RISALAH NU ONLINE JOMBANG — Senin (2/03), suasana peringatan Hari Lahir (Harlah) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) ke-71 yang jatuh tepat pada hari ini, 2 Maret 2026, berubah menjadi balutan duka mendalam.
Di saat seluruh kader pelajar putri di pelosok negeri sedianya merayakan tujuh dekade pengabdian organisasi, mereka justru harus kehilangan salah satu kader terbaik sekaligus mentor agung, Hj. Margaret Aliyatul Maimunah. Ribuan pelayat tampak memadati Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang, untuk mengantarkan almarhumah ke peristirahatan terakhirnya.
Ketua Umum PP IPPNU, Whasfi Velasufah, tampak hadir langsung di barisan terdepan pelayat untuk memberikan penghormatan terakhir. Kehadiran Whasfi beserta jajaran pengurus pusat di tengah momentum Harlah ke-71 ini menjadi simbol penghormatan tertinggi bagi Ning Margaret, yang sejarah hidupnya tidak bisa dilepaskan dari rahim kaderisasi IPPNU sebelum akhirnya menjabat sebagai Ketua Umum PP Fatayat NU.
“Bagi para kader muda, Ning Margaret bukan sekadar pemimpin, melainkan mercusuar perjuangan yang menunjukkan bahwa pelajar putri NU mampu menembus kancah nasional sebagai pejuang hak perempuan dan anak di KPAI,” ujarnya.
Rangkaian prosesi pemakaman berlangsung penuh haru sejak jenazah disalatkan di Masjid Jami’ Denanyar. Dalam suasana yang khidmat, Whasfi Velasufah bersama ribuan kader IPPNU dan Fatayat NU turut mengiringi keranda jenazah menuju liang lahat dengan iringan kalimat Thayyibah yang menyayat hati.
Momentum 2 Maret yang seharusnya penuh sukacita perayaan, kini justru menjadi saksi bisu perpisahan fisik antara organisasi dengan tokoh yang selama ini menjadi teladan dalam memajukan harkat dan martabat pelajar putri di Indonesia.
Dalam kesaksiannya di lokasi, tampak para kader merasakan kehilangan yang luar biasa. Ning Margaret dianggap sebagai bukti nyata keberhasilan kaderisasi IPPNU yang mampu mencetak sosok pemimpin yang tulus dan berintegritas. Setelah prosesi penurunan jenazah dan pembacaan talqin selesai, doa-doa khusus dalam rangka Harlah IPPNU ke-71 pun dipanjatkan, yang kali ini dikhususkan bagi ketenangan jiwa almarhumah. Kini, meski Ning Margaret telah beristirahat dengan tenang di bumi Denanyar, semangat perjuangannya resmi menjadi warisan paling berharga bagi IPPNU di usianya yang ke-71 tahun. (deila)