Risalah NU Onlie, Jakarta-Industri Pertahanan atau Senjata israel selama ini dikenal sebagai salah satu yang terkuat di dunia. Namun selama ini mereka menjadikan warga Palestina sebagai kelinci lab senjata mereka.
Selama ini, Israel dikenal sebagai salah satu negara yang dikenal kuat militernya dengan persenjataan yang canggih. Namun satu hal yang selama ini jarang diketahui publik, Israel selama ini memiliki industri senjata yang informasinya ditutupi dan menjadikan warga Palestina sebagai kelinci percobaan senjata mereka. Hal ini ditandai dalam setiap promosi persenjataan mereka ke negara lain, mereka selalu melabeli persenjataan mereka sebagai “Battle-tested” atau teruji dalam pertempuran. Selain itu, Israel juga dianggap memiliki kekuatan propaganda yang cukup kuat dalam mendukung setiap narasi mereka serta mensensor setiap isu terkait Palestina.
Hal ini dituliskan oleh penulis Australia, Anthony Loewenstein, dalam buku “Laboratorium Palestina” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Marjin Kiri. Yang mana, buku ini kemudian dibahas dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina pada tanggal 11 Maret 2026 di Toko Buku Ojo Keos, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Diskusi ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Angga dari Resistance Jakarta dan GERAK Palestina serta Alifa Ardhyasavitri dari PUSAD Paramadina, dan juga bisa diikuti melalui daring via Zoom dan Youtube..
Yang menarik dari buku ini adalah bagaimana buku ini ditulis oleh seorang Yahudi Australia, yang mengaku walaupun dia mengikuti tradisi Yahudi, namun dia seorang Ateis. Loewenstein misalnya menyebutkan di pendahuluan bahwa dia tumbuh di lingkungan Komunitas Yahudi yang menganggap Zionisme dan keamanan Israel cukup penting untuk melindungi eksistensi umat Yahudi dari musuh yang ingin menyingkirkan mereka. Loewenstein kemudian menjadi salah satu aktivis Yahudi yang aktif mengadvokasi isu-isu terkait Palestina, yang mana ia sempat menyaksikan secara langsung kekejian pemukim dan tentara Israel ke warga Jerrusalem Timur, ketika ia tinggal di wilayah Sheikh Jarrah.
Dalam buku ini dijelaskan bagaimana Israel menjual persenjataannya tanpa pandang bulu, selama bukan negara yang menjadi ancaman keamanan mereka. Alifa misalnya menyatakan bagaimana Israel selama ini mengklaim kalau Israel sebagai negara yang mempersenjatai diri sendiri untuk melindungi umat Yahudi dari ancaman-ancaman Anti-semit di dunia. Namun faktanya mereka tidak masalah menjalin hubungan dengan negara-negara Amerika Latin yang dikenal Antisemit dan menjadi tempat persembunyian buronan NAZI Jerman. Disini ibaratnya, jika mereka disuruh memilih menyalamatkan warga Yahudi di negara-negara yang dikenal Antisemit atau menjual senjata ke negara tersebut, mereka akan memilih menjual senjata ke negara tersebut.
Dalam Bab I buku tersebut misalnya dibahas bagaimana Pemerintah Israel aktif mempersenjatai rezim militer Auguste Pinochet di Chili usai menggulingkan Salvador Allende, yang mana Pinochet sendiri banyak mempersekusi orang Yahudi di negara tersebut pada periode 1970-an. Selain Amerika Latin, Israel juga aktif membangun hubungan dagang dengan negara-negara dari kawasan lain baik Asia, Afrika maupun Eropa Timur, termasuk Indonesia. Salah satu hal yang banyak dijual oleh Israel adalah pelatihan anti-terrorisme dan alat Surveillance mereka yang diklaim canggih. Bahkan di tengah masa pandemi pada tahun 2021, Industri Senjata Israel mencatatkan penjualan tertinggi, dimana salah satu yang membeli alat Surveillance Israel adalah PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang mengklaim membeli alat tersebut untuk memantau persebaran virus COVID.
Dalam propagandanya, Israel mengklaim mereka adalah yang terbaik dan efektif dalam memerangi terorisme dan menjaga keamanan. Yang mana banyak dari tentara dan aparat yang dilatih bagaimana menggunakan senjata tertentu, kemudian bagaimana mereka menginstall virus untuk dimasukkan ke dalam telpon seluler dari orang yang dianggap berbahaya bagi keamanan nasional. Banyak bukti yang menyebutkan bahwa Aparat yang dilatih oleh tentara Israel setelah kembali ke negaranya justru menjadi lebih brutal dan represif kepada rakyatnya, yang mana kebanyakan korbannya adalah rakyat adat. Dalam setiap kampanye penjualannya, pemerintah Israel memang tidak pernah menyebutkan warga Palestina yang menjadi korban dari serangan agresif Israel tersebut. Bahkan kebanyakan korbannya adalah warga yang tidak bersalah, termasuk perempuan dan anak-anak.
Salah satu hal yang menarik adalah banyak dari negara yang belajar dari Israel kemudian mencoba menduplikasi apa yang dilakukan oleh Pemerintah Israel kepada Warga Palestina. Salah satunya adalah Pemerintah India. Yang mana sejak terpilihnya Narendra Modi, dari Partai Bharatiya Janata Party (BJP), pengaruh Hindu nasionalis di India cukup meningkat dan Israel menjadi salah satu negara yang menjadi rujukan Hindu Nasionalis, yang mana Israel dan Hindu Nasionalis menganggap keberadaan mereka sama-sama terancam oleh keberadaan Negara-negara Islam di sekitar mereka.
“Apa yang dilakukan oleh india di Kashmir itu make sense juga ketika India minta asistensi Israel, dan apa yang dilakukan Israel di Palestina itu coba direplikasikan India di Kashmir.” ucap Alifa yang juga memiliki latar belakang Hubungan Internasional dan mediator tersetifikasi tersebut.
Pada akhirnya, Alifa menegaskan bahwa buku ini memberikan paradigma baru terhadap Kolonialisme yang dilakukan oleh Israel di Palestina. Buku ini mengungkapkan bagaimana strategi Israel dalam menjual senjatanya ke negara lain, yang kemudian hasil penjualannya digunakan untuk meneruskan penjajahan yang mereka lakukan di Palestina.
Bagaimana Melawan Propaganda Israel
Selain membahas bagaimana Industri Senjata, dalam diskusi ini juga dibahas bagaimana propaganda Israel dalam mendukung setiap agresi dan pelanggaran hukum yang mereka lakukan. Angga misalnya menyebutkan dalam satu bab di buku Laboratorium Palestina, ia menyebutkan bagaimana Meta begitu aktif menghapus setiap konten yang menunjukan dukungan pada Palestina. mereka kemudian berdalih bahwa itu adalah masalah teknis, namun faktanya kejadian tersebut begitu sering terjadi, yang mana setia postingan dengan tagar Pro – Palestina begitu mudah menghilang. Hal ini kemudian membuat kita merasa sulit untuk konsisten berbicara soal isu Palestina.
Salah satu contohnya dijelaskan Angga bagaimana sebelum Serangan Hamas 7 Oktober, ia begitu sulit mengadvokasi setiap isu yang mendukung kemerdekaan Palestina, karena ia akan dianggap sebagai seorang Antisemit dan benci Yahudi. Ini juga yang menjadi salah satu tantangan untuk mengedukasi masyarakat bagaimana memisahkan Zionisme dengan Yahudi. Kebanyakan orang termasuk di Indonesia menganggap Zionisme dan Yahudi adalah setali tiga uang. Padahal ideologi Zionisme adalah ideologi yang baru muncul di akhir Abad 19, yang mana itu dicetuskan oleh Theodore Herzl, seorang Jurnalis dan Pengacara Yahudi asal Hungaria. Ideologi tersebut tidaklah populer hingga tahun 1960-an, dimana Israel menggunakan propaganda bahwa mereka adalah tempat yang aman untuk komunitas Yahudi di seluruh dunia serta cahaya penerang di Timur Tengah dari komunitas barbar di sekitarnya, yang mana yang dimaksud tentunya adalah negara Arab.
Dalam wawancara terpisah dengan Jurnalis Risalah NU, Angga juga menegaskan bahwa solidaritas mendukung Palestina tidak didorong hanya berdasarkan landasan agama, walaupun ia tidak melarang hal tersebut, namun ia juga menegaskan bahwa saat ini ada cukup banyak dukungan untuk warga Palestina dari warga di seluruh dunia dari berbagai keyakinan, termasuk Kristen dan Yahudi, sehingga landasan yang dipakai untuk solidaritas adalah landasan anti-kolonialisme dan anti-imperialisme. Apalagi ajaran Islam sendiri sejak dulu juga mengajarkan untuk melawan setiap bentuk penindasan dan penjajahan. Hal ini juga senada dengan bagaimana Nahdlatul Ulama dulu berjuang bersama rakyat Indonesia melawan Kolonialisme Belanda. Sehingga ketika dukungan untuk Palestina diserang oleh Hasbara sebagai gerakan Anitisemit atau Anti-Yahudi maka itu bisa dibantah karena ada orang-orang Yahudi yang ikut berjuang bersama kita.
“Kalau dibilang kita Anti-Yahudi, nyatanya orang Yahudi juga berjuang bersama kita. Jadi itu Yahudi yang mana? ya itu sudah pasti Zionisme.” ujar Angga dalam wawancara dengn Risalah NU.
Saat ini ada banyak negara di dunia yang mengakui keberadaan Palestina, seperti Inggris, Perancis dan Belanda. Hal tersebut dilakukan bukan karena para pemimpin negara tersebut adalah orang yang baik, namun lebih karena banyaknya desakan di akar rumput untuk mendorong terwujudnya negara Palestina yang merdeka. Angga juga menegaskan bahwa saat ini terjadi pergeseran opini di masyarakat Barat terkait dukungan untuk Palestina. Angga sempat bercerita pengalamannya ketika kuliah di Australia, ketika para pendukung Israel tidak bisa melawan pendukung Palestina secara langsung karena kalah jumlah, maka mereka melakukan kampanye hitam untuk membunuh pengirim pesan. Seperti mengedit foto salah satu temannya yang sedang mengambil buku di perpustakaan dengan menggantinya seakan sedang melakukan salam NAZI. Akan tetapi langkah tersebut tidak pernah berhasil dan faktaya dukungan untuk Palestina setiap tahun semakin meningkat. Bahkan tahun lalu di kota Sydney, tercipta rekor aksi massa mendukung Palestina terbesar dalam sejarah, dimana diperkirakan 90.000 orang dari seluruh Australia mengukuti aksi solidaritas untuk Palestina di sekitar Gedung Opera.
Dalam wawancara terpisah dengan Jurnalis Risalah NU, ketika ditanya soal propaganda Hasbara bahwa peperangan Israel melawan Palestina adalah perang melawan Islam Radikal, Alifa menegaskan bahwa itu adalah paradigma yang salah. Palestina sendiri walaupun mayoritas Muslim namun merupakan tempat suci bagi tiga agama, yaitu Islam, Kristen dan Yahudi. Apa yang dibingkai sebagai radikal itu adalah memperjuangkan tanah kelahiran mereka sendiri.
“Apa sih yang radikal dari membela tanah kelahiran mereka sendiri? Ada orang datang dipersilahkan masuk, eh malah mereka mengambil tanah (Warga Palestina). Palestina juga pasti tidak akan diam aja.” tegas Alifa dalam wawancara tersebut.
Alifa juga mengungkapkan bahwa Kolonialisme Israel ke Palestina dan negara-negara di sekitarnya bukan hanya memiliki dampak terhadap satu agama saja tetapi semua yang berada di wilayah tersebut akan berdampak. Karena itu, jadi isu Palestina ini harus bisa menjadi isu yang sensitif dan mengeratkan kita semua. Karena ini adalah isu universal yang memiliki dampak di sektor lain seperti lingkungan hidup, gender, Hak Asasi Manusia, Hak Masyarakat adat dan lainnya. Karena itu penting juga untuk berkoalisi dengan organisasi yang berfokus pada masalah tersebut. Bahkan akibat agresi Israel di Iran, sekarang dampaknya juga bisa dirasakan sampai Indonesia, dengan bagaimana stok minyak kita yang hanya bisa bertahan hingga 20 hari.
Salah satu isu yang juga sering dibawa oleh Hasbara dalam propagandanya adalah isu gender. Dimana Agresi Israel dianggap sebagai sesuatu yang bertujuan membebaskan wanita-wanita di Gaza yang sering direpresi oleh Hamas. Selain itu, isu ini juga sering dibawa sebagai justifikasi atas serangan terhadap Iran yang saat ini sedang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat. Menanggapi hal ini, Alifa menganggap itu adalah sesuatu yang sudah usang dan tidak terbukti. Mereka selama ini menganggap wanita hanya bisa berkembang dan hidup layak dalam sistem demokrasi dan Islam bertentangan dengan demokrasi. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Dalam Islam misalnya, sejak dulu perempuan sudah diberikan hak untuk belajar. Kemudian Islam sendiri faktanya adalah agama yang memuliakan perempuan. Kemudian faktanya banyak wanita di Palestina dan Iran itu adalah wanita yang terdidik dan memiliki gelar akademis, hingga level Doktor. Alifa tidak lupa menekankan pentingnya pergeseran lensa yang selama ini memandang feminisme dan perjuangan perempuan dari lensa Barat, yang selama ini menganggap Hijab sebagai bentuk opresi terhadap tubuh wanita. Padahal Hijab itu sendiri adalah pilihan dan bukan paksaan.
“Jadi Narasi membebaskan perempuan adalah sesuatu yang tidak perlu. Itu justru menjadi sesuatu yang memecah belah kaum perempuan. Padahal ideologi Feminisme itu saling menaikkan hak perempuan. Feminisme sendiri tidak pernah menjatuhkan hak satu perempuan untuk menaikkan hak perempuan lain. ”Tegas Alifa kembali.
Pada akhirnya, perjuangan membela Palestina bukanlah perjuangan yang mudah. Melalui Buku Laboratorium Palestina sendiri kita bisa mengetahui bagaimana teknologi Israel yang selalu terdepan dan gencarnya mereka melakukan perang Informasi terhadap setiap konten yang pro- Palestina. Namun seperti yang ditekankan oleh para pembicara di penutup diskusi, kita bisa mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus berjuang dan melawan. Bahkan ketika postingan dihapus oleh Sosial Media, maka kita terus mengunggah kembali bahkan dengan akun baru, karena jika kita berhenti melawan, maka disitulah mereka akan merasa menang. (Kharizma)