Mukaddimah
Di antara kita atau juga para pembaca yang budiman, paling tidak pernah mendengar nama Syaikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi atau yang akrab dengan panggilan Syaikh Ramadhan al-Buthi. Beliau adalah salah seorang ulama sunni kontemporer yang pemikirannya banyak dikaji dan menjadi rujukan dunia Islam. Halaqah majelis ilmu yang beliau ampu di beberapa masjid, terutama masjid Damaskus, Syiria, banyak dihadiri oleh jamaah dari berbagai penjuru dunia, tak terkecuali dari Indonesia. Sebagian besar para jamaah yang menghadiri mejelis ilmu beliau adalah para pelajar yang sedang menempuh pendidikan di Syiria. Meskipun penulis tidak pernah merasakan pendidikan di Syiria, tetapi penulis sering membaca karya-karya ulama yang berasal dari negeri tersebut. Wabil khusus, karya Syaikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi yang salah satu karyanya kita kaji dalam tulisan ini.
Ulasan Kitab
Nama kitab yang kita kaji pada tulisan ini adalah “Lâ Ya’tîhil Bâthil, Kasyfun Li Abâthila Yakhtaliquhâ wa Yulshiquhâ Ba’dhuhum bi Kitâbillâhi ‘Azza wa Jalla”, karya Syaikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi. Bila dipahami secara bahasa, nama kitab ini hendak membongkar beberapa tuduhan batil yang disematkan kepada al-Qur’an. Di sini Syaikh Ramadhan al-Buthi tidak secara spesifik menunjuk siapa yang membuat tuduhan batil terhadap al-Qur’an. Namun bila ditelaah lebih jauh, mereka yang sering melontarkan tuduhan keji terhadap al-Qur’an adalah sebagian orientalis, atheis, serta sebagian pemikir modern liberal.
Dikatakan demikian, karena dalam kitab ini, al-Buthi tidak hanya mengcounter tuduhan mereka, namun juga sekaligus mengkritisi metodologinya dalam memahami al-Qur’an. Menurut al-Buthi, dalam memahami al-Qur’an para penuduh itu cenderung berpijak pada pola pikir sekuleristik, over skeptis, dan nir-objektif, sehingga pemahaman yang mereka peroleh cacat, baik pada sisi rasionalitas, terlebih pada sisi metodologis.
Alasan al-Buthi perlu menulis karya yang ia beri nama “Lâ Ya’tîhil Bâthil”, berangkat dari keresahannya terhadap fenomena di mana semakin banyak orang yang sebelumnya jauh dari Islam justru mulai merasakan kedekatan dengannya. Kelompok yang mendewakan akal, di mana mereka dahulu menjauh dari kebenaran ajaran Islam, kini perlahan berbalik arah. Mereka menunjukkan minat, kesungguhan untuk mendengar, serta keinginan untuk mempelajari dan memahami prinsip-prinsip akidah serta nilai-nilai yang di kandungnya.
Namun, di balik kecenderungan yang positif itu, muncul reaksi yang berlawanan. Sebagian para pembenci ajaran Islam itu justru menunjukkan permusuhan yang semakin tajam, disertai amarah kebencian yang semakin mengkobar. Sikap mereka tidak lagi berpijak pada rasionalitas yang digembar-gemborkan dalam berbagai forum, karena dikuasai oleh emosi yang tak terkendali. Mereka menyerang piranti ajaran Islam tanpa dasar yang jelas dan tanpa pemahaman yang mendalam. Menurut al-Buthi, justru yang lebih mengherankan, mereka cenderung melakukan serangan terhadap ajaran Islam di ruang-ruang tertutup tanpa mengundang lawan bicara untuk melakukan dialog.
Bagi al-Buthi, fenomena sebagaimana dijelaskan di atas merupakan tipu daya dan serangan massif terhadap Islam pada hakikatnya ditujukan kepada risalah yang dibawa oleh semua para rasul dan nabi. Artinya, upaya yang dilakukan oleh mereka itu bukan sebagai bentuk pembelaan terhadap sebagian nabi dan rasul. Karena, orang yang punya akal sehat pasti memahami dengan betul bahwa tidak mungkin Allah s.w.t. mengutus para nabi dan rasul dengan ajaran yang saling bertentangan, dan atau sebagian mereka menjadi musuh bagi sebagian yang lain.
Karena itu, di sini al-Buthi menegaskan bahwa mereka yang menyerang al-Qur’an, pada dasarnya telah menyatakan perang terhadap seluruh kitab samawi. Di samping itu, pada hakikatnya mereka juga telah menyatakan permusuhan terhadap agama itu sendiri, apa pun bentuknya, meskipun di hadapan khalayak umum mereka menampakkan diri sebagai kelompok yang beragama. Bagi mereka, jalan tercepat untuk menyingkirkan agama dari kontestasi peradaban adalah dengan mengarahkan serangan kepada Islam. Hal itu disebabkan, karena Islam merupakan sari pati dari risalah para nabil dan rasul, serta menjadi titik temu bersama bagi ajaran mereka.
Menurut mereka, upaya untuk meruntuhkan Islam hanya dapat dilakukan dengan merobohkan pilar-pilar yang menjadi sumber ajarannya. Sebagaimana jamak diketahui, sumber utama dalam ajaran Islam adalah Al-Qur’an. Oleh sebab itu, mereka berusaha sekuat tenaga untuk melakukan serangan terhadap al-Qur’an dengan tuduhan-tuduhan keji yang tak mendasar. Hal itu mereka lakukan melalui berbagai macam kanal media sosial, tulisan, dan mimbar-mimbar diskusi monolog tanpa mengundang pihak yang diserang.
Kemudian al-Buthi memberikan argumen bahwa jika seandainya al-Qur’an itu merupakan hasil rekayasa dan ciptaan manusia, niscaya ia tidak akan mampu bertahan melintasi zaman. Dengan berbagai upaya yang dilakukan para pembenci Islam, baik dari sisi tenaga, strategi, maupun dukungan materi, semestinya al-Qur’an telah lama pudar, kehilangan pengaruh, dan hanya sebagai catatan sejarah. Namun faktanya, hingga saat ini al-Qur’an malah semakin menjadi primadona yang banyak dihafal dan dipelajari oleh banyak orang di berbagai institusi, baik di pesantren, terlebih di perguruan tinggi di seluruh penjuru dunia.
Fakta sebagaimana diurai di atas hendak memberikan penegasan bahwa al-Qur’an telah berhasil mempertahankan eksistensinya dengan kesuksesan yang gemilang serta bersih dari segala noda. Tidak ada satu pun keraguan yang hinggap dalam hati umat muslim meskipun diupayakan lewat tuduhan-tuduhan yang tidak mendasar. Al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah s.w.t. telah membuktikan dirinya sebagai petunjuk yang mampu bertahan di atas cahaya kemuliaannya. Karena itu, kelompok dan aliran manapun yang mempelajari al-Qur’an secara adil dan proporsional, akan menyimpulkan bahwa ia merupakan wahyu yang tak akan tergerus oleh perubahan zaman. Bahwa kebenaran yang dibawa al-Qur’an memiliki daya tariknya sendiri, yang dapat dirasakan oleh siapapun yang mendekatinya dengan pikiran terbuka.
Selanjutnya, al-Buthi mencoba memperkuat argumennya dengan fenomena orang-orang yang memeluk Islam melalui al-Qur’an berikut penjelasan di dalamnya. Meskipun para pemeluk Islam tersebut sebelumnya merupakan komunitas yang asing terhadap al-Qur’an dan Islam. Bahkan, di beberapa negara non-muslim, orang-orang yang memeluk dan menjalankan ajaran Islam, mengalami peningkatan yang signifikan. Hal senada dirasakan penulis tatkala melakukan dakwah di Jepang selama bulan Ramadhan beberapa waktu yang lalu. Menurut penelitian Profesor Hirofumi Tanada dari Universitas Waseda, Shinjuku, Tokyo, jumlah Muslim di Jepang mencapai sekitar 420 ribu orang hingga akhir 2024.
Dengan capaian itu, maka jumlah umat muslim di Jepang mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari tahun ke tahun. Setidaknya, ada sekitar 420 ribu jiwa umat muslim dari total populasi sekitar 124,3 juta penduduk Jepang. Artinya, jika merujuk pada angka data ini, maka umat muslim di Jepang berdasarkan prosentasenya berada di kisaran 0,34%. Meskipun begitu, geliat Islam di negara yang berjuluk negeri Sakura ini tampak menyala. Hal itu dibuktikan dengan keberadaan masjid di seluruh Jepang yang mencapai 130 masjid pada awal tahun 2025. Sedangkan data pada tahun 2021 mencatat ada 113 masjid, ini menunjukkan ada peningkatan yang cukup signifikan selama kurang lebih 5 tahun.
Fakta ini secara jelas menegaskan bahwa al-Qur’an merupakan wahyu Allah s.w.t. tidak akan dikalahkan oleh kebatilan, meskipun diusahakan secara massif dan dengan kucuran dana yang besar. Karena dalam salah satu firman-Nya, Allah s.w.t. menegaskan: “Yang tidak datang kepadanya (al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”. (QS. Fusshilat, 41:42). Dalam firman yang lain, Allah s.w.t. menegaskan: “Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. (QS. Shaff, 61:08).
Penutup
Al-Qur’an, sebagai wahyu Allah s.w.t., memiliki ketahanan yang tidak dapat ditandingi oleh berbagai upaya yang berusaha meruntuhkannya. Kitab Lâ Ya’tîhil Bâthil” karya Syaikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi ini menegaskan bahwa serangan terhadap Islam, wabil khusus terhdap al-Qur’an merupakan dinamika panjang yang terus berulang dalam sejarah. Namun, yang menarik adalah bahwa intensitas serangan tersebut justru berbanding lurus dengan meningkatnya ketertarikan masyarakat global terhadap Islam. Al-Buthi menegaskan bahwa upaya serangan terhadap al-Qur’an seringkali dibangun di atas metodologi yang lemah, sarat prasangka, dan tidak objektif. Serangan demi serangan seringkali dilakukan tanpa dialog terbuka, sehingga lebih banyak mencerminkan letupan emosi semata daripada kajian ilmiah yang jernih. Dalam hal ini, al-Qur’an tidak hanya diuji sebagai teks, tetapi juga sebagai sumber value yang terus dipertanyakan relevansinya. Walhasil, dari pengujian itu, al-Qur’an jangankan melemah, justru ia semakin menunjukkan daya tariknya yang kuat. Wallahu A’lam.
H. Mohammad Khoiron
Wakil Ketua LBM PWNU DKI Jakarta