
Oleh: Nur Fuadiyah Layli, SMA DARUL ‘ULUM 2 UNGGULAN BPPT Jombang
Siang itu, mendung menghiasi langit kota kediri, menemani jiwa yang terbaring dalam kasur berselimutkan sepi.
Sudah satu minggu ini ia hanya terbaring lemas, menunggu apa yang selanjutnya akan di lakukan pihak pesantren untuk mengurus sakitnya yang tak kunjung sembuh. Semakin hari, sakit dalam tubuhnya semakin terasa, suhu tubuhnya yang selalu naik ketika malam hingga pagi, dan turun ketika siang hingga sore, kepalanya terasa semakin berat untuk di angkat, tenggorokannya semakin terasa nyeri.
Ia berpikir, kapan terakhir kali dirinya bangun dari tidur dengan nyaman, tanpa ada sakit meski sering tertidur lelap.
Ingatannya berbalik menuju tiga hari yang lalu, saat hari keempat sakitnya tak juga sembuh, kala ia meminta obat yang kesekian kalinya pada ustadz di ruang kesehatan pesantren. Sebelum ia benar – benar lemas seperti sekarang.
Ia meminta keringanan pada pihak pesantren lewat sang ustadz, agar ia di bolehkan pulang dan menjalani perawatan kesehatan di rumah saja.
Namun keinginannya kala itu di tolak mentah – mentah oleh sang ustadz, kata sang ustadz ia hanya sakit tifus biasa, sebentar lagi juga akan sembuh. Jadi ia tidak perlu pulang untuk perawatan kesehatan di rumah.
Mengingat itu membuatnya yang sekarang terbaring lemas hanya bisa tersenyum getir. Mengingat ucap ‘nanti juga sembuh’, ‘sebentar lagi pasti sembuh kok, nggak usah pulang’. Ah, andai mereka tahu berapa tangis yang telah ia tumpahkan untuk menahan sakit ini.
Sembuh? Ia percaya bahwa Allah akan segera mengangkat penyakitnya ini, tapi yang selalu di pertanyakan, kapan? Jika seperti ini terus, tidak ada tindakan lanjut apa – apa, kapan ia akan sembuh?
Rasanya semakin hari tubuhnya selalu menolak makanan dan obat yang masuk kedalam dirinya.
Orang tuanya juga sempat meminta izin pada sang ustadz, agar ia di perbolehkan menjalani perawatan intensif langsung di bawah pengawasan kedua orang tua. Tetapi rasanya beribu kata yang telah di ucapkan kedua orang tua seperti menjadi angin lalu yang di dengar sang ustadz.
Jawabannya sama.
‘Ananda hanya mengalami sakit tifus biasa, sebentar lagi pasti akan pulih, tidak perlu terlalu risau, kami akan selalu memantau perkembangannya’.
Lagi dan lagi, yang di pertanyakan olehnya hingga sekarang, kapan ia bisa pulih seperti sedia kala? Sang ustadz setiap harinya hanya memberi makan sesuai jadwal, memberi obat jika habis, dan selebihnya membiarkan ia meringkuk kedinginan di kasur lipat tipis.
Ia membuang napas pelan, rindu akan ayah dan ibu semakin menggebu seminggu terakhir.
Ia melamun sendu, hingga ia tersadar saat adzan dan hujan sama – sama mulai terdengar dalam sayup telinganya.
Tayamum telah di lakukannya, dan sholat ia tunaikan, meski dalam lemahnya raga, ia tetap menunaikannya dengan khusyuk dan tenang.
Selepas itu, tangannya yang bergetar karena kedinginan mulai menengadah, meminta kelekasan sembuh kepada sang pencipta.
“Ya Allah, Haikal cuma kepengin di kasih sehat lagi”
“Haikal, kepengin belajar sama teman – teman Haikal lagi, kepengin thalabul ‘ilmi yang nggak ada sakit – sakit kayak gini lagi”
“Semoga engkau memberikan Haikal sehat kayak dulu lagi, Ya Allah, Amiin”. Ia mengusapkan kedua telapak tangan kewajahnya, senyumnya terbit menghiasi wajah pucat nan lemah miliknya.
“Ayah, Ibu, Haikal pengin ngaji sama pak kyai lagi”
Gumaman itu lirih, namun penuh aduan perih.
Di lihatnya jendala kamar yang di penuhi bintik bekas rintik, kajian kitab irsyadul ‘ibad oleh pak kyai mengalun merdu di penjuru pesantren. Penuh syahdu ia mendengar kajian itu. Meski sakit dalam tubuhnya semakin lara, tapi mendengar kajian itu, membuat hatinya yang bersedih seakan kembali menemukan sebuah tenang.
Di ambilnya al – qur’an yang telah lama menemaninya dalam menuntut ilmu di pesantren ini.
Ia duduk dengan tenang, membuka al – qur’an itu, dan mulai melantunkan ayat – ayat Nya dengan lirih.
Ia membacanya perlahan, hingga sampai pada penghujung surah dalam al – qur’an, yang setelahnya ia sambung segera dengan doa khotmil qur’an.
Setelah amin ia ucapkan dalam hati, ia meletakkan kembali al – qur’an yang amat di cintainya di jendela, dan kembali tertidur.
Dalam tidurnya, ia merasa kembali mendapatkan tenang dalam tidur setelah sekian lama, ia tidur dengan nyaman dan lelap, seakan semua sakit yang ia dapatkan selama seminggu terakhir menghilang dari tubuhnya yang lemas.
Saat sedang lelap – lelapnya, ia mendengar sayup suara adzan maghrib, juga rintik rinai yang masih setia mengunjungi bumi.
Ia ingin bangun dari tidur yang membuatnya nyaman ini, ia ingin menunaikan sholat maghrib dan mendengarkan kajian kitab oleh pak kyai setelah maghrib. Namun, raganya kaku, yang ia rasa hanya hawa dingin yang membuatnya seperti di bekukan dalam lemari es.
“Ya Allah, ini gimana? Badan Haikal nggak bisa di gerakin, Haikal mau sholat maghrib, Ya Allah, gimana ini?”
Hatinya terus bertanya pada sang kuasa, matanya masih setia tertutup, ia kesulitan untuk membukanya.
Dalam kegelisahan di ruang gelapnya, ia merasa banyak manusia menggotong tubuh lemahnya menuju lantai satu. Ia mendengar sayup keramaian dan sirine ambulance, dengan ia yang masih di gotong banyak orang.
Ia mengenali satu dari suara yang tak asing lagi di telinganya.
“Putra saya, biar saya bawa ke rumah sakit pakai mobil saya saja, ustadz, kalau pakai ambulance, takutnya lebih lama perjalanannya”.
Ayahlah yang mengatakan argumen itu pada sang ustadz, suaranya di penuhi rasa sesak. “Tidak usah pak, biarkan ambulance saja yang membawa ananda sampai ke rumah sakit”
Telinganya merasa asing untuk suara yang satu ini.
“Tapi, mobil saya lebih cepat sampai ke rumah sakit di banding ambulance!” Ayah berseru tegas. Tapi meski begitu ada rasa khawatir yang amat mendalam di lubuk hatinya.
“Mobil pribadi tidak akan bisa lebih cepat dari ambulance, sudahlah pak, ikuti prosedur yang sudah di buat oleh pihak rumah sakit, kami sudah pasti tahu prosedur yang terbaik untuk pasien!”
Suara asing itu balas berseru tegas.
“Baiklah kalau begitu, tapi tolong, selama putra saya ada di dalam ambulance berikan setidaknya tindakan medis kecil – kecilan untuk putra saya, lakukan yang terbaik untuk putra saya”
Ayah berbicara dengan sedikit memohon dan suara yang mulai bergetar menahan tangis.
Hingga sayup – sayup suara itu tak terdengar lagi dan ia merasa dirinya telah berada dalam ambulance yang mulai melaju.
Saat ambulance itu sampai di pintu rumah sakit, mobil ayah sudah sampai lebih dulu di rumah sakit. Ayah menunggu di depan pintu rumah sakit.
Perlahan – lahan pintu ambulance di buka, menampakkan tubuhnya yang terbujur dingin berbalut selimut, tubuhnya di pindahkan ke brankar rumah sakit. Saat ayah melihat tubuhnya, ayah segera menghampiri dan mendampinginya sampai di tempatkan di salah satu bilik tirai UGD rumah sakit itu.
Melihatnya yang sama sekali belum mendapatkan perawatan intensif apapun dari ambulance, membuat hati ayah seperti teriris. Tapi ayah tidak bisa berbuat apapun. Selama itu, belum ada satupun suster maupun dokter yang menanganinya, padahal banyak suster – suster yang menganggur, tidak ada kerjaan, yang seharusnya bisa memberikan penanganan untuknya.
Ayah bolak – balik mencari suster dan dokter, namun mereka seakan tuli dan buta akan kehadiran ayah, hanya karena ia terdaftar sebagai pasien bpjs.
Mereka mendahulukan pasien administrasi, yang berbayar lebih dari pada pasien bpjs, yang sudah sekarat di ujung tanduk.
Hingga akhirnya, ia merasa seluruh tubuhnya mati rasa, nafas nya tercekat di ujung kepala, dan berakhir untuk selamanya.
Ayah yang menyadari itu semakin bergegas mencari dokter.
Sesegera mungkin ayah dan dokter menuju ke bilik tirai UGD tersebut.
Sayangnya, secepat apapun mereka berjalan, tidak akan mampu mengalahkan kuasa yang esa, yang menetapkan takdirnya.
Ayah menangis tersedu mengetahui kabar itu. Putranya, putra satu – satunya pergi, kembali pada sang kuasa.
Malam itu, dengan rintik rinai yang masih setia turun membasuh bumi, nafasnya selesai.
Rintik rinai itu seakan menyambutnya, bergabung bersama langit untuk kembali pada sang kuasa.
Hati ayah di penuhi sesak, seperti di cambuk sebegitu kuatnya oleh paku berduri, perih, perih sekali rasanya. Di tinggal oleh putra tunggal yang ia nantikan kebahagiaan dan kesuksesannya.
Terlambat, perkara sakit tifus memang biasa di alami oleh banyak orang, tapi keterlambatan penanganan ini lah yang sulit di maafkan oleh ayah.
Ayah hanya bisa merenung, berdiam diri menatap putra satu – satunya yang telah terbalut kain kafan bersih. Wajahnya pucat, namun di dalam sana ayah bisa melihat senyum indah, senyum indah dari putra satu – satunya untuknya.
Ayah ikut tersenyum, namun penuh perih.
Saat mentari mulai menampakkan sinarnya, keranda hijau itu mulai di turunkan di atas tanah basah bekas rinai lebat saat langit masih gelap, di sana sudah ada kedukan tanah yang siap pakai.
Keranda hijau itu di buka perlahan, menampakkan putra tunggal yang telah habis nafasnya saat rinai masih setia menapak ke bumi, yang di lilit kain kafan putih bersih. Banyak manusia berkabung atas habisnya nafas putra tunggal itu. Ibunya yang jelita itu menangis, namun tak tersedu.
Air matanya habis kemarin malam, saat kabar duka itu di sampaikan ayah, hari ini ia mengantar putra tunggalnya itu ke tempat istirahat terakhirnya, mulai sekarang dan seterusnya, liang inilah yang akan menjadi tempat istirahat putra tunggal kesayangannya.
Hatinya teriris melihat raga putra tunggalnya itu mulai di masukkan ke liang itu, sekarang raga putra tunggalnya itu sudah tertutup tanah basah. Ibu berjongkok di samping nisan yang tertulis nama putra tunggalnya.
Mengelusnya dengan penuh sayang, seakan itu adalah kepala putra tunggal yang amat ia sayangi.
“Haikal, semoga kamu beristirahat dengan baik di sisi-Nya, semoga sang kuasa menjagamu sepenuh hati di sana, lebih dari ibu menjagamu di sini”.
Suara ibu bergetar mengatakan itu.
“Haikal, semoga besok – besok tidak ada lagi keterlambatan penanganan seperti kamu nak, semoga besok – besok suster dan dokter yang telah di sumpah itu tidak lagi berbuat semena – mena ya nak. Ibu nggak bisa membayangkan sakitnya jadi kamu, Haikal”. Air mata ibu mulai meleleh.
“Kamu bertahan dengan baik sayang, kamu putra ayah dan ibu yang sangat kami sayang, kami menyayangimu sepenuh hati, sepenuh jiwa, dan sepenuh raga”. “Tuhan sayang banget sama kamu, Haikal”.
Setelah mengucapkan itu, ayah dan ibu meninggalkan tempat per istirahatan terakhir putra tunggal kesayangannya itu, dengan hati yang belum sepenuhnya ikhlas. Meski begitu, ia melihat dengan saksama ayah dan ibu yang pergi meninggalkannya sendirian di rumah barunya.
Tanpa rasa sakit lagi, ia tersenyum bahagia. Meski sekarang, dunianya serta dunia ayah dan ibu berbeda.