Antisipasi Dampak Perang Timteng, PBNU Siapkan ‘Digdaya’ untuk Proteksi Warga hingga Tingkat Akar Rumput
RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyiapkan langkah antisipasi dalam menghadapi ancaman krisis ekonomi akibat eskalasi geopolitik global. Melalui aplikasi digital Digdaya, PBNU menargetkan sistem proteksi dan bantuan sosial untuk menjangkau warga hingga tingkat akar rumput (Ranting dan Anak Ranting) pada Juni 2026.
Ketua PBNU, KH Ulil Abshar Abdalla, menyatakan bahwa aplikasi ini menjadi upaya melindungi basis massa dari dampak seperti kenaikan harga pangan atau kesulitan ekonomi.
“Ketua Umum (Gus Yahya) sudah merencanakan pada Juni tahun ini, aplikasi Digdaya sudah menjangkau tingkat ranting. Jika situasi memburuk akibat perang berkelanjutan, kita bisa menggerakkan struktur ini untuk membantu warga di bawah yang terdampak kesulitan ekonomi,” ujar Gus Ulil di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Aplikasi Digdaya dirancang untuk mendata ulang warga NU secara presisi sesuai dengan ketentuan AD/ART, di mana setiap ranting minimal memiliki 25 anggota. Dengan data yang akurat dan terintegrasi secara digital, PBNU dapat memastikan penyaluran bantuan atau intervensi ekonomi lainnya tepat sasaran dan cepat dilakukan saat krisis terjadi.
Selain langkah digitalisasi, upaya diplomasi juga telah dijalankan Ketua Umum PBNU melalui safari ke kedutaan besar negara-negara kunci konflik Timur Tengah, termasuk Iran, Arab Saudi, dan Amerika Serikat. Diplomasi tersebut bertujuan memantau situasi sekaligus memetakan implikasi besar terhadap stabilitas nasional.
“Prinsipnya, kita tidak boleh seperti penonton sepak bola yang mendukung sini atau sana. Fokus kita adalah memikirkan dampak perang ini terhadap kehidupan riil masyarakat Indonesia,” tegas Gus Ulil.
(Anisa)