Sejak tahun 1931, Soeara NU yang beraksara Arab dan Bahasa Jawa-Arab digantikan Berita NU dengan Bahasa Indonesia dan aksara latin. Sebagai pemimpin redaksi (hoofdredacteur) adalah Kiai Mahfudz Siddiq.
Ia melakukan transformasi besar dengan mengubah media NU yang sempit untuk kalangan Jawa menjadi luas. Modernisasi ini membuat media NU lebih mudah diakses oleh kalangan muda dan masyarakat umum pada masanya.
Di bawah kepemimpinannya (dibantu tokoh seperti KH Abdullah Ubaid), NU berhasil menerbitkan majalah yang distribusinya sangat luas untuk ukuran zaman itu, yaitu hingga ke Jawa, Madura, Lampung dan bahkan Mekah.
Kiprahnya di media juga didukung oleh karismanya. Singkatnya, peran KH Mahfudz Siddiq dalam media NU bukan sekadar ikut menulis, tetapi ia adalah arsitek modernisasi pers NU yang menjadikan media sebagai alat pergerakan, pendidikan, dan identitas organisasi.
Tak disangka ternyata ratusan mahasiswa atau santri Indonesia di Tanah Suci Mekah juga ikut keranjingan BNO. Jarak yang jauh antara Surabaya dan Mekah tak menjadi halangan kegairahan menunggu majalah kesayangannya itu meski berhari-hari. Jadwal kedatangan kapal juga tidak setiap bulan.
Sebagian besar pelajar Indonesia di Mekah kala itu belajar di Madrasah Shaulatiyah. Madrasah Al-Shaulatiyah di Makkah bukan sekadar sekolah tua, tetapi institusi legendaris yang menjadi jembatan emas ulama Nusantara dengan dunia Islam dunia. Berdiri tahun 1874 M (1292 H) atas prakarsa Syekh Rahmatullah al-Kairanawi, yang menjadikannya lembaga pendidikan swasta pertama di Arab Saudi yang sering dijuluki “Al-Azhar Tanah Hijaz” .
Syekh Rahmatullah adalah ulama besar asal India yang masih keturunan Sayyidina Utsman bin Affan. Dinamai Shawlatiyah karena untuk menghormati Begum Shaulatun Nisa, seorang perempuan dermawan asal Kalkuta yang menjadi donatur tunggal pembangunan madrasah ini.
Fakta mencengangkan, 95% siswa madrasah ini pada masanya adalah pelajar dari Nusantara (Indonesia, Malaysia, Patani). Alumni ternama dari Nusantara antara lain KH Hasyim Asy’ari (Pendiri NU), KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), dan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (Pendiri Nahdlatul Wathan), dan banyak lagi.
Nah, peristiwa kritis terjadi tahun 1934. Pemicunya adalah seorang guru madrasah itu yang masih keturunan India merobek majalah BNO milik santri Indonesia.
Ceritanya, di luar jam pelajaran madrasah seorang guru menyaksikan sejumlah murid asal Indonesia tengah asyik membaca bersama majalah BNO. Melihat hal itu guru India itu lantas merampas majalah itu dan yang mengagetkan, ia kemudian merobeknya sambil melontarkan kata-kata SARA. “Kalian orang Jawa bangsa berbudi rendah.”
Madrasah Nusantara
Peristiwa itu membuat semua murid sekolah itu bereaksi keras melakukan pemogokan. Tak hanya murid asal Indonesia saja, termasuk juga murid asal Malaysia dan Thailand (Patani). Ini bukan sekadar keributan biasa, melainkan momen lompatan kesadaran nasional di Tanah Suci yang dipicu oleh sentimen kehormatan dan nasionalisme.
Bahkan kemudian diikuti reaksi seluruh guru dan murid asal Jawa (Nusantara) yang secara kolektif keluar dari Madrasah Shaulatiyah. Ini bukan keputusan individu, tapi aksi solidaritas terorganisir yang mencerminkan kebanggaan nasional. Hal ini mengagetkan apalagi dipicu dari sebuah majalah.
Dari peristiwa itu, warga Nusantara di Mekah akhirnya tersadarkan untuk mendirikan madrasah sendiri yang kemudian diberi nama Darul Ulum. Lembaga ini kemudian menjadi pusat intelektual bagi orang Indonesia dari kalangan pesantren di Mekah selama dekade akhir kolonial.
Kasus ini membuktikan bahwa semangat nasionalisme tidak hanya tumbuh di Indonesia, tapi juga menggelora di kalangan perantau di Timur Tengah. Majalah BNO terbukti tidak hanya menyebar di Jawa, tapi berhasil membangkitkan kesadaran identitas hingga ke jantung Arab Saudi. Insiden robeknya majalah karya Mahfudz Siddiq inilah yang memicu lahirnya lembaga pendidikan alternatif milik orang Indonesia di perantauan.
Madrasah ini didirikan di Suqul Layl pada 16 Syawwal 1353 H atau 22 Januari 1935 M. Pendiri dan inisiator adalah Sayyid Muhsin bin Ali al-Musawwa al-Falimbani. Ulama kelahiran Palembang yang menjabat sebagai Mudir (kepala sekolah) pertama pada 1935.
Lantas, Syekh Abdul Haq, tokoh yang disebut memiliki hubungan erat dengan ulama Nusantara dan berperan dalam proses semangat kebangsaan yang melatarbelakangi berdirinya Darul Ulum dan Syekh Abdul Manan. Ada juga nama Syekh Ali bin Ibrahim al-Maliki. Ia adalah ulama asal Maghribi (Maroko) yang bertindak sebagai pelindung dan guru besar madrasah. Ia mufti Mazhab Maliki di Mekah.
Syekh Muhaimin bin Abdul Aziz al-Lasemi adalah ulama kelahiran Rembang yang memimpin Darul Ulum pada era awal. Di masanya, madrasah mengalami kemajuan pesat dan berhasil menyelenggarakan forum Bahtsul Masail (Raudhatul Munadzirin). Selanjutnya jabatan itu jatuh kepada Syekh Yasin bin Isa al-Fadani. Ia ulama keturunan Padang yang dijuluki Musnid ad-Dunia (pakar sanad hadits dunia). Ia memimpin Darul Ulum sejak tahun 1964 M hingga wafatnya tahun 1990 dan menjadikannya sebagai mudir terakhir sebelum madrasah ditutup.
Sebagai guru tercatat nama Syekh Dahlan Cholil dan KH Ma’shum Cholil, dua putera KH. Cholil Juraimi (Demak) dari keluarga Pesantren Rejoso, Jombang. Ia ditunjuk sebagai Kepala Bidang Manajemen Kurikulum pertama dan anggota perumus kitab Tsamrah ar-Raudhah asy-Syahiyyah. Lalu, Syekh Muhammad Zainuddin Bawean, ulama kelahiran Mekkah keturunan Bawean, Gresik.
Selanjutnya, Nyai Khairiyyah Hasyim, puteri KH. Hasyim Asy’ari dan istri Syekh Muhaimin al-Lasemi yang kemudian mendirikan Madrasah Kuttabul Banat (1942), lembaga pendidikan perempuan pertama di Mekah yang berada di bawah naungan Darul Ulum.
Alumni madrasah Darul Ulum jumlahnya ratusan orang yang kemudian mengisi dan menyebarkan ilmu di tanah Jawa. Antara lain KH. Maimoen Zubair, ulama terkemuka asal Sarang, Rembang. Ia tercatat masuk belajar di Darul Ulum pada tahun 1950. (Musthafa Helmy)