Jika kita ke al-Haram al-Madanî, sebutan untuk Haram Madinah atau Masjid Nabawi, di sebelah barat ada sebuah bangunan kuno yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan modern nan mewah. Corak arsitekturnya, bangunan tersebut seperti masjid, mempunyai kubah dan menara. Oleh pemerintah Saudi, bangunan itu dimasukkan ke dalam kategori “Heretage” atau warisan sejarah yang hingga kini masih tetap berdiri kokoh.
Bangunan yang saya maksud adalah “Masjid al-Ghamâmah”, di mana menurut data yang saya dapatkan, masjid ini merupakan tempat di mana Rasulullah s.a.w. melakukan shalat istisqa, atau shalat minta hujan. Dilihat dari namanya saja, ” Al-Ghamâmah” mempunyai arti “awan”. Jika kita pahami, makna berawan adalah cuaca yang tidak panas alias dingin atau adem. Dalam kamus al-Ma’ânî disebutkan “Ibnu al-Ghamâm” maknanya adalah “al-Baradu” yang berarti dingin.
Dalam Sirah Nabawiyah, kita pernah mendengar kisah Rasulullah waktu remaja, di kisaran usia 12 tahun, beliau mengikuti pamannya, Abu Thalib berdagang ke Syam. Selama perjalanan, beliau dinaungi awan, sehingga tidak merasakan panas terik matahari sama sekali. Kisah itu kemudian ditulis dalam karya sastra terkenal “Qisshah Maulid al-Barzanjî” karya Sayyid Ja’far al-Barzanjî. Salah satu babnya adalah “Assalâm” tertuang dalam bait syair:
اَلسَّـلاَمُ عَـلَى الْمُقَدَّم لِلإمَامَة اَلسَّلاَمُ عَلَى الْمُشَفَّعِ فِي القِيَمَة
اَلسَّـلاَمُ عَـلَى الْمُظَلَّلِ بِالغَمَامَة اَلسَّـلاَمُ عَلَى الْمُتَوَّجِ بِالكَرَامَة
“Salam sejahtera bagimu wahai yang dipersilahkan menjadi imam shalat (saat peristiwa Isra’ dan Mi’raj). Salam sejahtera bagimu wahai yang memberi syafaat pada hari kiamat”.
“Salam sejahtera bagimu wahai yang dinaungi awan (sehingga tidak merasakan panas terik matahari. Salam sejahtera bagimu wahai yang bermahkota kemuliaan”.
Jadi, penamaan masjid al-Ghamâmah dilatarbelakangi oleh peristiwa shalat istisqa, meminta hujan di mana Rasulullah s.a.w. sendiri yang menjadi imam. Tak lama setelah itu, Madinah diguyur hujan, sehingga cuaca menjadi adem dan hasil pertanian menjadi melimpah. Hingga saat ini, saya merasakan perbedaan cuaca yang cukup signifikan bila dibanding Mekkah. Di Madinah, cuaca cenderung dingin, apalagi jika memasuki musim dingin. Tanah di Madinah cukup subur, bahkan banyak sekali saya lihat kebun kurma membentang di beberapa kawasan menuju pusat kota Madinah.
Masjid al-Ghamâmah juga menjadi saksi sejarah relasi persahabatan Rasulullah s.a.w. dengan Raja Najasyi, seorang raja Negeri Habasyah (Sekarang Etiopia, yang terletak di Benua Afrika bagian Timur) yang dulunya beragama Nasrani. Rasulullah s.a.w. percaya, Najasyi seorang raja yang bijaksana. Atas dasar itu, beliau memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan hijrah ke negeri yang dipimpin oleh Najasyi tersebut untuk menghindari kekejaman orang-orang kafir Quraisy.
Hijrah ke Habasyah dilakukan sebanyak dua kali, pertama di bawah pimpinan Utsman bin Affan diikuti oleh 15 orang. Hijrah kedua dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib 101 orang, di mana total kaum muslimin di bawah perlindungan Najasyi ada 116 orang. Tatkala kaum kafir Quraisy ingin meminta Najasyi untuk mengembalikan ke-116 kaum muslimin ke Madinah, ia tidak langsung mengiyakan. Ia meminta klarifikasi dari kedua belah pihak, sehingga terjadi dialog yang mengharuskan Ja’far bin Abi Thalib membaca Surat Maryam ayat 29 sampai 33.
Mendengarkan ayat yang dibaca Ja’far bin Abi Thalib yang mengisahkan Siti Maryam dan Nabi Isa, seketika Najasyi menangis. Dia berkata:
إنَّ هذا الكَلامَ لَيَخرُجُ من المِشْكاةِ الَّتي جاءَ بها مُوسى
“Sesungguhnya, kata-kata ini yang dibawa oleh Musa, keluar dari sumber cahaya yang sama”.
Setelah dialog itu, Najasyi mempersilahkan kaum muslimin tinggal untuk waktu yang lama, sampai dirasa tidak ditindas lagi oleh orang-orang kafir Quraisy. Di waktu yang sama ia mengusir utusan orang-orang Quraisy dan menolak segala hadiah yang hendak diberikan kepadanya. Pasca peristiwa itu, cahaya hidayah telah mengisi relung hati Najasyi, hingga akhirnya ia masuk Islam. Tatkala Najasyi Wafat, Rasulullah s.a.w. menyalatkannya secara gaib di Masjid al-Ghamâmah diikuti oleh para sahabat lain sebagai makmumnya. Wallâhu A’lam bis Shawâb…
Madinah, 08 Juli 2024
H. Mohammad Khoiron