PWNU Jatim Awali Peringatan 1 Abad NU Masehi, Kick Off 13 Agenda Utama

0

RISALAH NU ONLINE, MALANG – Memasuki usia satu abad tahun masehi, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur memulai rentetan perayaan dengan penuh makna dan ragam aktivitas. Kick Off resmi Harlah 1 Abad NU digelar di Auditorium Prof Dr KH M Tolchah Hasan, Universitas Islam Malang (Unisma), Rabu (7/1/2026). Kegiatan ini menandai dimulainya perjalanan istimewa organisasi Islam terbesar di Indonesia ini.

Ketua Panitia Pelaksana, H Maskuri Bakri, menjelaskan, serangkaian kegiatan yang berlandaskan Surat Keputusan PWNU Jatim Nomor 746/XII/2025 ini dirancang untuk konsolidasi dan penguatan khidmat NU. “Rangkaian kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap budaya pesantren, memperteguh komitmen persahabatan, mengembangkan dakwah peradaban, serta merawat tradisi dan spiritualitas jamaah,” ujarnya.

Pemilihan Unisma sebagai lokasi pembukan bukan tanpa alasan. “Kapasitas gedung yang besar dan representatif pertimbangan menjadi penting sehingga Unisma sangat layak menjadi tempat dimulainya rangkaian Harlah 1 Abad NU,” katanya.

Rangkaian acara yang akan berlangsung sepanjang Januari hingga Februari 2026 ini terdiri dari 13 program utama. Mulai dari Sarasehan Pesantren dan Kebangsaan, Ziarah ke makam para pendiri NU, hingga program unik seperti Pameran Seni Rupa ‘Mangsa Kalasuba’ dan Gen Z NU Festival yang menampilkan kompetisi tradisional hingga digital seperti Audisi AI. “Babak grand final dilaksanakan di Kampung Coklat Blitar,” tutur Maskuri.

Puncak acara akan ditutup dengan Mujahadah Kubro yang diperkirakan dihadiri puluhan ribu jamaah dari seluruh penjuru Jawa Timur.

Sementara itu, Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, dalam sambutannya menekankan bahwa usia satu abad ini adalah momentum syukur. “Satu Abad NU ini sesuai dengan penanggalan Masehi. Tema memperkokoh jam’iyah adalah wujud semangat NU yang sejak awal didirikan sebagai rumah besar bersama,” ujarnya.

Gus Kikin menegaskan kembali jati diri NU sebagai organisasi yang inklusif dan berlandaskan tradisi. “NU adalah organisasi yang tertanam pada tradisi. Meski menghadapi modernisasi dan perkembangan zaman, tradisi tidak boleh ditinggalkan dan harus tetap menjadi pijakan,” tambahnya.

Ia mengajak seluruh warga NU untuk fokus mendampingi umat dan menghindari konflik internal, mengingat pesan pendiri NU untuk selalu bersatu dalam cinta dan kasih sayang. (Ekalavya).

Leave A Reply

Your email address will not be published.