NU Care LAZISNU PBNU Salurkan Bantuan Tahap Kedua Bencana di Bener Meriah

0

RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – Rabu (28/01). NU Care LAZISNU PBNU kembali melanjutkan aksi kemanusiaan bagi warga terdampak bencana di Aceh. Tim NU Care–LAZISNU tiba di Desa Kampung Setie, Kabupaten Bener Meriah, untuk menyalurkan bantuan tahap kedua kepada masyarakat yang masih bertahan di kampung maupun di posko pengungsian.

Bantuan tersebut merupakan amanat dari berbagai pihak, di antaranya jamaah Majelis Sabilut Taubah yang diasuh oleh Gus Iqdam, masyarakat Indonesia di Taiwan, serta masyarakat Indonesia di Hong Kong. Kehadiran bantuan ini menjadi bukti kepedulian lintas wilayah, bahkan lintas negara, terhadap saudara-saudara yang tengah diuji oleh musibah.

Pada tahap kedua ini, NU Care–LAZISNU mendistribusikan paket nonpangan yang meliputi hygiene kit, sandang, paket ibadah, serta perlengkapan sekolah.

Sebelumnya, pada tahap pertama, NU Care–LAZISNU telah menyalurkan berbagai bantuan kebutuhan primer, seperti paket sembako, bagi warga terdampak di sejumlah wilayah Aceh.

Direktur Program NU Care–LAZISNU, Syarifuddin, dalam sambutannya menyampaikan bahwa musibah yang terjadi merupakan bagian dari ujian Allah Swt., baik bagi mereka yang terdampak langsung maupun bagi masyarakat yang diberi kelapangan untuk membantu. Ia menegaskan bahwa kehadiran NU Care–LAZISNU di tengah warga merupakan bentuk tanggung jawab atas amanah para donatur.

“Di Aceh ini, kami telah mendirikan delapan posko, mulai dari Lhokseumawe, Bener Meriah, Aceh Timur, Aceh Tengah, Tamiang, dan wilayah terdampak lainnya. Bahkan, pendampingan juga kami lakukan di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Ini adalah bukti bahwa Bapak dan Ibu tidak sendirian,” ujar Syarifuddin.

Ia menambahkan bahwa penanganan bencana membutuhkan waktu yang tidak singkat. Oleh karena itu, NU Care–LAZISNU berkomitmen untuk terus mendampingi warga hingga kondisi berangsur pulih, sembari memohon doa agar seluruh tim tetap diberi kekuatan dalam menjalankan amanah kemanusiaan tersebut.

Ketua LAZISNU Bener Meriah, Muhammad Suaidi Al Auny, menjelaskan bahwa hingga saat ini sekitar 100 jiwa masih bertahan di kampung, sementara sekitar 65 jiwa lainnya memilih tinggal di posko pengungsian sejak pascabencana lebih dari satu bulan lalu. Kondisi posko yang dingin membuat sebagian warga sesekali kembali ke rumah atau ke rumah kerabat.

“Listrik alhamdulillah sudah mulai masuk sekitar dua minggu terakhir. Namun, air bersih masih menjadi kebutuhan utama warga. Meskipun sudah ada gotong royong penyambungan pipa, distribusi air belum sepenuhnya mencukupi. Kebutuhan MCK juga masih perlu perhatian,” jelasnya.

Ia menambahkan, kebutuhan logistik yang masih diperlukan antara lain handuk, selimut, serta seragam sekolah bagi anak-anak. Untuk seragam sekolah perempuan dari berbagai jenjang, termasuk SMP, LAZISNU Bener Meriah telah menyiapkan sekitar 31 hingga 36 set sesuai data yang ada. Sementara itu, kegiatan belajar mengajar telah kembali berjalan sejak Senin (5/1/2026) karena bangunan sekolah dasar di wilayah tersebut tidak mengalami kerusakan berat.

Salah satu warga terdampak, Sulaeman dari Dusun Undengluar, menuturkan bahwa sejak hujan turun selama empat hari berturut-turut, warga telah mengungsi dan tidak lagi bermalam di rumah. Pengungsian dilakukan di beberapa titik karena keterbatasan tempat.

“Pagi hari anak-anak pulang ke rumah untuk mengambil seragam sekolah, lalu diantar ke sekolah. Orang tua ke kebun untuk mencari penghasilan, seperti dari durian. Malam hari kami kembali lagi ke pengungsian,” tuturnya.

Menurutnya, kebutuhan beras dan air bersih relatif tercukupi. Namun, pemulihan ekonomi, akses jalan, dan ketersediaan listrik masih menjadi harapan besar warga. Proses pembersihan material longsor juga masih berlangsung dan membutuhkan alat berat agar aktivitas warga dapat kembali normal.

Melalui kegiatan ini, NU Care–LAZISNU menyampaikan terima kasih kepada seluruh donatur dan masyarakat yang telah mempercayakan amanahnya. NU Care–LAZISNU juga mengajak masyarakat luas untuk terus bergotong royong membantu para penyintas bencana agar proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat dan berkelanjutan. (hud/rls).

Leave A Reply

Your email address will not be published.