Dari Puasa ke Zakat: Membangun Ketakwaan Individu dan Sosial di Masjid Nusantara Akihabara, Tokyo

0

Zakat merupakan instrumen penting dalam sistem ekonomi Islam yang berfungsi sebagai mekanisme distribusi kesejahteraan sosial.

Dalam konteks komunitas Muslim diaspora di Jepang, peran lembaga keagamaan seperti Masjid Nusantara Akihabara menjadi begitu penting sebagai mediator antara muzakky dan mustahik. Karena itu, bagi penulis yang mempunyai tugas sebagai seorang dai, utusan Lembaga Dakwah PBNU, menuntun niat para muzakky merupakan langkah yang bersifat epistemologis sekaligus spiritual.

Niat atau al-Niyyah dalam pandangan Islam menentukan arah orientasi visi seseorang dalam melakukan sesuatu. Dengan itu itu, ditegaskan bahwa orientasi zakat ditujukan semata-mata karena Allah, bukan hanya sebagai kewajiban administratif atau respons emosional terhadap kemiskinan. Dalam kerangka inilah, maka upaya untuk mengedukasi bahwa pada hakikatnya zakat perlu dipadukan dengan kontekstualisasi realitas mustahik di lingkungan muslim minoritas, seperti di kota Tokyo.

Dalam pengematan penulis, di Masjid Nusantara Akihabara, pengelolaan zakat tergolong dilakukan secara profesional, transparan, dan akuntabel. Transparansi distribusi itulah yang memperkuat trust atau kepercayaan para muzakky. Sehingga banyak sekali para muzakky membayar zakat mereka lewat DKM Masjid Nusantara Akihabara. Sementara itu, pemetaan mustahik secara sistematis dilakukan oleh DKM untuk memastikan bahwa zakat tersalurkan sesuai dengan ketentuan syariah.

Di samping itu, dalam kajian Fajr Gathering akhir pekan di Masjid Akihabara, Tokyo, penulis memberikan materi mengenai puasa dan pengendalian diri. Tema ini penulis pilih karena puasa Ramadhan merupakan ibadah yang memiliki dimensi teologis, etis, dan sosial yang integral dalam ajaran Islam. Kewajiban puasa ditegaskan dalam QS. al-Baqarah ayat 183, yang menyatakan bahwa puasa diwajibkan atas orang-orang beriman sebagaimana diwajibkan atas umat-umat sebelumnya, dengan tujuan utama membentuk ketakwaan.

Formulasi ayat mengenai puasa di atas menunjukkan bahwa puasa tidak hanya berorientasi pada praktek ritual, tetapi pada transformasi spiritual yang bersifat universal dan lintas generasi. Dalam penafsiran Ibnu Katsir misalnya, puasa dimaknai sebagai al-imsâk, yakni menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami-istri dengan niat yang ikhlas karena Allah. Penekanan pada niat sebagaimana disinggung di atas hendak menegaskan bahwa dimensi batiniah puasa sebagai sarana penyucian jiwa.

Jika melihat pada sisi etimologis, puasa atau yang dalam Bahasa Arab disebut shaum dan shiyam berarti menahan diri. Definisi itu kemudian berkembang menjadi pengertian terminologis, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan relasi biologis sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Karena itu, Sufyan bin Uyainah memperluas makna tersebut dengan menekankan aspek kesabaran, yakni kemampuan manusia untuk mengendalikan dorongan hawa nafsu, baik nafsu perut, maupun nafsu di bawah perut.

Di lain pihak, Sayyid Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar mendefinisikan puasa sebagai proses menahan diri yang dilakukan demi mengharap ridha Allah serta mendidik kehendak dan hawa nafsu akan pengawasan Allah s.w.t.. Definisi itu hendak menempatkan puasa sebagai instrumen pendidikan moral yang sistematis. Sementara itu, al-Shan‘ani menekankan bahwa aspek legal formal puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan sesuai ketentuan syariat, termasuk menjaga lisan dari ucapan yang diharamkan atau dimakruhkan. Perspektif ini menunjukkan bahwa puasa sebenarnya mencakup banyak aspek, tidak hanya pengendalian fisik dan verbal secara kontinyu, namun juga pengendalian non-fisik agar mental terjaga.

Walhasil, secara keseluruhan, puasa Ramadhan jika diibaratkan lembaga pendidikan, ia merupakan institusi spiritual yang mampu mensinergikan berbagai macam dimensi seperti teologis, etis, dan sosial. Puasa menjadi kawah candradimuka dalam proses pembentukan karakter takwa melalui disiplin diri, kesabaran, dan ketabahan yang bersifat transendental yang berkelanjutan. (Mohammad Khoiron)

Leave A Reply

Your email address will not be published.