Tasbih

0

Oleh: Yudhiarma MK (Mahasiswa Pasca UIN Jakarta).

 

Di lembah Minangkabau, antara gunung Marapi yang gagah dan Singgalang yang teduh, dua anak lelaki menjalin persahabatan yang mekar seperti bunga liar di hamparan lembah. Persahabatan itu sunyi, tanpa pamrih, hanya diikat oleh tawa di air yang jernih, ikan-ikan kecil yang mereka tangkap dengan tangan telanjang, serta langit biru yang menyimpan rahasia doa kanak-kanak.

Jasman, bocah cerdas dan lincah dari suku Chaniago, sebentar lagi akan meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu menjadi santri di Tanah Jawa. Semasa awal sekolah dasar, ia memang selalu memimpikan masuk lembaga pendidikan Islam berasrama itu. Ia kerap berkhayal berangkat ke pelabuhan Teluk Bayur, memandang lautan lepas.

Kapal kayu yang akan membawanya ke Jombang terayun perlahan oleh debur ombak, berkecipak, bergejolak seperti suasana hatinya. Perjalanan ini adalah ziarah jiwa menuju impian dan cita-citanya: sebuah pesantren di Jatim, ranah pahlawan dan para wali.

Dari geladak kapal, ia memandang horison kampung halaman untuk terakhir kalinya. Danau Maninjau memantulkan cahaya pagi bagai kaca raksasa, dikelilingi bukit barisan yang hijau bak permadani sutera. Bahtera pun berlayar, membawanya meninggalkan Bukittinggi dengan jam gadangnya yang tegak berdiri, menyaksikan perginya seorang pemimpi. Lalu, melintasi Padangpanjang, di mana Air Terjun Lembah Anai mengalun deras, menyemburkan kabut yang membasuh wajahnya bagai air suci perpisahan.

Perjalanan daratnya berakhir di Pantai Air Manis, di mana batu Malin Kundang yang terkutuk itu menjadi pengingat abadi tentang betapa nestapa seorang putra yang alpa dan durhaka pada ibunya. Ia berdoa, “Ya Rab, jangan jadikan aku seperti dia. Hingga saat pulang nanti aku bisa menjadi anak saleh yang membawa berkah bagi keluarga”.

Di Jakarta, ia berpindah ke dalam kereta api diesel kelas ekonomi. Ular besi tanpa AC yang sempit, penuh sesak dan berdebu. Kereta itu bergerak lambat, sering berhenti berjam – jam di pinggir sawah di siang bolong saat kemarau, atau mendekam dini hari di rimbun hutan di musim hujan, menunggu antrean menuju stasiun.

Dalam gerbong, kehidupan berlangsung seperti sebuah etalase yang sangat rapat, panas, berhimpitan. Pedagang lalu-lalang menjajakan pecal, nasi bungkus, telur asin, kerupuk dan aneka makanan dan minuman. Aroma gudeg Jogja, wingko khas Babat Lamongan dan brem Madiun, bercampur dengan bau keringat dan jelaga dari pembakaran sisa limbah panen ladang jagung yang masuk ke dalam gerbong. Asap rokok mengepul, seolah berlomba dengan pesing WC yang jarang disiram karena keran rusak dan air yang sering kali langka.

Pengamen mengalunkan lagu pengganggu tidur dengan performa musik ala kadarnya. Sementara pengemis melangkah pelan dengan mata memohon dan raut wajah memelas bagai air terhempas di daun talas. Kadang toilet menjadi saksi dan komoditas, dijual secara gelap oleh oknum kepada penumpang yang terdesak saat puncak liburan panjang dan musim pemudik.

Jasman duduk mematung, memeluk tas kainnya erat-erat, menjadikan keramaian ini sebagai bagian dari laku perjalanannya. Ia bisa berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, larut dalam lamunan sampai tertidur di bangku sekolah. Membayangkan kereta sampai di Jawa Timur.

Dari stasiun, kemudian naik becak melewati jalan sempit di pinggir sawah dan perkebunan tebu. Rumah- rumah berdinding anyaman bambu beratap genting, tersembunyi di balik beringin, pohon pisang dan pokok kelapa.

Hingga akhirnya, di ujung jalan, berdiri megah pesantren impian. Tempat di mana nasionalisme selalu berkobar dalam dada, dan para ulama dahulu menyerukan jihad melawan penjajah Belanda dengan lantang dan pekik menggema. Di sini, para ustaz tak hanya mengajar, tetapi juga merangkai syair berbahasa Arab sebagai perlawanan halus terhadap kolonialisme.

Di sini pula, pendidikan adalah senjata untuk menyejahterakan masyarakat agar tak abadi menjadi budak atau warga kelas tiga. Dan di sini, para santri dididik untuk menjadi kelas menengah Muslim yang tidak hanya pandai mengaji, tetapi juga menjadi pemimpin yang ikut mewarnai pembangunan dan perdamaian dunia.

Jasman berdiri di gerbang pesantren, air matanya menetes. Ini bukan sekadar sekolah, tapi terawangan yang menjadi nyata, cita-cita yang terwujud. Ia teringat perjalanan panjang, dari Danau Maninjau yang permai, kapal yang bergoyang dipermainkan ombak dan gelombang, hingga kereta yang tanpa henti menyuguhkan suara gempa dari peraduan besi di bantalan rel.

Semua adalah bagian dari pengorbanan untuk menuntut ilmu. Pesantren adalah ciri khas Indonesia sejati. Tempat di mana jiwa-jiwa ditempa menjadi baja yang kuat namun lembut, seperti air terjun Lembah Anai yang deras namun menghidupi.

Di sinilah ia akan belajar, berjuang, dan mungkin suatu hari nanti, pulang bukan sebagai Jasman yang dulu, tetapi sebagai seorang pemimpi yang telah mengubah harapan menjadi kenyataan, untuk kemaslahatan umat dan kemakmuran bangsa.

Dan Lason, adalah seorang putra Batak bermarga Simarmata. Ia besar dalam keluarga serba kekurangan: ayahnya seorang tukang kayu yang piawai membuat rosario, bundanya seorang perempuan tangguh yang berjalan dari rumah ke rumah menjajakan panci, gelas, dan kebutuhan lainnya, dengan wajah yang disamarkan senyum meski lelah tak pernah pupus.

Jasman dan Lason masyhur di desa mereka. Ke mana pun pergi selalu bersama. Bagai air dan riak danau, mereka jadi pelengkap lukisan alam di tengah kepungan bukit barisan. Ayah Simarmata, dengan paru-paru yang digerus debu kayu, sudah lama menampung rasa sakit seperti bara membakar raga. Dan dalam diam ia menyiapkan perpisahan terakhir.

Ia memilih sepotong dahan terbaik, yang biasanya ia ukir menjadi rosario, untuk kali ini dijadikan tasbih. Jemarinya yang retak-retak mengetuk butir demi butir ranting pohon itu dengan kasih yang hanya diketahui mata langit.

Di meja kerjanya yang penuh serbuk gergaji, ia menulis sepucuk surat dengan tangan gemetar, huruf-hurufnya miring bagai ranting rapuh yang patah.

“Anakku tersayang, jika engkau membaca ini, berarti aku telah tiada. Jangan menangis terlalu lama, sebab ayahmu telah pulang pada Sang Pencipta. Di kotak kecil yang kusimpan, ada tasbih dari kayu terbaik. Itu bukan untukmu, melainkan untuk sahabatmu, Jasman. Ia akan segera berangkat jauh, dan biarlah butiran itu menjadi kenangan, doa, dan jembatan antara kalian berdua. Persahabatanmu adalah cahaya yang membuatku yakin, bahwa kasih dapat tumbuh meski akar kita berlainan tanah. Jangan pernah membiarkan perbedaan memisahkan hatimu dari dunia. Hidup ini singkat, tetapi persahabatan sejati lebih panjang dari umur manusia.”

Tubuh Terbaring

Beberapa hari setelah surat itu selesai ditulis, tubuhnya terbaring diam, suaranya lenyap diambil angin. Hari ujian terakhir menjadi kabut duka. Lason putra Simarmata mengerjakan soal dengan dada bergetar.

Sementara di rumah, ayahnya berpulang, sepi dan berserah. Berita itu mengguncang sekolah kecil mereka, seperti tsunami yang tak terlihat, hanya terasa dalam tangis yang tertahan di sudut mata. Ibu Simarmata, yang tubuhnya kurus bagai ilalang, tak kuasa menanggung beban derita.

Ia memutuskan pulang ke Medan bersama jasad sang ayah, untuk dikebumikan di tanah kelahiran yang telah lama mereka tinggalkan. Malam terakhir, sebelum keberangkatan, anak itu menitipkan tasbih dan sepucuk surat ayahnya pada rumah penjaga sekolah—sebuah pesan tak terucap, sebagai hadiah terakhir untuk sahabat yang tak sempat dipeluk.

Beberapa hari kemudian, sebelum berangkat ke Jawa dengan bahtera, Jasman menerima pesan dan titipan. Ia membukanya dengan tangan bergetar di bawah rindang pohon rimbun di tepian danau, tempat mereka biasa bermain saban pulang sekolah.

Huruf demi huruf melompat ke dalam dadanya, seakan ayah sahabatnya berbicara langsung kepadanya. Air matanya tumpah membasahi kertas, membuat tinta menjadi samar, namun justru menegaskan isi pesan: persahabatan yang melampaui perbedaan.

Ia memegang tasbih kayu itu erat-erat, seperti memegang seutas tali yang menghubungkannya dengan sahabat yang kini jauh. Di danau yang tenang, ia seakan melihat bayangan wajah mereka berdua, tertawa dalam cahaya masa kecil yang tak akan pernah kembali.

Sementara itu, di bus yang melintasi Danau Toba, Lason hanya bisa memeluk lututnya, menahan tangis yang akhirnya pecah, bercampur dengan kabut dan ombak danau yang luas. Setu raksasa itu menjadi saksi air mata yang jatuh tanpa suara, persahabatan yang direnggut jarak, dan masa kecil yang terlipat di balik jendela berdebu.

Keduanya, di tempat berbeda, menangis pada air yang sama: satu di Maninjau, yang lain di Toba. Dan di antara kedua danau itu, terjalin sebuah garis tak kasat mata, lebih kokoh dari jembatan mana pun, lebih abadi dari umur manusia.

Di tepian Maninjau, Jasman duduk dengan tasbih kayu dalam genggaman. Kelok Empat Puluh Empat meliuk di punggung bukit, seolah seperti jalan menuju surga yang tersembunyi. Ia menatap riak danau yang tenang, namun di dasar hatinya, air itu bergemuruh seperti doa yang tak selesai.

Gunung Marapi berdiri dengan dada lapang, menyimpan segala keluh kesah dunia, sementara Singgalang yang berkabut menunduk, seakan ikut meratap dalam keheningan. Seperti imam yang berkhutbah di mimbar raksasa, kedua gunung itu merapal doa yang keluar dari kawah mereka. Angin berhembus membawa bisikan tak terdengar, seolah langit ikut bermunajat bersama mereka.

Di utara, Lason melewati Danau Toba yang luas dan nyaris tak bertepi. Pulau Samosir,yang terkurung air, tampak bagai jiwa yang terasing namun tetap menyala. Ombak yang berdesir memantulkan cahaya surya, seakan butir-butir rosario yang terurai ke tanah.

Ia merapatkan tangan ke dada, dan di antara isaknya, ia merasa danau itu sedang berdoa, mengulang kata-kata yang tak pernah ia ucapkan. Kabut tipis yang menggantung di atas air bagai dupa yang terbakar di altar langit, naik perlahan, menyatukan air mata manusia dengan zikir para malaikat.

Maka Maninjau dan Toba bukan lagi sekadar danau; mereka adalah bendungan air mata. Kelok Empat Puluh Empat adalah ziarah panjang menuju pemahaman. Dan Samosir adalah jiwa yang diuji kesepian. Sementara Marapi dan Singgalang berdiri bagai penjaga kitab sunyi, menyimpan sedu sedan yang tumpah dari para bocah yang terpaksa berpisah.

Keduanya, di tempat berbeda, menangis pada air yang sama: satu di Maninjau, yang lain di Toba. Dan alam semesta pun ikut berdoa, agar persahabatan yang lahir dari dua keyakinan berbeda tidak hilang dalam kabut waktu.

Air mata anak-anak itu jatuh ke danau yang berbeda, namun bergetar dalam satu gema. Maninjau menyimpan separuh tangis, Toba menampung setengah lainnya. Dan di antara kedua segara itu, persahabatan hidup lebih lama dari tubuh mereka sendiri, bagai mantra yang tak pernah selesai dilafalkan.

Mereka berpisah, namun tasbih kayu itu, dengan butiran yang sederhana, menjadi jembatan jiwa—sebuah munajat yang tak lagi kepunyaan satu agama, melainkan milik dua hati kecil yang pernah berbagi langit yang sama.

Dan ketika bahtera berlayar meninggalkan pelabuhan menuju Tanah Jawa, dan bus terus menderu ke Sumatera Utara, dunia pun seakan berbisik:

Bahwa ada persahabatan yang tak lekang oleh waktu, di mana air mata yang jatuh ke danau, telah menggetarkan hati siapapun yang membaca riwayat mereka. Bahkan setelah anak-anak itu hilang dalam riuh sejarah.

(Lomba Cerpen Risalah NU, Tema: “Catatan Hari Santri untuk Indonesia”)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.