RISALAH NU ONLINE JAKARTA – Jum’at (6/03), Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) menggelar rangkaian acara peringatan Harlah ke-71 yang khidmat dan strategis di Jakarta. Mengangkat agenda Tahlil Bersama, Buka Puasa, hingga Dialog Refleksi 71 Tahun IPPNU, acara ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi antara pengurus aktif dengan para alumni lintas generasi.
Acara ini dihadiri oleh deretan tokoh nasional yang merupakan alumni IPPNU, di antaranya Wakil Menteri Koperasi Farida Farichah, M.Si., Siti Nur Azizah (Ketua Majelis Alumni IPPNU), Safira Machrusah (Dubes RI/Mantan Ketum), serta jajaran senior lainnya seperti Ratu Dian, Puti Hasni dan yang lainnya.
Dalam sesi refleksi, Mantan Ketua Umum IPPNU, Ibu Ratu Dian, mengenang tantangan transformasi organisasi pada masanya (2000-2003). Ia menyoroti keberanian melakukan pemangkasan usia pengurus agar IPPNU tetap fokus pada basis pelajar (Gen Z).
“IPPNU harus inklusif, bukan eksklusif. Di jaman saya, kita membuka diri bagi pelajar yang belum berjilbab untuk bergabung karena target kita adalah merangkul seluruh pelajar. Hasilnya, proses organisasi membawa perubahan alami bagi mereka,” ujar Ratu Dian. Ia juga mengapresiasi kemajuan IPPNU saat ini yang telah mampu menembus forum internasional sekelas PBB.
Ketua Majelis Alumni (MA) IPPNU, Siti Nur Azizah Ma’ruf, menegaskan bahwa pembentukan MA IPPNU merupakan langkah strategis untuk mengkonsolidasi potensi alumni yang kini tersebar di berbagai sektor, mulai dari politik, gender, hingga pendidikan.
“Dulu IPPNU terbatas pada lingkungan pesantren, kini telah bertransformasi ke ranah global. Kehadiran tokoh seperti Ibu Farida Farichah (Wamen), Ibu Arifatul Choiri Fauzi dan Ibu Ida Fauziah di pemerintahan adalah simbol keberhasilan distribusi kader IPPNU,” ungkapnya.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Menteri Koperasi Farida Farichah mengingatkan bahwa keberhasilan kepengurusan saat ini sangat bergantung pada dukungan alumni.
“Setangguh apapun Ketua Umum saat ini, jika hubungan dengan alumni tidak terbangun, maka terobosan hebat hanya akan terisolasi dalam satu masa jabatan. Kita butuh akumulasi kekuatan lintas generasi,” tegas Farida. Ia juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali kaderisasi di sekolah-sekolah umum dan Ma’arif sebagai fondasi masa depan NU.
Ketua Umum PP IPPNU, Whasfi Velasufah, menyambut baik dukungan para senior. Namun, ia juga memaparkan tantangan nyata yang dihadapi pelajar saat ini, terutama terkait peningkatan SDM dan relevansi jurusan pendidikan menghadapi Indonesia Emas 2045.
“Kami sedang memikirkan bagaimana ‘hilirisasi’ kader IPPNU. Banyak kader yang ingin menjadi akademisi atau pengusaha setelah lulus, namun seringkali bingung harus kemana. Kami berharap Majelis Alumni dapat menjadi wadah silaturahmi yang mampu mengakomodir potensi ini secara berkelanjutan,” tutur Vela.
Vela melaporkan bahwa saat ini sudah banyak kader IPPNU yang menembus beasiswa LPDP di luar negeri, meski jumlahnya perlu terus ditingkatkan melalui kolaborasi pendampingan bahasa dan mentor dari para alumni.
Acara diakhiri dengan komitmen bersama untuk menindaklanjuti sinergi antara PP IPPNU dan Majelis Alumni, khususnya dalam penguatan kaderisasi di tingkat akar rumput dan pendampingan karier bagi kader yang telah menyelesaikan masa baktinya di organisasi pelajar tersebut.
(Delia)