‎Dai LD PBNU Tiba di Korea Selatan, Gus Ulin: Berdakwah Harus dengan Bahagia dan Cinta

0

RISALAH NU ONLINE, ‎Seoul – Sebanyak 10 dai utusan Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) tiba di Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan, Senin pagi (Februari 2026) pukul 07.40 waktu setempat. Kedatangan mereka disambut hangat oleh jajaran Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Korea Selatan dalam suasana penuh keakraban dan persaudaraan.

‎Rombongan dai yang akan mengisi rangkaian dakwah Ramadhan itu tampak disambut dengan senyum dan candaan ringan dari para pengurus PCINU. Suasana hangat tersebut seolah mengobati rasa haru para dai yang harus meninggalkan keluarga di Tanah Air demi menjalankan amanah dakwah di negeri orang.

‎Rais Syuriyah PCINU Korea Selatan, Gus Ulin Nuha, hadir langsung menyambut rombongan bersama panitia dai internasional, Gus Bekti. Dalam suasana santai, Gus Ulin menyampaikan sejumlah pesan penting terkait pendekatan dakwah di tengah komunitas WNI di Korea Selatan. Menurutnya, kunci utama dakwah adalah kebahagiaan dai itu sendiri. “Para dai yang diundang ke Korea harus selalu bahagia. Kalau sudah bahagia, insya Allah akan mudah membahagiakan orang lain,” ujarnya dengan nada bersahabat.

‎Ia menjelaskan, mayoritas warga Indonesia di Korea Selatan merupakan para pekerja migran yang setiap hari menguras tenaga. Karena itu, pendekatan dakwah tidak seharusnya memberatkan, melainkan menghadirkan ketenangan dan kegembiraan. “Mereka sudah lelah bekerja. Jangan sampai kajian yang disampaikan justru terasa berat. Buat mereka merasakan agama sebagai sumber kebahagiaan,” katanya.

‎Gus Ulin menekankan bahwa pengajian tidak selalu harus berlangsung dalam suasana tegang dan formal. Kajian yang dikemas santai, diselingi dialog ringan, dinilai lebih efektif menjangkau jamaah. “Ngaji tidak harus selalu serius dan kaku. Bisa sambil ngopi, ngobrol santai, tetapi substansinya tetap sampai,” tambahnya.

‎Meski demikian, ia mengingatkan bahwa ciri khas dakwah Nahdlatul Ulama tetap harus dijaga melalui tradisi kajian kitab. Menurutnya, rujukan keilmuan yang jelas menjadi pembeda sekaligus kekuatan dakwah NU. “Kalau bisa, setiap pengajian membawa kitab sebagai referensi. Selama ini banyak kajian umum, tetapi kekhasan NU adalah ngaji kitab, sehingga ada pijakan keilmuannya,” tegasnya. Ia berharap tradisi pesantren tersebut terus dihidupkan dalam setiap majelis taklim di Korea Selatan.

‎Selain metode dakwah, Gus Ulin juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan selama bertugas. Ia mengimbau para dai untuk menyesuaikan diri dengan cuaca Korea Selatan yang cukup ekstrem. “Ke mana-mana pakailah jaket dan sarung tangan. Di sini kalau sakit, proses pemulihannya bisa lebih lama,” pesannya. Ia juga meminta para dai tidak segan berkomunikasi dengan pengurus masjid apabila membutuhkan sesuatu. Menurutnya, kenyamanan dan kesehatan dai sangat bergantung pada keterbukaan komunikasi. “Kalau ada kebutuhan, sampaikan kepada amir masjid. Jangan dipendam sendiri,” ujarnya.

‎Ketika ditanya alasan turun langsung menjemput rombongan di bandara, Gus Ulin menegaskan bahwa dakwah NU harus diawali dengan cinta dan penghormatan kepada para pejuang dakwah. “Siapa pun yang datang ke Korea harus datang dengan cinta dan pulang membawa cerita. Karena itu, saya merasa perlu menyambut mereka secara langsung,” katanya. Ia juga mengajak jamaah untuk terus memperkuat nilai-nilai ke-NU-an, mendukung kegiatan PCINU, serta menjaga amaliah NU, termasuk kepemilikan Kartu Tanda Anggota NU (KARTANU). Dalam selingan gurauan, ia menyebut tanda tangannya memiliki “khasiat”, yang disambut tawa para hadirin.

‎Sementara itu, Kiai Anshori dari Pati turut menekankan pentingnya penguatan amaliah NU di berbagai masjid di Korea Selatan, terutama yang masih berstatus sewa. Menurutnya, konsolidasi keagamaan perlu terus dilakukan agar identitas Ahlussunnah wal Jama’ah tetap kokoh di tengah diaspora Indonesia.

Kegiatan penyambutan ditutup dengan foto bersama sebelum rombongan bertolak menuju kantor PCINU Korea Selatan di Daejeon. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan tersebut menjadi penanda semangat dakwah NU yang terus tumbuh di Negeri Ginseng, menghadirkan Islam yang ramah, berilmu, dan membahagiakan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.