Malam itu Baghdad seolah menahan napas. Imam Abu Bakar Asy-Syiblī duduk menyandar sendiri di sudut zawiyah. Dinding tanah liat dingin, lampu minyak nyaris padam. Di luar, angin musim dingin menggesek daun pintu, seperti orang yang ragu mengetuk.
Ia tidak sedang berdoa. Tidak juga berzikir. Ia hanya hadir, sepenuhnya hadir dalam kehancuran dirinya sendiri. “Aku lelah menjadi seseorang,” bisiknya dalam hati. “Aku ingin lenyap.”
Ilmu yang pernah membuatnya disegani terasa seperti beban. Jabatan masa lalu hadir sebagai bayangan yang memalukan. Bahkan ibadah—yang dahulu menghibur—kini terasa seperti cermin yang memantulkan kekurangan.
Ia rebah tanpa niat tidur. Dalam tidurnya, Asy-Syiblī melihat sebuah cahaya memenuhi ruang. Bukan cahaya yang menyilaukan, tetapi cahaya yang menenangkan. Dari cahaya itu, tampak Rasulullah, wajahnya bercahaya lembut, senyumnya penuh kasih—seperti yang selalu diceritakan para sahabat.
Asy-Syiblī gemetar. Ia ingin berbicara, tetapi lidahnya kelu. Ia ingin mendekat, tetapi kakinya lemah. Rasulullah melangkah dekat. Tanpa sepatah kata, beliau meletakkan tangannya di kepala Asy-Syiblī, lalu mencium keningnya—dengan kasih yang tak pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.
Dalam mimpi itu, Asy-Syiblī menangis tersedu-sedu. Dan di celah antara sadar dan fana, sesuatu terbuka. Cahaya itu tidak datang dari arah mana pun. Ia hadir begitu saja—seperti rahmat. Wangi semerbak berminggu-minggu.
Ia tidak berani menatap wajah itu lama-lama. Dadanya sesak oleh rasa malu suci. Lututnya gemetar. Ingin bersujud, tetapi tak sanggup bergerak. Lalu tangan itu datang.
Hangat. Tenang. Tegas tanpa kekerasan. Dan keningnya disentuh—dicium—dengan kasih yang tak pernah ia kenal di dunia. Bukan seperti ciuman manusia. Bukan pula seperti mimpi biasa. Itu seperti pengakuan.
Asy-Syiblī menangis—tetapi air matanya tidak jatuh. Tangis itu pecah di dalam, membasuh sesuatu yang telah lama mengeras.
Ketika ia terbangun, subuh belum tiba. Lampu minyak telah padam. Dingin masih sama. Dunia tidak berubah. Tetapi ia tidak lagi sendirian. “Aku hanya takut jika suatu hari aku lupa bagaimana rasanya dicintai.”
Dan setiap kali ia menyentuh keningnya sendiri, ia terdiam lama—seakan masih ada bekas ciuman yang tidak terlihat. Ibnu Mujahid, sahabat karibnya tahu, melalui mimpi. Kening wangi itu mengapa? Dua ayat terakhir surah Attawbah yang ia baca setiap salat itu membawa wangi cinta sang Rasul.
Selimut Kucing
Musim dingin turun perlahan di Baghdad. Angin dari Sungai Tigris membawa hawa dingin yang menusuk, menyelinap di antara gang-gang sempit kota yang kala itu menjadi jantung ilmu dan kekuasaan dunia Islam. Lampu-lampu minyak bergetar di depan rumah para pedagang, sementara para fakir menyelimuti diri dengan kain lusuh, menahan gigil.
Di sudut kota, seorang lelaki berjubah sederhana berjalan pelan. Wajahnya tenang, janggutnya memutih, matanya memancarkan cahaya kewaspadaan batin. Dialah Abu Bakr al-Shiblī, murid kesayangan Junayd al-Baghdadi—seorang ulama, sufi, sekaligus mantan pejabat istana yang telah memilih jalan kefakiran demi mendekat kepada Allah.
Ketika melintasi sebuah lorong, langkahnya terhenti. Dari balik tumpukan karung gandum yang basah, terdengar suara lirih—lemah, nyaris tak terdengar. Asy-Syiblī mendekat dan berlutut. Di sana, ia melihat seekor kucing kecil, tubuhnya gemetar hebat, bulunya kusut dan basah oleh embun dingin. Matanya setengah terpejam, seolah pasrah menunggu takdir.
Asy-Syiblī terdiam lama. Dadanya terasa sesak. “Ya Allah,” bisiknya, “jika makhluk selemah ini Engkau titipkan di hadapanku, lalu aku berpaling, dengan wajah apa aku nanti menghadap-Mu?”
Ia membuka jubahnya, yang satu-satunya cukup tebal ia miliki. Dengan hati-hati ia membungkus kucing kecil itu, mendekapkannya ke dada. Hangat tubuhnya berpindah perlahan, dan gemetar makhluk kecil itu mereda.
“Sayangilah yang di bumi maka malaikat di langit menyayangimu.” Ia ulangi sabda Nabi.
Ia membawa kucing itu ke zawiyah kecil tempat para murid biasa berkumpul. Ia mengeringkannya, memberinya sisa susu hangat, lalu meletakkannya dekat perapian. Kucing kecil itu meringkuk, tertidur lelap—untuk pertama kalinya malam itu, tanpa rasa takut.
Menjelang subuh, Asy-Syiblī duduk bersila, memandang makhluk kecil itu. Bibirnya bergerak dalam zikir. “Cinta kepada Allah bukan hanya tangisan di mihrab, tetapi tangan yang menghangatkan makhluk-Nya di dunia yang dingin.”
Pagi itu, Baghdad bangun seperti biasa—pasar kembali ramai, para ulama kembali mengajar, para pejabat kembali ke istana. Di sebuah sudut kecil kota, seekor kucing tengah menikmati kasih sayang seorang wali.
Kematian
Baghdad berduka. Di musim panas tahun 334H atau 946M, pagi yang pucat, kabar wafatnya Abu Bakr al-Syiblī menyebar dari zawiyah ke zawiyah, dari pasar ke masjid. Tidak ada ratapan keras. Tidak pula kemegahan pemakaman ulama berusia 87 tahun itu di antara banjir ribuan orang.
Jasadnya terbaring ringan, seakan beban dunia telah dilepaskan jauh. Wajahnya tenang—seperti seseorang yang akhirnya menemukan tempat istirah. Para sahabat dan muridnya menguburkan beliau menjelang zuhur. Tanah Baghdad menutup tubuh seorang yang sepanjang hidupnya sering dianggap “gila oleh cinta”.
Malam pun turun. Pada malam yang sama—di rumah yang berbeda, di sudut kota yang berjauhan—lebih dari satu sahabat memimpikan serupa. Asy-Syiblī tampak berdiri di sebuah padang luas yang terang. Wajahnya berseri. Bajunya putih mersik. Tanpa gelisah, pula takut.
Salah seorang sahabatnya bertanya: “Wahai Syiblī, dengan apakah Allah memperlakukanmu?” Asy-Syiblī tersenyum—senyum yang dulu jarang ia tunjukkan di dunia.
“Aku diampuni,” katanya pelan.
“Dengan amal apa?” tanya sahabat itu. “Dengan ilmu? Dengan zikir? Tangisan malam? Puasamu? Salatmu?”
Asy-Syiblī menggeleng. “Bukan dengan semua itu.” Ia terdiam sejenak, lalu berkata: “Allah tidak menimbang dengan apa yang kubanggakan, tetapi dengan apa yang hampir kulupakan.”
Lalu gambaran itu berubah. Tampak seekor kucing kecil, kurus, menggigil di musim dingin Baghdad. “Pada malam itu,” kata Asy-Syiblī, “aku tidak berniat mendekat kepada Allah. Aku hanya tidak tega.”
Ia memandang sahabatnya dengan mata berkaca-kaca. “Ternyata, belas kasih itulah yang mengetuk pintu langit.”
Keesokan paginya, para sahabat saling bertemu. Mereka terdiam lama ketika menyadari mimpi mereka sama—serupa kata. “Jangan remehkan kebaikan kecil.”
Lantas, seekor kucing sedih keluar dari zawiyah.
Dikutip bebas dari kitab Nashaihul Ibad ‘alal Munabihat ‘oleh Syekh Nawawi Al-Bantani atas karya Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, halaman 16. Terbitan Darul Kutub Al-Islamiyah, Jakarta, 1429/2008. (Musthafa Helmy)