Dari Hormuz Ke Malaka: Lahirnya Jaringan Ulama Hadis Nusantara

0

Saat ini pemberitaan penutupan Selat Hormuz oleh Iran sangat memberikan goncangan kuat terhadap perekonomian dunia, hal ini dikarenakan selat ini merupakan jalur utama distribusi energi global; sebagian besar minyak dari Timur Tengah dikirim ke berbagai negara melalui jalur tersebut. Namun di Asia Tenggara terdapat jalur laut lain yang juga sangat strategis bagi perdagangan dunia, yaitu selat Malaka.

Selat ini menjadi penghubung utama antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik sekaligus jalur terpendek yang menghubungkan Timur Tengah, Asia Selatan, dan Eropa dengan pusat ekonomi Asia Timur seperti Cina, Jepang, dan Korea. Setiap tahun puluhan ribu kapal dagang melintasi Selat Malaka membawa energi, bahan baku, dan berbagai komoditas global, sehingga stabilitas selat ini sangat menentukan kelancaran perdagangan internasional dan perekonomian dunia saat ini.

Sejak abad ke-7, jalur perdagangan laut yang menghubungkan Timur Tengah, India, Asia Tenggara, dan Cina membentuk jaringan maritim dunia yang sangat penting. Jalur ini dimulai dari selat Hormuz di Teluk Persia, melewati Samudra Hindia dan India, lalu menuju selat Malaka yang pada masa itu berada dalam pengaruh kerajaan maritim Sriwijaya. Posisi Sriwijaya yang strategis menjadikannya pelabuhan transit bagi kapal-kapal pedagang Arab, Persia, dan India yang menuju Cina. Interaksi perdagangan ini tidak hanya membawa komoditas seperti rempah-rempah, kapur barus, dan tekstil, tetapi juga membuka kontak awal antara masyarakat Nusantara dengan dunia Islam. Penelitian jurnal ilmiah menunjukkan bahwa dominasi maritim Sriwijaya di jalur perdagangan internasional menyebabkan para pedagang Muslim dari Timur Tengah singgah di pelabuhan-pelabuhan Sumatra, yang kemudian menjadi salah satu pintu awal interaksi Islam dengan kawasan Nusantara.

Pertemuan para pedagang dari berbagai wilayah tersebut tidak hanya membawa komoditas perdagangan, tetapi juga mempertemukan budaya, bahasa, dan agama, termasuk Islam. Karena proses interaksi itu melibatkan banyak jalur dan bangsa, para sejarawan kemudian melahirkan berbagai teori tentang kedatangan Islam ke Nusantara, seperti teori Gujarat yang menekankan peran pedagang India, teori Makkah yang melihat hubungan langsung dengan dunia Arab, teori Persia yang menyoroti pengaruh tradisi Iran, serta teori Cina yang mengaitkannya dengan komunitas Muslim di Cina. Keragaman teori ini pada dasarnya menunjukkan bahwa Islamisasi Nusantara terjadi melalui jaringan perdagangan maritim yang luas di sekitar Selat Malaka yang sejak awal menjadi ruang pertemuan berbagai peradaban.

Selat Malaka tidak hanya mempertemukan komoditas dagang, tetapi juga mempertemukan tradisi keilmuan Islam. Sejak sekitar abad ke-16, jalur ini semakin ramai dilalui oleh para pelajar dan ulama Nusantara yang melakukan rihlah ilmiah ke Haramain, sehingga terbentuk jaringan genealogi keilmuan Islam dan transmisi sanad hadis dari Makkah ke berbagai pusat keilmuan di Nusantara. Melalui mobilitas ulama, jamaah haji, dan pedagang inilah tradisi intelektual Islam berkembang dan mengakar dalam masyarakat Indonesia dan kawasan Melayu.

Buku Jejak Pendidikan Ulama Hadis: Transmisi Sanad dari Haramain ke Indonesia–Malaysia (Abad XVI–XX) ditulis secara kolaboratif oleh dua akademisi dari Indonesia dan Malaysia. Penulis pertama adalah Iwan Kuswandi, akademisi dari Universitas PGRI Sumenep yang dikenal aktif menulis buku-buku keislaman, sedangkan penulis kedua adalah Norhasnira Ibrahim, pensyarah di Universiti Sains Islam Malaysia pada Fakulti Al-Qur’an dan Sunnah. Iwan Kuswandi formasi intelektualnya berakar dari tradisi pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura Indonesia serta pendalaman kitab turats di beberapa pesantren di Madura, dan diperkuat oleh pengalaman rihlah ilmiah serta talaqqi Al-Qur’an kepada Syekh Abdul Aziz al-Hindi di Masjid Nabawi Madinah Saudi Arabia, yang kemudian mendorongnya aktif dalam pendidikan, dakwah, serta penulisan buku-buku tentang pesantren, ulama, dan sejarah dakwah Islam di Nusantara. Sedangkan Norhasnira Ibrahim adalah akademisi bidang pengajian hadis yang kini berkhidmat sebagai Pensyarah Kanan di Universiti Sains Islam Malaysia, dengan latar pendidikan Usuluddin (al-Qur’an dan Hadith), sarjana, dan Ph.D dalam Pengajian Hadith dari University of Malaya.

Buku ini memuat kajian biografis terhadap 22 ulama hadis dari Indonesia dan Malaysia yang menjadi bagian dari jaringan transmisi keilmuan Islam antara Nusantara dan Haramain sejak abad ke-16 hingga abad ke-20. Pada bagian pertama dibahas ulama hadis dari Indonesia, dimulai dari Nur al-Din al-Raniry, Abdurrauf as-Sinkili, dan Yusuf al-Makassari yang berperan pada fase awal perkembangan intelektual Islam di Nusantara, hingga tokoh-tokoh besar abad berikutnya seperti Abdus Shamad al-Palimbani, Ahmad Rifa’i Kalisalak, Nawawi al-Bantani, Mahfudz at-Tarmasi, Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Baqir al-Jogjawi, Hasyim Asy’ari, serta Muhammad Yasin al-Fadani yang dikenal luas dalam jaringan sanad hadis dunia. Sementara itu, bagian kedua mengkaji kontribusi ulama hadis dari Malaysia, seperti Wan Ali bin Abdul Rahman al-Kelantani, Hussain Kedah al-Banjari, Sayyid Hassan bin Ahmad, Uthman Jalaluddin, Muhammad Idris al-Marbawi, Yaakub Haji Ahmad, Abdul Halim al-Hadi, Mohd Nor Ibrahim, Abdul Rahman Nik Man, Ismail Haji Yusof, dan Mustafa Abdul Rahman.

Penulisan biografi setiap tokoh ulama dalam buku ini disusun secara sistematis dengan memuat berbagai aspek penting kehidupan dan kontribusinya. Setiap ulama diawali dengan biodata pribadi yang mencakup asal-usul keluarga, orang tua, istri dan anak-anak, serta informasi tentang kelahiran dan kewafatannya. Selanjutnya diuraikan riwayat pendidikan yang ditempuh, baik di lingkungan lokal maupun dalam jaringan keilmuan internasional, khususnya ketika menuntut ilmu di Makkah dan Madinah. Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan kontribusi para ulama tersebut dalam bidang pendidikan, dakwah kemasyarakatan, serta keterlibatan mereka dalam organisasi keislaman di wilayahnya masing-masing. Tidak kalah penting, setiap biografi juga memuat karya-karya yang dihasilkan selama hidupnya—terutama yang berkaitan dengan studi hadis—serta penjelasan tentang sanad ilmu hadis yang mereka peroleh dari para guru di Haramain. Selain itu, diuraikan pula para murid yang pernah belajar kepada mereka dan yang kemudian hari berkembang menjadi ulama yang turut berperan dalam penyebaran dan pengembangan dakwah Islam di Indonesia dan Malaysia.

Memotret beberapa ulama hadis sejak abad ke-16, Makkah dan Madinah menjadi pusat pendidikan Islam yang menarik pelajar dari kawasan Nusantara dan dunia Melayu. Melalui perjalanan haji dan rihlah ilmiah, para ulama dari Indonesia dan Malaysia membangun jaringan keilmuan yang kuat dengan para guru di Haramain, terutama dalam studi hadis. Jaringan ini berkembang melalui hubungan guru-murid dan transmisi sanad yang kemudian dibawa kembali ke pesantren dan pusat pendidikan Islam di Nusantara. Di antara tokoh penting dalam jaringan tersebut adalah Abdurrauf as-Sinkili pada abad ke-17 yang dikenal sebagai pelopor tradisi keilmuan Islam di Aceh, kemudian Mahfudz at-Tarmasi pada abad ke-19 yang diakui sebagai salah satu ulama hadis terkemuka di Haramain, serta Muhammad Yasin al-Fadani pada abad ke-20 yang dikenal dengan julukan musnid al-dunya karena keluasan sanad hadis yang dimilikinya. Melalui jaringan ulama inilah genealogi pendidikan hadis dari Haramain terhubung dengan lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia dan Malaysia hingga abad ke-20.

Buku ini mendapatkan apresiasi dan sambutan hangat dari beberapa akademisi hadis di berbagai belahan dunia. Misalnya dari akademisi Universiti Sains Islam Malaysia, Profesor Dato’ Dr. Adnan Mohamed Yusoff, yang dalam kata pengantarnya menekankan bahwa para ulama Indonesia dan Malaysia yang belajar di Haramain membawa pulang sanad keilmuan yang otoritatif dan kemudian mengembangkan pengajaran hadis di berbagai institusi pendidikan di Indonesia dan Malaysia, sehingga terbentuk kesinambungan tradisi keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah saw.

Senada dengan itu, di buku tersebut juga ikut memberikan kata pengantar, Prof. Dr. Muhammad Irfan Helmy, pakar ilmu hadis dan saat ini sebagai Atdikbud KBRI Riyadh Saudi Arabia, mengatakan bahwa hubungan intelektual antara Hijaz dan Nusantara telah berlangsung lama melalui jaringan ulama dan pelajar, di mana Haramain menjadi pusat produksi dan otoritas keilmuan hadis yang terus melahirkan generasi ulama Nusantara hingga masa kini.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia, Prof. Dr. Saifuddin Zuhri Qudsy menjelaskan bahwa jaringan ashab al-Jawiyyin yang terbentuk melalui perjalanan haji dan rihlah ilmiah menjadikan ulama Nusantara sebagai perantara penting dalam mentransmisikan ilmu hadis dari pusat keilmuan Islam di Timur Tengah ke Asia Tenggara, sehingga lahir tradisi intelektual yang hidup dalam karya, pengajaran, dan institusi pendidikan.

Pandangan ini juga diperkuat oleh Prakata Ketua Syuriah PCI NU Saudi Arabia, KH. Dr. Ahmad Fahmy Yasir al-Anfanany, yang menegaskan bahwa Masjidil Haram dan lembaga pendidikan di Makkah merupakan mata air ilmu yang melahirkan banyak ulama Nusantara yang kemudian menyebarkan hadis dan ilmu syariah di Indonesia dan Malaysia. Namun, KH. Dr. Ahmad Fahmy Yasir al-Anfanany yang merupakan Khadimul ‘Ilmi fi Baladillah al-Haram, memberikan catatan bagi buku ini, bahwa jaringan ulama Nusantara di Haramain tidak hanya berkembang dalam bidang hadis, tetapi juga dalam berbagai disiplin ilmu Islam lainnya. Selain ulama-ulama yang biografinya dimuat dalam buku ini, masih banyak tokoh Nusantara yang berperan besar dalam penyebaran ilmu pada dekade 1970-an dan layak dikenang kontribusinya, di antaranya Syaikh Zakaria Bila yang dikenal sebagai ahli usul fikih, Syaikh Abdullah Dardum yang mendalami ilmu alat hingga pernah menjadi rujukan dalam ilmu nahwu di lingkungan Masjidil Haram, Syaikh Abdul Fattah Rawah sebagai pakar ilmu faraid, Syaikh Lalu Adnan Hikmatullah yang menjadi guru besar di Madrasah Shaulatiah, Syaikh TGH. Mukhtar Kediri sebagai ahli fikih mazhab Syafi’i, Syaikh Abdul Karim Banjar yang mengajar di Masjidil Haram dengan bahasa Indonesia, serta Syaikh Mukhtar Palembang dan sejumlah ulama Nusantara lainnya yang turut membentuk jaringan keilmuan Islam di Haramain. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa kontribusi ulama Nusantara di Makkah tidak hanya terbatas pada bidang hadis, tetapi juga meliputi berbagai disiplin ilmu yang memperkaya tradisi intelektual Islam di Indonesia dan Malaysia.

Buku Jejak Pendidikan Ulama Hadis: Transmisi Sanad dari Haramain ke Indonesia–Malaysia (Abad XVI–XX) direkomendasikan bagi akademisi, mahasiswa, peneliti, pengajar pesantren, serta pemerhati sejarah dan pemikiran Islam yang ingin memahami perkembangan jaringan keilmuan ulama di kawasan Melayu-Nusantara. Buku ini layak dibaca karena menyajikan rekonstruksi historis tentang bagaimana hubungan intelektual antara pusat-pusat keilmuan Islam di Makkah dan Madinah dengan Indonesia dan Malaysia membentuk tradisi pendidikan, dakwah, dan otoritas ulama selama beberapa abad melalui rihlah ilmiah, hubungan guru-murid, serta jaringan sanad. Secara akademik, buku ini juga memberikan kontribusi penting bagi kajian ilmu hadis di Asia Tenggara dengan menampilkan biografi, karya, sanad keilmuan, serta jaringan murid para ulama hadis Nusantara, sehingga memperlihatkan bahwa tradisi studi hadis tidak hanya berkembang di Timur Tengah, tetapi juga tumbuh kuat di Indonesia dan Malaysia sebagai bagian dari jaringan ulama dunia. Selamat Membaca!

Judul Buku : Jejak Pendidikan Ulama Hadis: Transmisi Sanad dari Haramain ke Indonesia Malaysia (Abad XVI-XX)
Penulis : Dr. Iwan Kuswandi, M.Pd.I., & Dr. Norhasnira Ibrahim, MA, Ph.D
Penerbit : Mata Kata Inspirasi
Kota Penerbit : Bantul, Indonesia
Tahun Terbit : Februari, 2026
Jumlah Halaman : 150
ISBN : : 978-634-7382-55-9
Peresensi : Alfin Kurnia Nurur Rahman (Master of Quranic and Sunnah Studies Universiti Sains Islam Malaysia)

Leave A Reply

Your email address will not be published.