RISALAH NU ONLINE, PURWOKERTO — Dosen Komunikasi Penyiaran Islam UIN SAIZU Purwokerto sekaligus Kader GP Ansor, Dr. Turhamun, M.S.I, menilai polemik yang mengiringi penayangan Mens Rea, pertunjukan stand-up comedy Pandji Pragiwaksono di platform Netflix, bukan sebagai kegagalan komunikasi publik, melainkan bagian dari dinamika diskursus sosial di era digital.
“Ketika diperdebatkan di media sosial, pesan Pandji sering mengalami reduksi, distorsi, atau dibingkai ulang dalam konteks yang berbeda. Namun kondisi ini bukan kegagalan komunikasi. Justru ia menunjukkan bahwa pesan tersebut telah memasuki arena diskursus sosial yang lebih luas,” kata Turhamun dalam tulisan reflektifnya dengan perspektif komunikasi publik digital, dikutip dari nubanyumas.com, pada Selasa, (13/01/26).
Menurut Turhamun, Mens Rea tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga sebagai teks sosial yang memantik refleksi dan perdebatan publik. Judul Mens Rea, yang dalam terminologi hukum merujuk pada niat di balik suatu tindakan, dinilai menjadi kunci untuk memahami keseluruhan pesan yang disampaikan Pandji kepada audiens.
Beliau menjelaskan bahwa dalam konteks komunikasi digital, pesan tidak lagi bergerak secara linier dari komunikator ke komunikan. Materi pertunjukan dapat dipotong, disebarluaskan lintas platform, dan ditafsirkan ulang di media sosial, sehingga melahirkan beragam respons yang kerap lepas dari konteks awal.
“Efek komunikasi tidak bergerak dari intensi menuju respons secara lurus, melainkan bercabang, berlapis, dan berulang—ciri khas komunikasi kompleks itu sendiri,” ujarnya.
Turhamun juga menilai perdebatan, kritik, hingga penolakan yang muncul merupakan bagian dari proses dialog sosial yang tidak terpisahkan dari komunikasi publik kontemporer. Ia menekankan bahwa komunikasi yang bermakna tidak selalu menghasilkan kesepahaman instan, tetapi justru berkembang melalui ketegangan dan pertukaran gagasan.
“Mens Rea bukan soal setuju atau tidak setuju terhadap materi Pandji Pragiwaksono. Ia adalah contoh bagaimana praktik komunikasi publik bekerja di era digital—penuh ambiguitas, tetapi tetap menyimpan potensi dialog,” pungkasnya.
(Anisa).