RISALAH NU ONLINE, Daejeon – Rombongan dai Nahdlatul Ulama Worldwide Dakwah melanjutkan perjalanan menuju kantor PCINU Korea Selatan di Daejeon, Senin (16/2/2026), usai mendarat di Bandara Internasional Incheon. Perjalanan darat menuju kota tersebut ditempuh selama kurang lebih dua jam menggunakan bus yang telah disiapkan panitia.
Begitu keluar dari area bandara, para dai langsung disambut udara musim dingin yang menusuk. Berdasarkan pantauan setempat, suhu saat itu mencapai minus dua derajat Celsius, menandakan musim dingin masih berlangsung di Negeri Ginseng.
Sebelumnya, pihak PCINU Korea Selatan telah mengingatkan rombongan agar mengenakan jaket tebal sebagai langkah antisipasi. Namun, suhu ekstrem tetap terasa menyengat. Sejumlah dai tampak berjalan cepat menuju bus, sebagian memasukkan tangan ke dalam saku jaket untuk mengurangi paparan udara dingin.
Salah seorang dai, Tharekh Era, mengaku cukup terkejut dengan suhu yang dirasakannya. Ia menyebut hawa dingin di Korea Selatan jauh lebih menusuk dibandingkan pengalamannya saat menimba ilmu di Maroko. “Dinginnya benar-benar terasa, tidak main-main,” ujarnya sambil merapatkan jaket yang dikenakan.
Setelah seluruh rombongan berada di dalam bus bertuliskan PCINU Korea Selatan, kondisi tubuh perlahan kembali hangat. Bus yang dikemudikan sopir warga lokal itu kemudian melaju menuju Daejeon dengan pendampingan panitia dari PCINU.
Selama perjalanan, Ustadz Bekti bersama tim terus memastikan kenyamanan para dai. Panitia menyediakan fasilitas tethering hotspot agar rombongan tetap terhubung dengan akses internet. Selain itu, kebutuhan dasar juga diperhatikan, termasuk memberi kesempatan berhenti apabila ada yang hendak menggunakan fasilitas toilet.
Di tengah perjalanan, bus sempat berhenti di sebuah area pertokoan. Di lokasi tersebut, para dai menghadapi pengalaman berbeda terkait fasilitas umum. Sebagian besar toilet tidak menyediakan air khusus untuk bersuci, melainkan hanya air siraman kloset. Situasi ini menjadi pembelajaran langsung tentang praktik fikih di lingkungan minoritas Muslim.
Salah satu dai mengingatkan solusi yang diajarkan para ulama, yakni istijmar menggunakan benda padat yang suci seperti tisu. Pengalaman tersebut memperlihatkan relevansi ilmu fikih dalam menjawab kebutuhan umat Islam di berbagai kondisi dan tempat.
Setibanya di kantor PCINU Korea Selatan di Daejeon, rombongan diarahkan ke lantai tiga gedung sekretariat. Para pengurus telah bersiaga menyambut dengan hidangan ringan berupa brownies, kurma, dan minuman hangat.
Setelah beristirahat sejenak dan bersuci dengan fasilitas air panas yang tersedia, para dai melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah di Masjid An-Noor lantai dua. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan makan siang sederhana berupa nasi, ayam goreng khas Korea, serta pelengkap tahu, tempe, dan sambal.
Bagi rombongan, jamuan tersebut tidak hanya sekedar santapan, melainkan wujud nyata khidmah dan perhatian tuan rumah. Pengalaman perjalanan di tengah suhu ekstrem itu menjadi bagian dari dinamika dakwah NU di negeri minoritas Muslim, sekaligus memperlihatkan kesiapan kader dalam mengemban misi keumatan di tingkat global.