
Oleh: Hikmatul Malikah, SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT Jombang
Langit sore di atas asrama memantulkan cahaya jingga yang lembut. Dari jendela kamar, kulihat beberapa santri baru berdiri dengan wajah gugup di depan aula. Entah kenapa, pemandangan itu membuatku tersenyum kecil. Seolah selalu menyuruhku untuk mengingat saat pertama kali aku menginjakkan kaki di asrama ini.
Dengan hembusan angin sore yang berhembus pelan, meniup ujung jilbabku. Aroma tanah basah memberikan sensasi yang nyaman, tenang, dan menenangkan, mengingatkanku pada kampung halaman dan suara lembut Umi setiap kali membangunkanku untuk salat Subuh.
Sudah hampir satu tahun aku di sini. Banyak hal yang berubah. Tapi setiap kali aku melihat santri baru datang, hatiku seolah diajak kembali pada hari itu — hari ketika aku belajar tentang arti kemandirian, dan tentang bagaimana doa bisa menjadi penopang langkah yang paling sunyi. Kututup mushafku, sambari menarik napas dalam, lalu memejamkan mata pelan.
“Ya Allah…” bisikku, “terima kasih karena telah menguatkanku sejauh ini.”
Dan tiba-tiba, kenangan itu datang begitu jelas — kenangan tentang pelukan terakhir Abi dan Umi, tentang awal perjalananku menuju asrama ini.
Semilir angin berhembus pelan meniup ujung hijabku. Di sini aku sekarang, berjalan dengan langkah kaki yang berat, tapi aku tahu aku kuat, menyusuri bangunan yang terlihat begitu asing bagiku. Aku tahu ini semua adalah skenario Allah, yang memang sangat istimewa untuk seorang hamba biasa sepertiku. Aku mensyukuri hal itu, tapi terkadang aku berpikir, apakah semua ini harus aku jalani dengan penuh perasaan yang sebenarnya tidak terlalu aku nikmati? Atau aku harus menolak permintaan dari Abi dan Umi? Tapi aku tidak setega dan sekuat itu untuk menolak permintaan sederhana dari orang yang sangat berarti dalam perjalaan hidupku. Maka, inilah keputusan akhir yang aku ambil dengan penuh ridho dari Abi dan Umi.
Namaku Malika. Kata Abi, setiap namaku dipanggil, itu artinya mereka sedang mendoakanku agar kelak aku bisa menjadi perempuan yang kuat dan bisa berdiri tegak di tengah
badai topan yang siap menelanku hidup-hidup. Mungkin ini saatnya doa dari setiap orang yang memanggilku diuji langsung dalam kehidupanku. Saatnya aku harus membangun kemandirian dalam diriku, harus jauh dari Abi dan Umi, dan harus memulai hidup berdampingan dengan beragam karakter hamba yang diciptakan oleh Allah, Sang Maha Pencipta.
Aku teringat pelukan terakhir dari Umi saat akan meninggalkanku. “Sayang… jadilah perempuan kuat seperti Ibunda Maryam ya, yang selalu kuat saat badai datang,” bisiknya sambil mengusap punggungku. Abi tak berkata banyak, hanya memelukku dengan sedikit senyuman — sebuah senyum yang terdapat ribuan doa dan harapan untukku.
Ingin rasanya kuulang perpisahan itu, ingin rasanya tak kulepas pelukan itu. Tapi apa boleh buat, ustadzah baruku sudah datang mengajakku masuk ke asrama yang mana akan menjadi rumah tempatku singgah sementara waktu.
Kuseret koper yang penuh dengan pakaian dan barang-barangku, berdampingan dengan ustadzahku yang sekaligus memberitahuku setiap sudut asrama, sambil memperkenalkanku kepada beberapa santriwati yang kebetulan berlalu-lalang di sekitar kami. “Malika, ini kamar kamu ya,” ucap beliau sambil membuka pintu kamar baruku.
“Iya, ustadzah. Terima kasih banyak,” ucapku dengan senyum yang kuusahakan sesempurna mungkin, walau hatiku bertepuk sebelah tangan dengan kenyataan ini. “Oh iya, satu lagi. Aisyah… tolong dibantu ya teman barunya,” titah beliau. “Baik, ustadzah,” jawab seseorang yang ternyata bernama Aisyah, sambil menutup buku yang tadi ia baca. “Saya tinggal dulu ya. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam,” jawabku serempak dengan Aisyah.
Aku tersadar dari lamunanku saat kudengar ketukan pelan dari pintu sambil sayup sayup kudengar namaku dipanggil. “Iya?” jawabku sambil menghampiri pintu kamarku, Kubuka engsel pintu kamar perlahan. “Mbak, dipanggil sama ustadzah yuni dikamarnya, ya,” sahutnya setelah aku membuka pintu. “Kenapa, Dek?” tanyaku dengan pikiran penuh tanda tanya.
“Nggak tahu, Mbak. Tadi Ustadzah Yuni cuma minta tolong bilang ke Mbak Malika,” jawabnya. “iya, terima kasih ya dek” ucapku tak lupa sebelum dia meninggalkan ku. Tumben Ustadzah manggil aku, kenapa ya? Aku salah apa? Aku ngelakuin apa ya?
Kepalaku dipenuhi dengan beragam kata apa dan apa. Kulangkahkan kaki mungilku ke kamar para ustadzah sambari bibirku kulafazkan banyak-banyak sholawat Nabi, karena aku yakin dengan bertawasul kepada Rasulullah, Allah akan selalu memberikan yang terbaik menurut versinya.
Kuketuk pintunya pelan dengan tangan, kuucapkan salam, “Assalamu’alaikum, Ustadzah,” kuulang sekitar tiga kali karena tidak ada sahutan sama sekali. Hingga akhirnya kudengar, “Iya, dek, masuk… Malika ya?” sahut beliau dari dalam kamarnya. “Iya, Ustadzah,” jawabku sedikit gugup. Kubuka engsel pintu kamarnya perlahan, kumantapkan
kakiku untuk masuk ke dalam kamar. “Ustadzah cari saya, iya?” tanyaku memastikan. “Iya, Malika. Kamu dapat pesan dari Ibu Nyai untuk melanjutkan hafalan Qur’an dengan beliau,” sambung Ustadzah, menjawab sudah semua teka-teki yang telah terangkai dalam imajinasi otak liarku. “Oh iya, Ustadzah, terima kasih infonya. Kalau begitu saya pamit ya, Ustadzah. Terimakasih banyak,” sambungku setelah keperluanku selesai. Kukecup tangan beliau sebagai bentuk rasa hormat sebelum kutinggalkan kamarnya.
Sambari berjalan aku berpikir, kenapa aku diutus untuk melanjutkan hafalan Qur’an-ku di Ibu Nyai? Dan aku telah menemukan jawabannya setelah kuputar otak tiga ratus enam puluh derajat, bahwa asramaku memang memiliki metode bahwasannya setiap santri yang telah memiliki hafalan lebih dari setengah Al-Qur’an, maka ia akan melanjutkan hafalan langsung didampingi oleh Ibu Nyai asramaku.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah tiga bulan lamanya aku menghafalkan Al Qur’an langsung didampingi dan dibina oleh Ibu Nyai asramaku. Jatuh, bangun, berjalan, dan merangkak sudah kulewati semua. Kata teman-temanku, salah satu tahap seru dalam menghafal Al-Qur’an adalah kala itu, di mana hafalan yang terlihat mudah, tetapi bila kita setorkan kepada Ibu Nyai, maka ia akan menghilang tatkala kita akan melafazkan awal hafalan.
Menangis karena muroja’ah yang tak kunjung lancar, padahal ada hari esok di mana aku harus menyetorkan muroja’ah itu.
Kita hidup di bawah atap yang sama, maka tak dipungkiri untuk saling menguatkan satu sama lain.
Saling menerima pelukan hangat dan siap mendengarkan curhatan dalam sesi apa saja. Sama-sama memberikan motivasi bijak yang suatu saat pasti akan diucapkan dalam bentuk saling menguatkan. Dan salah satu kata-kata bijak yang paling aku suka adalah: “Allah akan selalu melihat proses yang telah kita lewati, bukan akhir dari kita akan menjadi apa dan bagaimana.” Karena dari kata-kata ini, aku lebih bijak dalam mengambil setiap langkah untuk aku jadikan bagian dari proses yang telah aku rencanakan ke depannya.
Aku tersenyum kecil, kutatap luar jendela kamar dari balkon asramaku. Ada semburat bulan purnama yang begitu sempurna cahayanya, ikut serta dalam pencahayaan malam yang gelap gulita. Akan tetapi, bintang juga tak ingin kalah dalam pancahayaan. Ia juga ingin ikut andil dalam menerangi malam yang gelap gulita.
Kututup mushaf Al-Qur’anku. Kuambil air wudu, kulaksanakan salat tahajud pada sepertiga malamku. Kutengadahkan dua telapak tanganku, kuserahkan semua keluh kesahku kepada Sang Pemilik Kehidupan kumohon segala yang terbaik untuk hari ini. “ya Allah aku mohon yang terbaik untuk hari ini, perlancarkan hafalan Qur’an ku sebagaimana engkau lancarkan aliran air sungai tanpa hambatan, dan aku yakin semua yang terbaik pasti telah engkau persiapkan sedemikian rupa, dan semoa segal upaya yang telah aku usahakan akan menjadi finish dihari ini.” Kukuatkan doaku dan kulafalkan doa Rasulullah saat memohon kebaikan untuk semua urusannya. Kutunggu adzan subuh dengan mata yang terpejam. Kurasakan kantuk dikarnakan aku yang begitu ambis dengan kelancaran hari ini.
Adzan subuh berkumandang, membangun kan ku dari tidur sekejap selesai sholat tahajud. Ku lepas mukenah putih ku, ku langkahkan kaki ku untuk mengambil air wudhu. Menunggu jama’ah subuh Ku laksanakan sholat sunah qobliyyah subuh. Dan dilanjut dengan sholat jama’ah subuh bersama dengan teman teman dan ustadzah-ustadzahku.
Hari ini, adalah hari dimana hafalan Al-Qur’an ku akan di tes bersama umi dan abiku, dites kelancarannya oleh para ustadzah dan khususnya ibu nyai asramaku. Setelah banyak nya rintangan yang harus aku lewati, hingga sekarang aku bisa ada dititik ini. Telah aku usahakan
sedemikian rupa untuk hasil yang serupa. Maka tak khayal bila aku menginginkan yang terbaik untuku dalam hal ini. “malika, hari ini tes tiga puluh juz satu hari ya.. diusahakan yang terbaik tapi jangan terlalu merasa terbebani..selagi kamu yakin maka lanjutkan” ucap ustadzahku, menasehati dan memberikan arahan kepada ku. “Siap ustadzah, umi sama abi jadi datang kan ustadzah?” Tanyaku memastikan agar aku lebih enak nantinya. “jadi kok malika.. jangan terlalu dipikirkan yang terpenting usahakan yang terbaik untuk dirimu sendiri ya..ini kan juga untuk abi dan umi mu kan..pasti abi dan umu senang dapat kabar ini ..semangat ya..”jawab ustadzah dengan nada lembutnya.
Tes pun dimulai. Satu per satu halaman ku baca dengan penuh kehati-hatian, seolah setiap hurufnya kutanamkan ke dalam hatiku. Di awal, semua berjalan lancar. Tapi memasuki juz ke-26, tiba-tiba lidahku kelu. Ayat yang selama ini kulafalkan dengan mudah mendadak menghilang dari ingatanku. Tanganku bergetar, suaraku pecah. “Kenapa… ayatnya ke mana?” batinku panik. Kucoba ulang, tapi semakin kuusahakan, justru semakin hilang. Ku ingat lebih dalam ternyata sama sekali tak ada bayangan.. Kulihat wajah Ustadzah Yuni, Ibu Nyai, juga kedua orang tuaku yang duduk di barisan belakang.
Senyum mereka lembut, tapi entah kenapa justru membuat air mataku jatuh. Aku merasa gagal. Aku merasa bahwa hidup ku lagi lagi mengecewakan abi dan umiku. “Malika… istighfar dulu, Nak,” ucap Ibu Nyai pelan. Ku lafadzkan istighfar pelan dengan badan yang bergetar umi datang menghampiriku memeluku dan menenangkan ku. “sayang..gak papa ..kamu hebat.. mungki belum saat nya ya..terkadang sesuatu mau sebaik apapun jika Allah belum memberikan jalannya maka tidak bisa..oke.. istigfar sayang..” tenang umiku dengan lembut sambil menenangkanku.
Umi terus memelukku. Dalam pelukan itu, aku merasa tenang. Air mataku masih mengalir, tapi bukan lagi karena kecewa — melainkan karena aku sadar, mungkin inilah cara Allah mengajarkanku arti ikhlas yang sesungguhnya. Hari itu, aku tidak menamatkan hafalanku. Tapi aku tahu, Allah sedang menamatkan satu bab penting dalam hatiku: bab tentang ikhlas dalam perjuangan. Malamnya, aku kembali membuka mushafku. Kuhapus sisa air mata yang menetes di atas lembaran ayat suci itu. “Ya Allah,” bisikku, “jika belum Kau izinkan aku menuntaskan hafalan ini hari ini, izinkan aku menuntaskan rasa syukurku kepada-Mu di setiap hari.”
Ku tersenyum kecil, karena kini aku paham — kalah hari ini, bukan berarti gagal. Tapi sedang disiapkan untuk menang dengan cara yang lebih indah nanti.
Dan dari sini aku mulai belajar bahwa segala sesuatu yang kita rasa baik untuk diri kita sendiri belum tentu baik menurut Allah. Apalagi segala sesuatu yang kita usahakan tanpa adanya Allah dalam usaha kita. Aku tak hanya belajar tentang ikhlas tapi juga kuat dan sabar bahwa semua akan indah diwaktu yang amat sangat indah pula.