Buku Resolusi Jihad NU; Perang Sabil di Surabaya Tahun 1945

0

Salah satu upaya untuk merayakan ingatan kolektif bangsa Indonesia, khususnya bagi kaum santri di Nusantara, dalam konteks sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, dapat membaca buku ini.

Buku ini menyoroti peran penting “Resolusi Jihad” yang dikeluarkan oleh Nahdlatul Ulama (NU) pada 22 Oktober 1945, yang menjadi semangat bagi para santri dan kiai dalam mempertahankan kemerdekaan.

Melalui narasi yang mendalam, penulis menggali kontribusi para tokoh santri dan ulama. Seperti pada pembahasan awal, penulis menyebut tokoh Pangeran Diponegoro yang memimpin Perang Jawa (1825-1830). Setelah perang yang merepotkan Belanda ini berakhir, para pengikut Diponegoro menyebar. Selain Pangeran Diponegoro, tokoh santri berikutnya adalah para pengikut dan keturunan Diponegoro, misalnya KH Muhammad Ilyas dan KH Abdul Malik di Sokaraja, KH Badawi di Kesugihan, Cilacap, kemudian KH Masurudi di Baturaden, Purwokerto. Mereka punya jama’ah bahkan pesantren. Di sejumlah pesantren tua di kawasan selatan Jawa, banyak ditanam pohon sawo, yang ternyata merupakan isyarat jaringan ulama. (hal 2-3).

Dalam perkara Resolusi Jihad, KH Hasyim Asy’ari merupakan tokoh sentral (hal. 29). Ketokohannya diakui oleh semua kalangan. Bahkan pemikirannya dapat diterima oleh kalangan umat Islam dari berbagai organisasi yang sebelumnya berbeda orientasi ideologis. Pandangan KH Hasyim As’ari menginspirasi dan sekaligus diterima sebagai landasan bersikap menghadapi kekuatan imperialisme saat itu. (hal 46).

Disamping menggali kontribusi para tokoh, penulis juga mendalami peran organisasi seperti Barisan Hizbullah dan Barisan Sabilillah, yang berjuang di garis depan selama pertempuran Surabaya.

Pendekatan Jepang terhadap kelompok-kelompok Islam di Hindia Belanda terus berlanjut ketika memasuki masa pendudukan militer Jepang. Ada tiga hal yang dilakukan pemerintah militer Jepang untuk merangkul kekuatan Islam setelah berhasil menguasai Hindia Belanda, yakni: 1) pembentukan Kantor Urusan Agama (Shumubu), 2) pendirian organisasi Masyumi, dan, 3) pembentukan Barisan Hizbullah. (hal. 48).

Uraian fatwa jihad dan resolusi jihad NU mendapat porsi lebih. Penulis memuat utuh “Fatwa Djihad Hadratusseikh Muhammad Hasyim Asy’ari”, disertai sumber-sumber primer, misalnya Suratkabar Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, tentang Muktamar Umat Islam siap berjihad. (hal. 70).

Peristiwa yang melingkupi paska fatwa jihad dijabarkan rinci, diawali “merah putih di Masjid Agung Sunan Ampel dan insiden Hotel Yamato” (hal. 76), “saat-saat menjelang Brigadir Mallaby tewas” (hal. 84), hingga “tiga santri dibalik tewasnya Mallaby?”.

Buku ini tidak hanya menjadi monumen ingatan bagi generasi sekarang, tetapi juga sebagai warisan yang menginspirasi anak cucu di masa depan.

Bergabunglah dalam perjalanan menelusuri kembali jejak perjuangan yang penuh semangat dan penuh pengorbanan ini, dan temukan bagaimana “Resolusi Jihad” menjadi panglima perang bagi kaum santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

 

 

Identitas Buku

Judul : Resolusi Jihad NU; Perang Sabil di Surabaya Tahun 1945

Penulis : Riadi Ngasiran

Penerbit : UNUSA Press Surabaya

Tahun Terbit : 2024

Tebal : 144 halaman

Peresensi : Zahid, IPNU DKI Jakarta.

Leave A Reply

Your email address will not be published.