RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, bertemu dengan Kuasa Usaha ad Interim Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta Peter M. Haymond. Pertemuan berlangsung di kediaman Duta Besar di Jalan Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat pada Rabu (1/4/2026) siang.
Dalam pertemuan tersebut Haymond ditemani sejumlah diplomat senior Kedutaan Besar AS, di antaranya Konselor Bidang Politik Peter Muehlike dan Wakil Konselor Politik urusan dalam negeri Todd Campbell. Sementara itu, Gus Yahya ditemani dua fungsionaris PBNU, yaitu Ketua PBNU Ulil Abshar Abdalla dan Wakil Sekjen PBNU M. Najib Azca.
Pertemuan tersebut merupakan rangkaian dari silaturahmi Lebaran yang dilakukan Gus Yahya kepada sejumlah Duta Besar negara sahabat dalam ikhtiar mewujudkan perdamaian di Timur Tengah yang sedang mengalami krisis serius disebabkan perang Israel-AS dan Iran.
Upaya diplomasi yang dilakukan PBNU diawali dengan bertandang ke Dubes Iran Mohammad Boroujerdi pada 27 Maret 2026, disambung pada 31 Maret bersilaturahmi dengan Dubes Arab Saudi Syekh Faisal Abdullah Al-Amudi. Lalu kunjungan pada 1 April ke Kedubes Amerika Serikat.
Dalam pertemuan tersebut, Gus Yahya menggali pandangan Duta Besar Interim AS Peter Haymond terkait situasi yang sebenarnya terjadi di Timur Tengah dan langkah-langkah perdamaian yang dapat ditempuh.
Haymond Ungkap Alasan AS-Israel Serang Iran
Haymond menjelaskan bahwa Amerika Serikat mendukung Israel menyerang Iran karena adanya ancaman keamanan serius dari Iran kepada Israel dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah.
Dia meyakini jika tidak dilakukan langkah penyerangan terhadap Iran, maka ancaman keamanan itu bisa terjadi nyata. Bahkan menurut Haymond, ada kemungkinan senjata berbahaya yang dikembangkan oleh pemerintah Iran (termasuk nuklir) bisa jatuh ke tangan kelompok ekstremis dan teroris.
Ketika Gus Yahya bertanya tentang prospek deeskalasi dan perdamaian, Peter Haymond meyakini bahwa pemerintah AS sedang mencari jalan bagi penghentian perang. Namun demikian, pemerintah AS juga ingin memastikan adanya jaminan keamanan bagi negaranya dan para sekutu utamanya, termasuk negara-negara Islam di Timur Tengah dan Israel.
Dalam obrolan tersebut, Gus Yahya mempertanyakan sebuah keganjilan, jika pemerintah AS mengupayakan perdamaian, mengapa mengirimkan tentara dalam jumlah besar ke Timur Tengah seolah menyiapkan serangan darat besar-besaran ke Iran?
Haymond menjawab bahwa itu merupakan langkah antisipatif untuk menyiapkan kemungkinan terburuk jika upaya diplomatik dan perdamaian menemui kegagalan.
Dalam pertemuan tersebut Gus Yahya menyampaikan dengan tegas bahwa umat Islam Indonesia, khususnya warga Nahdlatul Ulama (NU), menyesalkan terjadinya perang yang memakan banyak korban manusia serta menimbulkan dampak ekonomi dan sosial yang buruk secara global.
Ia kembali menyampaikan pesan damai PBNU agar penghentian perang segera dilakukan serta upaya deeskalasi dan perdamaian harus secepatnya diwujudkan.
“Perang merupakan bencana kemanusiaan, kita harus memilih dialog dan diplomasi sebagai upaya penyelesaian konflik antarpihak,” tegas tokoh pesantren asal Rembang itu. (hud/rls).