Membaca Krisis Kelahiran di Seoul, Korea Selatan dan Taipe Taiwan

0

Muhammad Riza Diponegoro

Tentang Korea Selatan, memang harus jujur sejak awal bahwa penulis belum pernah menginjakkan kaki di sana. Visa penulis untuk penugasan LD PBNU pada tahun 2023 tak pernah keluar.

Tapi kadang, sejarah jurnalistik mengajarkan bahwa kesaksian dari kejauhan bisa memiliki ketajaman yang berbeda. Ketika seseorang mengirim pesan kepada penulis dari sebuah negeri tempatnya bekerja. Sebuah pesan dengan teks yang diketik pada pukul dua dini hari lantaran tak bisa tidur, karena di luar jendela apartemennya, lampu kota masih menyala. Dadanya terasa kosong, yang keluar adalah ungkapan kejujuran yang tak tersensor oleh etika percakapan tatap muka.

Dari kejujuran yang penulis baca itulah kemudian gambaran mengenai jawaban terekam dan tersusun rapi. Jawaban penulis mulai dengan mendeksripsikan angka kelahiran di Korea Selatan pada tahun 2024, sebanyak 0,72%. Sebuah angka yang membuat para demograf di seluruh dunia berhenti dan menggosok mata. Belum pernah ada negara modern dengan ekonomi sekelas Korea Selatan memiliki angka di bawah satu persen. Artinya, setiap generasi hanya melahirkan kurang dari separuh jumlah dirinya sendiri, seperti halnya sebuah sungai yang perlahan-lahan menyusut, tahun demi tahun, hingga yang tersisa hanya bebatuan kering dan ingatan tentang air.

Seorang pekerja migran yang sebelumnya pernah bekerja di Jepang yang melanjutkan kontraknya ke Korea, pernah memberikan sebuah pesan kepada penulis. Sebuah pesan yang dalam kesederhanaannya merangkum lebih banyak dari seluruh laporan Bank Dunia dan IMF. Katanya: “Ustadz, di sini orang-orangnya lebih keras dari masyarakat di Jepang. Tapi lelahnya sama, mungkin malah lebih parah. Mereka berlari lebih kencang, tapi sepertinya tidak tahu ke mana tujuannya”.

Anak muda Korea Selatan punya istilah untuk menggambarkan kondisi mereka, yaitu “sampo sedae”, atau generasi yang melepaskan tiga hal, yakni kencan, nikah, dan anak. Bukan karena mereka membenci cinta, bukan juga karena mereka mempunyai paham nihilistik. Tapi karena sistem yang mereka tinggali telah mengubah cinta dan keluarga menjadi barang mewah yang hanya bisa dibeli dengan harga yang tak masuk akal. Kompetisi yang brutal sejak usia taman kanak-kanak, harga properti yang mencekik leher, dan jam kerja yang menyedot seluruh jam bangun manusia. Di ujung semua itu, setelah berlari puluhan tahun di atas treadmill yang kecepatannya terus naik, mereka berhenti sekedar untuk bertanya: “untuk apa?”.

Dari seberang lautan, suara mereka tetap sampai, namun yang paling sering terdengar bukanlah keluhan tentang kemiskinan, melainkan tentang kekosongan di tengah kecukupan. Bagi penulis, fenomena semacam itu merupakan alarm yang lebih mengkhawatirkan dari angka kemiskinan seekstrem apun. Alasannya, kemiskinan bisa dilawan dengan kebijakan. Tapi kekosongan, ia adalah lubang di dalam jiwa yang tak bisa diisi oleh subsidi apapun yang menjadi kebijakan pemerintah mana pun.

Sedangkan Taiwan, penulis mengenalnya secara fisik. Selama satu bulan penuh di sana, penulis bisa merasakan dinginnya lantai apartemen sempit yang kami gelari karpet untuk sahur bersama. Penulis juga masih bisa mendengar gema takbir yang pelan tapi penuh di ruangan yang hanya dihadiri belasan jamaah namun entah kenapa terasa seperti lautan yang bergerak dalam ritme yang sama. Begitupun, penulis masih bisa mencium aroma bau kurma dan nasi kotak yang bercampur dengan parfum para pekerja migran yang menyempatkan diri berhias untuk shalat tarawih. Seolah, mereka ingin mempersembahkan versi terbaiknya untuk bermunajat kepada Allah s.w.t. yang mereka rindukan lebih dari apapun di negara itu.

Namun di luar sekat kebersamaan itu, Taiwan menyimpan paradoks tersendiri. Angka kelahiran di Taiwan pada tahun 2023 adalah 0,87%, sebuah catatan statistik yang paling rendah di seluruh dunia pada tahun itu. Di malam hari, negara ini berpendar dengan neon, kehidupan malamnya tak pernah tidur, kedai-kedainya penuh dengan para pemuda yang tertawa dan berfoto. Tapi di siang hari, statistik demografinya, seolah sedang memadamkan gemerlap dirinya sendiri.

Komunitas Muslim di Taiwan adalah komunitas kecil yang beragam dan luar biasa tangguh. Sebagian besar adalah pekerja migran dari Asia Tenggara, seperti Indonesia, Vietnam, Filipina, dan Thailand. Mereka adalah paradoks yang berjalan dengan dua kaki, manusia-manusia yang datang ke sebuah negeri yang secara kolektif sedang melupakan cara memulai berkeluarga. Sementara, di dalam dada mereka sendiri, nilai-nilai tentang keluarga masih hidup dan bernapas seperti api yang menolak untuk padam.

Suatu sore setelah shalat Ashar, seorang perawat muda asal Jawa Barat yang sudah tiga tahun bekerja di Taipei bercerita kepada penulis. Ia berkata kepada penulis: “Teman-teman di Taiwan tidak paham mengapa saya masih ingin punya banyak anak? Mereka bilang bahwa hidupku tidak efisien”. Ia tertawa, namun di balik tawanya, penulis mendengar hal yang serius. Ia hidup di antara dua sistem nilai yang bergerak ke arah yang berlawanan, dan ia tidak tahu berapa lama lagi bisa bertahan.

Di Taiwan, percakapan tentang childfree terjadi di kafe-kafe di distrik Da’an dengan nada yang santai, tentang menunda pernikahan, dan tentang prioritas karir di atas segalanya. Seolah keputusan untuk tidak meneruskan garis keturunan adalah pilihan gaya hidup biasa, seperti memilih pola makan atau merek pakaian. Bagi penulis, yang paling mengganggu bukanlah pilihannya. Tetapi. betapa wajarnya pilihan itu terasa, betapa sedikitnya resistensi sosial yang tersisa sekadar berbisik: “Ada dimensi lain dari kemanusiaan yang tidak bisa direduksi menjadi kalkulasi efisiensi”.

Di Taiwan penulis belajar bahwa kekosongan bisa hadir dalam kemasan yang sangat cantik. Bahwa sebuah masyarakat bisa tampak baik-baik saja dari luar, produktif, tertib, bersih, gemerlap. Sementara diam-diam, di dalam statistik yang jarang dibaca orang, ia sedang melupakan cara untuk berlanjut. Setelah sebulan bertugas di Taiwan, penulis lalu kembali ke Indonesia, tepatnya Pesantren al-Mashduqiah di Kraksaan, Probolinggo. Penulis pulang dengan mata yang berbeda. Mata yang sudah melihat ujung jalan dari dekat, dan kini memandang Indonesia yang masih berada di tengah perjalanan.

Setelah melakukan perenungan, ada gugatan yang hendak penulis ajukan. Jakarta memang bukan Taipei, Surabaya juga bukan Seoul. Kemiskinan masih nyata di sini, ketimpangan masih menganga lebar. Angka kelahiran Indonesia masih bertengger di 2,1%, tepat di angka yang cukup fantastis. Di kafe-kafe Jakarta Selatan, anak-anak muda berbicara tentang quarter life crisis dengan kosa kata yang nyaris identik dengan yang penulis dengar di kedai kopi Taipei. Di Bandung, para konten kreator mendokumentasikan gaya hidup sendiri, apartemen mungil, tanaman hias, secangkir kopi yang diphoto dari sudut empat puluh lima derajat. Ia lalu memberikan caption dengan narasi yang ganjil: “Sendiri adalah kemewahan”. Di kota lain, seperti Surabaya, istilah childfree mulai dihafal dan diucapkan dengan fasih.

Fenomena “rebahan” telah bergeser dari candaan internet menjadi manifesto diam-diam. Diksi “Healing” telah menjadi kebutuhan yang dirasa tak pernah terpenuhi, seperti menimba air ke dalam sumur tanpa dasar. Pernikahan diundur bukan karena biaya, melainkan karena “belum siap”. Ketidak-siapan yang berkepanjangan ini memiliki polemik. Ia memiliki aroma ketidak-mauan yang samar, dikemas dalam bahasa psikologi yang membuatnya terdengar bijak.

Tentu saja, penulis tidak menghakiminya sebagai sesuatu yang keliru. Penulis yang lahir di Temanggung dan merantau ke Gontor, ke Semarang, ke Probolinggo, lalu ke Jepang dan Taiwan, tahu betul apa artinya lelah. Penulis tahu bahwa keinginan untuk berhenti sejenak adalah respons manusiawi terhadap dunia yang bergerak dengan kecepatan yang sangat kencang. Layaknya algoritma media sosial, di mana notifikasi tak pernah berhenti berdenting, di mana ekspektasi sosial menumpuk seperti tagihan yang jatuh tempo setiap pagi. Tetapi, ada perbedaan antara berhenti sejenak untuk mengambil nafas, dengan berhenti karena lupa mengapa perjalanan ini dimulai, sepertinya fenomena yang terjadi di Indonesia, mulai berkenalan dengan jenis kelelahan yang kedua. (*).

Leave A Reply

Your email address will not be published.