang dulu ia sesali, kini ia syukuri.
***
Siang itu rumahnya terasa panas, tak seperti biasanya. Meja makan berubah menjadi medan tempur. Suara ayahnya menggelegar seperti dentuman Gunung Slamet tatkala batuk. Sama seperti ayahnya, Abnar tak mau menurunkan suaranya. Ia tetap ingin bersekolah di Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) tak jauh dari rumahnya. Sementara ayahnya menginginkan agar Abnar berangkat ke Pondok Pesantren Tebuireng.
“Keputusan bapak sudah bulat, kamu harus berangkat ke Tebuireng. Bapak ingin kamu berdakwah, ngajar ngaji, jadi kiai. Bukan malah menulis apa itu namanya, cerpen, novel,” ujar bapaknya dengan berapi-api.
“Menulis juga bisa dijadikan medan dakwah,” jawabnya, “Sudah 1,5 tahun aku di sana pak. Amat sangat disayangkan jika aku harus keluar.”
Ibunya yang sedari tadi diam, tak mau ikut campur perdebatan antara bapak dan anak, akhirnya mau tidak mau turun tangan juga. Sebab, perdebatan tak kunjung menemui titik temu. Masing-masing kekeh dengan pendiriannya.
“Sudahlah nak, kamu ikutin apa mau bapakmu.”
“Tetapi bu.”
“Jangan ada kata tapi,” potong ibunya.
“Satu Minggu lagi berangkat,” timpal bapaknya sambil berlalu keluar rumah dengan senyum penuh kemenangan.
Sepeninggal bapaknya, kini Abnar mencoba merayu ibunya agar menarik kata-katanya. Namun, usahanya sia-sia. Terbesit dalam benaknya untuk kabur dari rumah, dengan satu tujuan Jakarta. Seakan mengerti apa yang sedang direncanakan Abnar, ibunya mencoba memberikan pengertian kepada anaknya.
“Tujuan kamu nyantri bukan untuk menjadi kiai, tetapi mencari bekal untukmu sendiri dan orang tua. Supaya kelak, ketika bapak dan ibu meninggal ada yang mendoakan. Sebab doa anak soleh yang bisa menyelamatkan orang tuanya,” ujarnya sambil mengelus kepala anaknya.
“Aku tetap bisa menulis bu meskipun di pondok pesantren? Aku ingin menjadi penulis sastra dan sutradara film.”
“Tentu saja bisa. Santri juga harus mewarnai jagad dunia sastra dan perfilman. Kamu bisa menjadikan apa yang kamu sukai itu menjadi medan dakwah. Abnar harus ingat bahwa berdakwah tak harus di atas mimbar. Ibu yakin, kelak namamu akan diperhitungkan.”
Penjelasan dari ibunya membuat hatinya tenang, ia urungkan niat untuk kabur ke Jakarta. Ia merasa beruntung memiliki ibu yang mendukung cita-citanya. Abnar merasa bahwa keinginan menjadi penulis tak lepas dari didikan yang dilakukan ibunya. Ia tumbuh dalam cerita-cerita ibunya tentang Walisongo, Ki Gede Sebayu, Sultan Agung, Pandawa. Cerita itulah yang menumbuhkan keinginannya menjadi penulis fiksi dan sutradara film.
***
Awal-awal ia tak kerasan di Tebuireng, terbesit dalam rencananya untuk kabur. Tetapi segera ia buang rencana itu jauh-jauh dari kepalanya. Ia tak ingin mengecewakan ibunya. Meski hari-harinya di pesantren dipenuhi pelajaran agama, ia tak pernah menanggalkan mimpinya. Di sela-sela kajian kitab kuning, ia merangkai kata-kata menjadi cerita. Perpustakaan pesantren adalah tempat favoritnya. Di sana tak hanya dipenuhi buku berbahasa Arab, tetapi juga ada yang berbahasa Belanda. Konon kata santri senior, buku berbahasa Belanda itu adalah peninggalan Kiai Wahid Hasyim.
Lama-lama kelamaan Abnar akhirnya betah juga di penjara suci. Terlebih ketika ia dipercaya menjadi sutradara drama untuk tampil di acara haflah akhirussanah. Bahkan, Kiai Kholiq Hasyim memujinya. Setelah tiga tahun di Tebuireng ia pindah ke Seblak. Di pesantren peninggalan Kiai Ma’shum Ali yang merupakan menantu Kiai Hasyim Asy’ari, hasrat seni
Abnar tak pernah padam. Tahun 1965 ia kembali ke Tebuireng, lalu dua tahun kemudian ia pulang ke kampung halamannya Slawi.
***
Sepulangnya dari pondok pesantren, Abnar membentuk kelompok teater. Ia juga bergabung dengan Lembaga Seni Budaya Muslim (Lesbumi) Nahdlatul Ulama dan terpilih menjadi ketua. Bapaknya gelisah, dalam benak pikiran bapaknya kesenian bisa menyebabkan seseorang jauh dari agama. Namun, ibunya berusaha menenangkan kecemasan bapaknya.
“Abnar ke mana bu? Sudah hampir jam 12 malam begini belum pulang.” “Ke Taman Rakyat Slawi pak, berlatih teater.”
“Bocah itu dibilangin tak mempan, omonganku masuk kuping kanan, keluar kuping kanan lagi.”
“Sudahlah pak, Abnar sudah memenuhi keinginanmu, 7 tahun lamanya dia di pesantren. Kali ini coba bapak biarkan saja keinginannya, namanya orang tua ya harus mendukung selagi baik
“Tetapi bu….”
“Sudahlah pak,” potong ibunya, “Aku paham kekhawatiranmu. Tetapi aku yakin Abnar bisa menjaga diri. Santri perlu juga terjun ke ranah itu, memberikan warna. Jangan salahkan jika dunia kesenian jauh dari Tuhan. Sebab, santri tak mau masuk ke dalamnya.”
“Ini majalah siapa bu?,” tanya bapaknya sambil mengambil majalah yang tergeletak di meja makan.
“Punya Abnar, majalah Horison namanya. Ada nama anak kita di situ, cerpennya berjudul Penjual Kapas. Coba bapak baca cerpennya, ada pesan dakwah di dalamnya kan. Nah itu pak, dakwah tak harus di dalam masjid.”
“Kata Abnar honor dari majalah itu besar, esok lusa katanya ia ingin membelikan sesuatu untuk kita,” imbuhnya.
***
Tiga tahun sudah ia menetap di Tegal, cita-citanya menjadi penulis sastra sudah terwujud. Namun, menjadi sutradara film hilalnya masih jauh. Menetap di Tegal, rasanya tak mungkin untuk mengejar cita-cita itu. Mau tidak mau ia harus ke ibukota, sebab Jakarta adalah kuncinya. Kali ini bapaknya, tak melarangnya seperti dulu. Sebelum berangkat, kepada Abnar ia hanya berpesan agar menjaga sholat.
“Jakarta keras nak, banyak orang baik berubah jadi jahat. Tetapi kamu tak perlu khawatir, kuncinya ya menjaga sholat. Jika kamu bisa menjaga sholatmu, pengaruh buruk tak akan bisa merusakmu. Nasehat kiaimu sewaktu di pesantren jangan dilupakan.”
“Bapak ridho, ikhlas aku menjadi sutradara film?”
“Iklhas, asalkan dalam film yang kamu buat ada pesan dakwah di dalamnya.” Anak dan bapak itu kemudian saling berpelukan. Kini Abnar meninggalkan Slawi dengan perasaan lega, dalam hatinya ia berkata, “Jakarta, aku datang.”
Dengan hanya bermodal pas-pasan, ia mengawali mimpinya di Jakarta dengan mendirikan Teater Pembina. Setiap pekan, mereka tampil di layar kaca TVRI Jakarta, menghidupkan kisah-kisah dalam program Mimbar Agama Islam dan drama remaja. Tahun 1971 menjadi titik belok hidupnya. Dengan map lusuh berisi naskah dan secarik mimpi, ia melangkah ke kantor PT Agora Film. Perusahaan itu bukan sembarang tempat, dipimpin oleh Bambang Irawan, aktor besar yang wajahnya dikenal seluruh negeri. Abnar melamar dengan harapan kecil, dan diterima sebagai juru catat adegan. Setiap hari, ia mencatat dengan teliti, siapa berdiri di mana, bagaimana cahaya jatuh di wajah aktor, kapan kamera harus berhenti. Mungkin bagi orang lain itu pekerjaan kecil, tapi bagi Abnar, setiap baris catatan adalah pelajaran diam-diam tentang dunia sinema.
Setahun kemudian, kerja keras dan kesungguhannya membuahkan hasil. Ia dipromosikan menjadi Asisten Sutradara. Di balik kamera, ia belajar memahami ritme adegan, napas aktor, dan diam yang penuh makna di antara dua dialog. Dunia film mulai membuka pintu lebarnya.
Tahun 1974, sebuah kabar baik datang dari PT Sapta Yanuar Film. Mereka memberinya kepercayaan penuh untuk duduk di kursi yang selama ini hanya ia pandang dari kejauhan: kursi sutradara. Dengan tangan bergetar tapi hati mantap, ia mulai menulis skenario dan menyutradarai film perdananya, Dimadu.
Film itu bukan hanya tayang, tapi meledak di pasaran. Nama M. Abnar Romli mulai bergema di studio-studio film. Orang-orang mengenalnya bukan lagi sebagai juru catat adegan, tapi sebagai sutradara muda.
Kesuksesan Dimadu menjadi awal dari perjalanan panjangnya. Ia melanjutkan langkah dengan Setitik Noda, film produksi PT Sarinande Film, lalu berderet karya lain menyusul di belakangnya. Setiap film baginya bukan sekadar hiburan, melainkan cermin kehidupan yang ingin ia bagi kepada dunia.
Dan di setiap layar yang memudar perlahan di akhir pemutaran, selalu ada satu nama yang muncul di antara barisan panjang kredit, M. Abnar Romli.
***
Kepingan-kepingan masa lalu yang beriak di kepalanya, kini terhenti oleh suara adzan Maghrib. Kini ia kembali dari masa lalunya dan sedang duduk di kursi beranda rumahnya, bergegas ia ke belakang mengambil wudhu lalu menuju mushola.
***