RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – Meski peperangan di wilayah Timur Tengah sampai hari ini masih memanas, tapi penyelenggaraan haji tahun 2026 tetap berjalan. Hal itu menimbulkan was was masyarakat Indonesia, terutama keluarga Jemaah haji yang ditinggalkan.
Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Ni’am Sholeh Prof Ni’am meminta jamaah haji Indonesia untuk mendoakan bangsa Indonesia agar dijadikan bangsa yang aman, damai dan sejahtera. Ia pun berharap kepada pemerintah Indonesia untuk memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah haji Indonesia dalam melaksanakan ibadah haji 1447 H di Tanah Suci.
Prof Ni’am, sapaan akrabnya, menjelaskan layanan tersebut di antaranya mengenai layanan keamanan, transportasi, pemenuhan akomodasi, pemantauan dan kontrol terhadap kondisi kesehatan jamaah haji.
“Tak kalah pentingnya adalah fasilitas serta jaminan penyelenggaraan syarat rukun haji bagi al-hujjaj wal mu’attamirin. Jangan sampai konsentrasi habis untuk kepentingan pemenuhan transportasi, akomodasi, sementara syariahnya diabaikan atau diminimalkan,” ujar Prof Ni’am dilansir dari MUI Digital, Jum’at (24/4/2026).
Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah, Depok, Jawa Barat ini mengungkapkan optimalisasi layanan syariah di dalam penyelenggaraan ibadah haji bagi jamaah, salah satunya, memenuhi kebutuhan sarana-prasarananya.
“Tugas tanggung jawab pemerintah adalah mengoptimalkan layanan syariah di dalam penyelenggaraan ibadah bagi jamaah, salah satunya, dengan memenuhi kebutuhan sarana-prasarana sebagai wasilah untuk memenuhi tujuan utama,” ungkapnya.
Ketua Majelis Alumni IPNU ini menegaskan, optimalisasi layanan dengan pemenuhan sarana-prasarana sangat penting agar terpenuhinya syarat rukun haji dan terlayaninya jamaah haji secara optimal.
Saat berada di Madinah, ia mengimbau kepada jamaah agar fokus melaksanakan ibadah. “Melakukan refleksi atas kehidupan Nabi Muhammad SAW serta sahabat agar kita dapat meneladani kehidupan beliau dalam keseharian, baik sebagai individu, anggota keluarga, maupun anggota masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” paparnya.
Kemudian, Prof Ni’am menyampaikan pesan kepada jamaah untuk memperkaya wawasan dengan membaca literatur seputar Madinah dan tempat-tempat bersejarah, serta melakukan refleksi sejarah untuk dijadikan ibrah (pelajaran).
“Misalnya saat ziarah ke Masjid Quba, Masjid Qiblatain, ke Jabal Uhud, ke Makam Baqi, dan tentu ke Makam Rasulullah SAW serta para sahabat,” tegasnya.
Prof Ni’am juga berpesan kepada jamaah haji untuk bermunajat di tempat-tempat mustajab, khususnya di Raudhah. “Pemimpinnya diberikan ma’unah oleh Allah SWT dan diberikan petunjuk dan kekuatan untuk memimpin dengan adil untuk mewujudkan masyarakat yang mutamaddin,” ungkapnya.
(hud/dam).