RISALAH NU ONLINE, JAKARTA – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) siap menggelar Muktamar Kebudayaan di Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA), Jombang, Jawa Timur pada 12 -14 Juni 2026.
Ketua Lesbumi PBNU KH M Jadul Maula menyatakan bahwa Muktamar Kebudayaan bukan sekadar perayaan figur semata. Namun, momentum menjadi untuk menggali kembali akar pemikiran kebudayaan dari para tokoh NU. “Bahwa kebudayaan itu keseluruhan yang menjadi jalan, sarana untuk mendidik manusia, yang pilarnya itu ada tiga: agama, ilmu pengetahuan, dan seni,” terangnya saat menjadi narasumber dalam video Menjadi Indonesia, Rabu (10/6/2026).
Melalui Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi 2026, sejumlah isu strategis akan menjadi fokus pembahasan. Di antaranya relevansi dan aktualisasi jati diri ulama sebagaimana dirumuskan para muassis NU dalam konteks negara-bangsa modern, manifestasi “Jihad Peradaban” dalam merespons krisis geopolitik global, evaluasi tata kelola negara pasca-amandemen UUD 1945, hubungan antara fikih lingkungan dan kebijakan konsesi tambang, serta pengembangan pemikiran Aswaja An-Nahdliyah dalam menghadapi persaingan teknologi global.
Kegiatan ini akan dihadiri budayawan, seniman, cendekiawan Lesbumi dari berbagai daerah di Indonesia, perwakilan PWNU, PCINU, PCNU, akademisi, pengamat sosial-politik, aktivis lingkungan, hingga pemerhati sejarah dan hukum tata negara. Kehadiran berbagai unsur tersebut diharapkan memperkaya perspektif dan menghasilkan rumusan kebudayaan yang responsif terhadap tantangan zaman.
Sebagai forum pemikiran strategis, muktamar ini ditargetkan menghasilkan sejumlah dokumen penting, antara lain Manuskrip Kebudayaan 2026 yang berisi rekomendasi strategis bagi PBNU dan Pemerintah Republik Indonesia, Manifesto “Kembali ke Akar” sebagai pernyataan sikap kebudayaan atas berbagai isu kontemporer, Buku Putih Pemikiran yang memuat kumpulan esai dan hasil kajian dari lima komisi, serta Perencanaan Strategis sebagai arah gerakan kultural Lesbumi NU di masa mendatang.
Untuk memperdalam pembahasan, panitia menyiapkan lima komisi utama. Pertama, Komisi Khittah yang membahas jati diri keulamaan di ruang sekuler dengan meninjau kembali Qonun Asasi NU. Kedua, Komisi Geopolitik yang mengkaji kontekstualisasi Resolusi Jihad sebagai jihad peradaban dalam pusaran konflik global. Ketiga, Komisi Kenegaraan yang menelaah konsistensi konstitusi dan dinamika ketatanegaraan pasca-amandemen. Keempat, Komisi Ekologi dan Organisasi yang mengupas fikih tambang serta berbagai dilema kebijakan yang menyertainya. Kelima, Komisi Aswaja dan Teknologi yang mengeksplorasi pengembangan sains dan teknologi berbasis epistemologi Aswaja An-Nahdliyah.
Melalui Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi dan Rakornas ke-VII ini, Lesbumi PBNU berharap dapat memperkuat fondasi kebudayaan Nahdlatul Ulama sekaligus menghadirkan kontribusi pemikiran yang relevan dalam menjawab krisis peradaban global yang tengah dihadapi masyarakat dunia. (Aji).