
Oleh : Izzatul Muadhomati Al Muntaha (Ponpes Addalhariyah, Jombang)
Cahaya matahari yang hampir tenggelam mengguyur sebuah pondok pesantren. Bangunan asrama yang dihuni beberapa santri tampak begitu megah dan anggun. Bangunan tersebut adalah tempat di mana para santri belajar, berdiskusi, dan berjuang bersama untuk menjadi insan yang sempurna, baik lahir maupun batin.
Ashika, seorang santri putri, sedang berjalan berdua dengan temannya bernama Aliyah mengelilingi taman pondok yang begitu indah saat menjelang maghrib. Suasana disertai dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibaca oleh Humam, santri putra yang memiliki suara indah bagaikan emas. Di tengah perjalanannya, Aliyah terjatuh menabrak tong sampah karena keasyikan bercerita, sedangkan Ashika hanya mengiyakan Aliyah karena sudah muak dengan ceritanya yang diulang berkali-kali. Ashika tertawa menghina temannya yang sedang jatuh tertimpa reruntuhan sampah karena kelalaiannya yang sedang berjalan dan tak melihat jalan.
“Ashika, mengapa kau menertawakanku dan bukannya menolongku?” ucap Aliyah yang sedang malu karena tertimpa sampah dan dilihat oleh santri putra yang juga ikut menertawakannya.
“Mengapa aku harus menolongmu? Bukankah kamu mempunyai kaki yang masih sehat untuk berdiri?” ucap Ashika lalu pergi meninggalkan Aliyah sendiri.
Akhirnya Aliyah pun berdiri, membersihkan tumpukan sampah yang tercecer tak karuan, dan berjalan di belakang Ashika yang sudah jauh. Jarak di antara keduanya semakin menjauh.
Sesampainya di kamar, Ashika yang sejak tadi menertawakan temannya yang jatuh tak juga berhenti. Sharma, yang mengetahui kejadian antara Ashika dan Aliyah, sudah menceritakan pada teman-teman kamarnya betapa sombongnya Ashika.
“Ashika, kenapa kamu meninggalkan Aliyah saat Aliyah sedang membutuhkanmu? Bukankah dari banyaknya santri di sini hanya dia yang mau berteman denganmu?” ucap Sharma.
“Sharma, aku tak membutuhkan teman. Aku ke mana-mana terbiasa sendiri. Jika aku mau ke mana pun, aku tinggal bilang ke Gus atau Ning yang kebetulan aku dekat dengan mereka, atau kepada guru-guru yang anaknya aku asuh. Mudah bukan? Lalu siapa yang mau berteman denganku? Bukankah Aliyah? Aku sama sekali tak membutuhkan teman, Sharma. Aku bisa melakukan semuanya sendiri.”
“Sombongnya dirimu, Ashika. Jangan mentang-mentang kau dekat dengan keluarga Ndalem atau bahkan guru-gurumu, kau seenaknya menghina kita semua.”
“Aku tidak sombong, Sharma. Aku hanya bicara kenyataan,” sambil tersenyum sinis.
Teman-teman Sharma pun hanya diam karena takut kepada Ashika, walaupun mereka juga pernah dihina oleh Ashika. Mereka memilih diam dan tak menanggapi apa pun, melanjutkan kegiatan mereka masing-masing lalu pergi ke masjid untuk melakukan jamaah. Ashika mengambil air wudhu, memakai mukenanya, dan pergi ke masjid sendiri.
Kegiatan pondok pun sudah terlaksana mulai dari jamaah maghrib hingga diniyah malam. Selesai kegiatan, para santri pun membersihkan diri dan kamarnya masing-masing lalu tidur tanpa mengajak Ashika, mengabaikan Ashika dengan kesibukannya sendiri.
Malam yang gelap disertai dengan hujan rintik-rintik yang jatuh ke bumi. Para santri yang sudah tertidur lelap kecuali Ashika, menambah suasana pondok semakin syahdu malam itu. Ashika yang tidak bisa tidur sedang duduk termenung membawa Qur’annya sambil menikmati rintikan hujan.
“Mengapa temanku begitu benci kepadaku? Apakah mereka iri kepadaku? Tapi apa yang bisa kubuat? Aku tak sepintar mereka, aku tak seaktif mereka, aku hanyalah santri Ndalem biasa. Walaupun hafalan Qur’anku juga lebih dari mereka, tapi aku tak pernah membanggakan itu. Mengapa mereka seperti benci sekali kepadaku?” gumam Ashika dalam lamunannya dan
akhirnya tertidur karena lamanya melamun.
Dalam tidurnya, Ashika bermimpi sedang berjalan berdua dengan adiknya di tengah hutan. Di sana terlihat para warga keluar dari hutan dengan keadaan yang bahagia. Ashika yang kebingungan mengapa para warga sangat bahagia, lalu memberanikan diri untuk bertanya sambil menggandeng adiknya. “Maaf Pak, permisi, mengapa Bapak terlihat sangat bahagia?” tanya Ashika yang
kebingungan.
“Di sana, di dalam hutan, ada orang sakti yang sedang bertapa. Namanya Mbah Dalhar.”jawab seorang pria
Ashika yang sangat asing dengan nama Mbah Dalhar bertanya-tanya dalam pikirannya, “Siapa Mbah Dalhar ini? Mengapa orang-orang bilang kalau beliau adalah orang sakti?” Sambil menggandeng adiknya, Ashika pun berjalan ke dalam hutan mencari Mbah Dalhar. Sekian lama mencari, akhirnya Ashika dan adiknya pun menemukan Mbah Dalhar yang sedang bertapa di dalam hutan dengan tongkat yang berdiri sendiri tanpa sandaran. Ashika yang sejak tadi mencari tak sabar untuk bertanya.
“Ngapunten Mbah, ajeng tangklet menawi kulo ajeng bangun pondok pripun nggih, amargi Bapak dan Ibu ngersaaken kulo bangun pondok.” (Permisi Mbah, saya ingin bertanya bagaimana cara membangun pondok, karena Bapak dan Ibu menginginkan saya membangun pondok.)
Mbah Dalhar yang sedang bertapa dan menutup matanya, seketika bangun dari tapanya dan mengambil tongkat yang berdiri di sampingnya, memukul tongkatnya ke jempol kaki Ashika seraya berkata, “Kowe ki wongé sombong.” (Kamu itu orangnya sombong.) Setelah mengatakan itu, beliau pun menghilang tanpa jejak. Ashika dan adiknya yang bingung kemana perginya Mbah Dalhar yang tiba-tiba menghilang begitu saja, pun mencari ke dalam hutan hingga akhirnya menemukan sebuah gubuk tua yang digunakan untuk belajar mengaji. Di sana ada guru yang sedang mengajar dengan kehati-hatiannya. Ashika memberanikan diri untuk bertanya.
“Assalamualaikum, mohon maaf mau bertanya, apakah tadi ada lelaki tua yang lewat di sini? Yang bernama Mbah Dalhar?” tanya Ashika dengan kerendahan hati.
“Tidak ada yang melihat lelaki tua yang lewat di sini,” jawab Nyai yang terlihat tua namun berjiwa tenang.
“Baiklah kalau begitu, terima kasih,” sambil membalikkan badan dan pergi keluar dari gubuk tua itu. Saat menoleh ke belakang, ternyata Ashika melihat guru itu tersenyum lebar yang mungkin memiliki arti tersirat seolah mengetahui sesuatu yang sedang Ashika cari.
Tak menemukan apa pun di sana, Ashika tak menyerah mencari sosok Mbah Dalhar. Ketika Ashika terus mencari ke dalam hutan, dia menemukan sebuah lingkaran cahaya putih dan mendapati Mbah Dalhar bersama dengan pengantin wanita berjalan menuju lingkaran cahaya putih.
“Monggo Mbah Nabi Khidir,” ucap Mbah Dalhar kepada sosok laki-laki yang memakai jubah putih bersinar di samping pengantin wanita. Merasa tak bisa menggapai cahaya itu, Ashika pun terbangun dari mimpinya.
“Mengapa aku bermimpi seperti itu?” tanya Ashika dalam hatinya dan melanjutkan tidurnya di kamar.
Keesokan harinya, Ashika yang masih terngiang-ngiang mimpinya semalam datang kepada gurunya yang mengetahui ilmu ma’rifat bernama Ustadz Mudhofar. Ashika pun menceritakan mimpinya semalam kepada beliau.
“Mbah Dalhar iku wali gede, mosok we ra ngerti?” (Mbah Dalhar itu seorang wali besar, masa kamu tidak tahu?) ucap Ustadz Mudhofar.
“Mboten Ustadz, kulo mboten semerap, bahkan Nabi Khidir pun kulo mboten semerap, Ustadz.” (Tidak Ustadz, saya tidak mengetahuinya, bahkan Nabi Khidir pun saya tidak tahu, Ustadz.) ucap Ashika yang sangat linglung dengan apa yang terjadi padanya. Ustadz Mudhofar yang kaget dengan jawaban Ashika menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata,
“Mondok o nang nggone Mbah Dalhar, Mbah Dalhar sayang mbek awakmu.” (Pergilah mondok di tempatnya Mbah Dalhar, Mbah Dalhar sayang kepadamu.)
“Nggih Ustadz,” ucap Ashika dengan penuh ta’dzim lalu pamit pergi.
Ashika yang saat itu sebentar lagi akan lulus sekolah berniat untuk mengubah rencana hidup ke depannya untuk menempuh ilmu di pondoknya Mbah Dalhar.
“Jika selama ini aku mengaku bahwa aku adalah hamba Allah, mengapa aku berani untuk sombong?” hanya itu pikiran Ashika saat ini. Ashika yang melamun karena memikirkan perkataan Ustadz Mudhofar akhirnya pun memutuskan untuk berkata kepada orangtuanya lewat telepon.
“Pak, Bu, bagaimana jika aku mau melanjutkan pondok di Magelang? Aku ingin di pondoknya Mbah Dalhar,” ucap Ashika di telepon.
“Kenapa harus pindah? Kan kamu di situ sudah diminta sama Gusmu,” jawab orangtua Ashika.
“Aku tak merasa nyaman di sini, aku ingin menempuh ilmu di tempat yang baru,” ucap Ashika sambil merengek.
“Kalau sudah diminta oleh gurumu, ya sudah ikutilah kata gurumu,” ucap orang tua Ashika dan langsung mematikan teleponnya.
Ashika yang sebenarnya juga merasa bersalah dengan apa yang telah dilakukan, mulai dari bersikap seenaknya di mana pun dia berada dan mengabaikan Aliyah karena sebenarnya Ashika mengetahui bahwa Aliyah akan dijodohkan dengan Gus yang disukai Ashika dari lama. Hingga akhirnya timbullah rasa iri dalam hati Ashika sehingga tak bisa melihat dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Ashika yang takut jika menentang orang tuanya, walaupun sebenarnya Ashika juga merasa ada hubungan antara dirinya dan Mbah Dalhar, akhirnya memutuskan tinggal di sana.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Satu tahun pun berlalu, Ashika yang masih berada di pondoknya sana merasa sangat tertekan walaupun hari-hari sudah dia lewati dengan segala kemampuannya. Ashika yang merasa hidupnya semakin hari semakin buruk pun memutuskan untuk kembali merayu kedua orangtuanya.
“Pak, Bu, Ashika benar-benar tidak bisa bertahan di sini. Tolong berikanlah aku kesempatan agar aku menempuh ilmu di pondoknya Mbah Dalhar,” ucap Ashika langsung ketika sambungan telepon itu tersambung.
“Memangnya kenapa kamu di situ? Bukankah enak di sana?” “Tidak Bu, aku tidak pernah merasa tenang di sini. Entah mengapa aku juga merasa jika apa yang aku peroleh semua itu tidak ada barokahnya.”
“Baiklah kalau begitu, kamu boleh pindah pondok, tapi harus siap dengan segala konsekuensinya,” ucap ibu Ashika setelah lama berpikir.
“Baiklah Bu, terima kasih karena sudah memberikanku kesempatan,” Ashika pun langsung mematikan teleponnya setelah mengucapkan salam. Ashika yang sangat senang
dengan perkataan ibunya langsung mengemasi barang-barangnya.
Keesokan harinya, Ashika langsung dijemput oleh orang tuanya, berpamitan kepada teman-teman Ashika dan meminta maaf kepada mereka. Tak lupa Ashika juga pamit izin kepada pengasuh pondoknya. Setelah berpamitan, Ashika dan orangtuanya pun langsung pergi ke Magelang untuk mencari pondok Mbah Dalhar. Tak berhenti di sana, orang tua Ashika sangat kebingungan mencari pondok apa yang dimaksud oleh anaknya. Akhirnya berhenti dan bertanya kepada orang yang berada di pinggir jalan.
“Assalamualaikum Pak, mohon maaf mau bertanya, nama pondoknya Mbah Dalhar apa ya?” tanya ayah Ashika kepada orang pinggir jalan.
Tak banyak menjelaskan, orang itu langsung mengambil motor dan mengantar ayah Ashika ke pondok pesantren Addalhariyah, ya benar, pondoknya Mbah Dalhar. Ayah Ashika pun berterima kasih kepada orang itu dan merasa bahwa dia adalah malaikat Allah yang dikirim untuk mengantar Ashika.
Akhirnya Ashika dan kedua orang tuanya pun masuk ke dalam pondok pesantren, melakukan registrasi dan menunggu antrian untuk sowan. Saat menunggu, Ashika sama sekali tidak merasa nyaman di sana karena pondok itu terlihat kotor dan kumuh. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya tiba giliran Ashika dan keluarga untuk sowan.
“Mau apa kamu di sini?”
“Ini Bunyai, saya mau memondokkan anak saya yang bernama Ashika,” ucap ayah Ashika dengan penuh keta’dziman.
“Mana anaknya?”
“Ini Bunyai,” jawab ayah Ashika sambil menyuruh Ashika untuk mendekat ke Bunyai.
“Mengapa kamu mau mondok di sini?” tanya Bunyai seakan mengetahui bahwa Ashika tadi melihat tempat ini dengan kotor.
“Saya ingin mondok di sini karena saya didatangi Mbah Dalhar dalam mimpi dan mendapat usul dari ustadz saya untuk mondok di sini,” ucap Ashika dengan rasa sombong dalam hatinya karena merasa bahwa sudah pasti dia akan menjadi yang terbaik jika dia masuk ke pondok ini.
Sambil tertawa, Bunyai menjawab pernyataan Ashika, “Baiklah kalau begitu kamu boleh masuk.” Setelah mengatakan itu, Bunyai pun mempersilakan Ashika dan keluarga untuk masuk ke dalam pondok ditemani oleh santri Ndalem.
Akhirnya Ashika pun masuk ke dalam pondok dan menempati sebuah kamar. Di sana, Ashika sangat disambut ramah oleh para santri Addalhariyah.
Keesokan harinya, Ashika dipanggil Bunyai. Saat sudah sampai di Ndalem, Ashika pun ditanya oleh Bunyai.
“Kamu sudah belajar apa saja di pondokmu dulu?” tanya Bunyai dengan penuh kasih sayang.
“Alhamdulillah, Bunyai, sudah belajar banyak. Ada ilmu fiqih memakai kitab Bajuri, akhlak tasawuf, tafsir Jalalin, dan banyak lagi, Bunyai,” ucap Ashika dengan rasa sombong seakan mengetahui bahwa di pondok ini tidak ada yang memakai kitab itu.
“Ya sudah kalau begitu, kamu di sini bantu-bantu Ibuk ya, ngajar.”
Tak banyak bertanya, Ashika pun langsung mengiyakan dawuh Ibunyai.
“Ya sudah, kamu boleh kembali,” dawuh Bunyai ketika Ashika sudah mengiyakan.
Akhirnya di sana Ashika pun mengajar apa yang diketahuinya kepada santri-santri di pondok pesantren Addalhariyah. Selama mengajar, Ashika sama sekali tak merasakan ketenangan karena para santri terus menyeloteh sendiri saat Ashika sedang menerangkan. Hingga suatu hari, Ibunyai pun mengendikan kepada para santrinya.
“Taqwa kepada Allah, iman kepada Allah. Taqwa itu takut kepada Allah dan iman itu adalah mempercayai Allah. Kamu semua kalau punya rasa taqwa pasti akan takut ketika melakukan sebuah dosa, takut jika mau berbohong, takut jika mau mencuri, takut mau
mengambil hak orang lain. Tapi kalau kamu punya iman, kamu itu percaya sama Allah, tidak menyekutukan Allah, percaya akan semua yang terjadi di dunia itu adalah kehendak Allah. Mengajar itu menggunakan kasih sayang, hurmat ta’dzim itu tidak hanya kepada guru tapi kepada semua makhluk Allah. Hidup itu jangan sombong. Apa itu sombong? Sombong itu adalah menghina orang lain. Kita berjalan di bumi-Nya Allah, jangan sampai ada rasa sombong pada diri kita sebagaimana firmannya Allah dalam surat Al-Isro ayat 37. Dulu waktu pertama kali Ibuk ketemu Mbah Nabi Khidir, pesannya beliau itu satu yaitu jangan melihat atau mencari- cari kejelekan orang lain, ya Mbak, Kang, jangan pernah mencari-cari kejelekannya orang lain, karena jika kita melihat orang lain buruk maka hati kita itu masih buruk, tapi ketika kita melihat orang bersih itu tandanya hatinya bersih,” ngendikan Bunyai yang singkat namun menancap di hati Ashika.
Ashika yang benar-benar merasa jika apa yang diendikakan Ibunyai tadi adalah untuknya, merasa heran, “Kok bisa Ibunyai tahu apa yang aku rasakan dan apa yang aku tanyakan dalam hatiku?” Akhirnya ia bertanya kepada kakak senior yang sudah lama di sana.
“Mbak, kok Bunyai bisa tahu ya? Maksudnya aku merasa pertanyaanku selama aku di sini, selama aku mengajar, Bunyai mengetahuinya?” tanya Ashika dengan rasa rendah hati.
“Lho Mbak, apakah kamu tidak tahu jika Ibunyai itu adalah wali Allah?” jawab kakak senior itu.
“Oalah, masha Allah Mbak, begitu toh,” jawab Ashika.
Ashika yang merasa bersalah dengan apa yang dilaluinya selama mondok di sana, merenung lama sekali di dalam kamar, bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, “Mengapa aku bisa seperti ini?”
Seiring berjalannya waktu, Ashika pun berubah sedikit demi sedikit. Dari yang suka menghina orang lain, dari yang selalu iri kepada apa yang dimiliki oleh orang lain, dan Ashika yang selalu marah-marah saat mengajar kini berubah menjadi pribadi yang penuh dengan kasih sayang dan tawadhu’ kepada sesama, tak hanya kepada gurunya saja. Hingga dia benar-benar kehilangan dirinya yang lama dan menjadi sosok yang sangat tenang, penuh kasih sayang, dan merasa bahwa sebenarnya hidup di dunia itu sangatlah mudah.
Begitulah cerita Ashika yang menemukan cahayanya sendiri di tengah kegelapan. Mungkin banyak di antara kita yang selama ini merasa paling benar atau bahkan merasa dunia itu sangat tidak adil dan kejam. Tidak, dunia itu memang kejam dan tidak adil, tapi ketika kita bisa melihat apa hikmah yang ada di baliknya, pasti kita akan tersenyum lebar karena merasakan cinta-Nya Allah SWT hingga kita malu untuk mengeluh. Karena sesungguhnya, jika kita ingin melihat apa rahasia Allah, yang kita perlukan dan terapkan adalah sabar dan syukur. Siapapun yang dikehendaki oleh Allah SWT untuk berubah sejelek apapun manusia itu pasti dia akan berubah, jangan pernah menghina orang lain,jangan memiliki hati yang kotor, isilah hatimu dengan kasih sayang, sabar, dan rasa syukur kepada Allah SWT.
Mungkin banyak yang tidak percaya akan hal ini, tapi ini adalah kisah nyata dengan nama samaran yang sudah penulis samarkan, tak ingin menang untuk mengikuti lomba ini,penulis hanya ingin berbagi bahwasanya sesuatu yang dikehendaki Allah pasti akan terjadi, Allah mampu mengubah orang baik menjadi jahat maupun sebaliknya, tugas kita hanyalah sholat dan selalu mengingat Allah, jika manusia sudah mengingat Allah maka dia akan mengetahui apa maksud Allah,Allah juga berfirman dalam Alquran bahwasanya Allah itu dekat dengan kita, seringkali kita tidak sadar, tapi hanya didalam ajaran islamlah Tuhan memanggil hambanya sehari lima kali dan menerima apapun keadaan kita, akankah kita terus melalaikan Allah? Sholatlah sebelum kau disholatkan, jangan pernah mengeluh apa yang sudah terjadi tetap sabar,syukur dan jangan sombong, sesungguhnya kita manusiapun tak akan bisa mengangkat gunung gunung.
Terimakasih atas perhatiannya, banyak salahnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya