Jumat waktu Dluha, 26 Ramadhan 193 atau 17 Juli 809, rombongan mulia itu memasuki kota Fustat, Mesir. Gubernur Mesir As-Sirri bin Al-Hakam menyambutnya dengan pemuliaan tinggi. Ia disertai seluruh aparat dan pejabat penting pemerintahannya. Rombongan yang dipimpin Ja’far Al-Muktamin bin Ja’far Shadiq itu langsung menuju Masjid Amr bin Ash yang dibangun tahun 21 H/641 M.
Isterinya, adalah orang yang paling diidamkan kedatangannya itu. Sayyidah Nafisah binti Hasan Al-Anwar mengikutinya. Rombongan lantas menuju makam (kepala) Sayidina Husein dan Sayidah Zainab yang tak jauh dari masjid itu. Rombongan sekitar 20 orang itu berangsur turun dan mengistirahakan unta-untanya yang bertugas selama dua bulan.
“Selamat datang di kota yang dialiri Nil,” kata Sirri. Ia telah menyiapkan rumah untuk sang tamu. “Selama Sayyidah tinggal di sini tuan-tuan tetap menjadi tamuku,” kata Sirri.
“Cukup berikan kami ruangan kecil,” kata Sayyidah Nafisah. Rumah itu cukup besar yang biasanya dipergunakan untuk para tamu pemerintahan. “Kami sangat mencintai nabi kami yang akan kami tumpahkan untuk memuliakan dan mencintai keturunannya,” katanya.
Kedatangan Sayyidah Nafisah ke Mesir menjadi magnet masyarakat untuk datang menziarahinya. Meminta wejangan dan doa. Ia ibarat bintang yang dicintai semua orang. Wajahnya yang teduh di usia 47 tahun, cantik dan anggun yang mnggambarkan kemuliaan keturunannya. Ia juga disebut Hawra, bidadari. Ia juga disebut Nafisah Al-ilmu, yang artinya Nafisah yang penuh ilmu. Lebi dari itu ia dianggap wali besar.
Sayyidah Nafisah lahir Rabu di Mekah pada 11 Rabiul Awal 145 atau 13 Juni 762. Usia lima tahun pindah ke Madinah karena ayahnya Hasan Al-Anwar ditunjuk menjadi gubernur Madinah oleh Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur. Namun, karena ada fitnah dan perselisihan, Hasan tak lama menjabat. Dan Madinah menjadi panas buat keluarga Nabi. Perl;ahan banyak yang meninggalkkan Madinah.
Negeri Mesir memang tengah butuh sosok suci. Tidak butuh derwaman dengan membagikan pundi-pundi. Tak butuh penguasa yang membawa slogan keadilan dan pedang. Negeri ini butuh orang yang menyejukkan, butuh orang yang ketika dilihat selalu memancarkan sinar untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Kedatangan orang suci itu membuat Mesir menjadi lebih teduh. Biar panas menyengat namun segalanya menjadi teduh karena bayang-bayang sang wali. Tak ada kekekarasan. Semakin banyak orang tersadar dengan ilmu dan agamanya. Rumah Sayidah Nafisah semakin ramai wanita yang ingin belajar.
Sejak kedatangan Imam Syafi’I tahun 198, lima tahun kemudian, Mesir semakin semarak dengan lmu. Pagi orang belajar kepada Imam Syafi’i tentang fikih dan usul fikih, sorenya orang belajar tafsir dan tasawuf kepada Sayidah Nafisah. Keilmuan hidup di Mesir. Keberkahan menyelinap pada semua penduduk Mesir. Fustat telah menyaingi Baghdad sebagai pusat ilmu dan budaya.
“Wahai putri Rasulullah,” suatu saat pembantunya bertanya pelan, “mengapa orang-orang saleh satu per satu meninggalkan Madinah?” Nafīsah tersenyum, tapi matanya basah tanpa terasa. “Karena Madinah telah menunaikan amanahnya,” jawabnya. “Sekarang amanah itu sedang mencari tempat lain.”
Hijrah untuk mengajar. Nafīsah tidak datang membawa mazhab baru, ia murid Imam Malik bin Anas. Ia hafal Al-Muwatha’. Ia tidak membangun dinasti, tidak mencari murid. Ia mengajar, menanamkan adab dan membenahi batin. Bahkan ulama besar seperti Imam al-Syafi‘i menghormatinya—ini tanda bahwa hijrahnya adalah untuk menyuburkan ilmu yang telah ada, bukan menggantikannya.
Nafīsah bisa hidup nyaman di Madinah. Mesir adalah kota panas, keras, penuh ketimpangan. Memilih Fustat berarti memilih jalan berat. Ia berhijrah untuk meninggalkan kenyamanan demi kebermanfaatan, terutama di dekat kakeknya.
Sejak hari itu, kota ini tak lagi sama. Debu Nil tetap beterbangan. Penguasa tetap silih berganti. Namun di bawah tanahnya, bersemayam seorang perempuan yang mengajarkan Mesir satu hal sederhana: bahwa kesucian tak selalu berteriak, dan cahaya paling kuat sering datang dengan langkah paling sunyi.
Orang-orang mulai keluar dari rumah-rumah lumpur mereka. Para perempuan berdiri di ambang pintu, menggenggam anak-anaknya. Para lelaki melepas sorban, bukan sebagai penghormatan resmi, melainkan gerak spontan—seperti seseorang yang tak sadar telah berdiri di hadapan sesuatu yang suci.
Ketika Nafīsah melewati lorong sempit menuju Masjid ‘Amr bin ‘Ash, suara pasar meredup dengan sendirinya. Tak ada perintah, tak ada isyarat. Bahkan keledai-keledai tampak lebih jinak, seakan memahami kesungguhan saat itu.
Seorang anak kecil, kakinya penuh debu Nil, berlari mendekat. Ibunya hendak menariknya, namun Nafīsah lebih cepat. Ia tersenyum, meletakkan tangannya di kepala anak itu, dan mengucap doa pendek. Tangisan kecil yang sejak pagi tak reda, tiba-tiba berhenti.
Mesir menjadi hidup cahayanya sejak Sayidah Nafisah berada. Ketika Imam Syafi’I wafat 204 H/819 M ia berwasiat agar bisa disalati Sayidah Nafisah. Jenazah Imam Syafi’i harus dibawa ke rumah Nafisah untuk disalatinya. “Allah menyayangi Asy-Syafi’i. Dia sangat sempurna wudlunya,” komentar Sayidah Nafisah mengiringi kepergian ulama yang selalu menjaga kesucian itu.
Sekitar 15 tahun ia tinggal Mesir dengan dekapan hangat. Sakit datang di bulan Ramadhan. Namun, ia tetap berpuasa. Ketika kematian mendekat, ia justru memperbanyak membaca Al-Quran. Dikatakan ia telah mengkhatamkan Al-Quran 190 kali di biliknya itu.
Saat wafatnya tiba, Fustat menangis. Kamis, 15 Ramadhan 208 atau 25 Januari 824, ia menghembuskan nafas dengan damai. Pergi dengan senyum. Kubur telah ia gali sendiri di biliknya. Ishaq ingin membawa jasadnya kembali ke Madinah. Namun Mesir menolak. “Jangan ambil cahaya kami.” Dalam mimpi, Ishaq berjumpa Nabi, kakeknya yang menginginkan Nafisah tetap menjadi cahaya Mesir. Nafīsah dimakamkan di tanah Kairo yang kini dibangun sebuah masjid megah di sebelahnya. Wilayah itu kemduian diberi nama Kampung Sayidah Nafisah.
Kewalian itu kemudian beruntun di Mesir. Cahaya telah menembus desa Akhmim pada seorang anak usia 13 tahun bernama Tsauban yang kemudian dikenal sebagai wali besar Mesir dengan nama Dzun Nun Al-Misri. Dan kini banyak wali yang dilahirkan dari cahaya seorang wanita berbudi itu.
Disarikan dari Sayyidah Nafisah Karimah Addarain oleh Al-Nabawi Jabr Siraj, terbitan Maktabah Taufiqiyah. (Musthafa Helmy)