Seorang wali sepertinya tak boleh meninggalkan apa pun karena akan menjadi harapan para santri dan pengikutnya. Bahkan kadangkala ahli warisnya tak mendapatkan apa-apa karena banyak permintaan dari para murid dan pengikutnya.
Soal berkah, memang. Baju, sarung, tasbih dan sajadah yang ditinggalkan para wali itu membekas amal ibadah sang wali itu sendiri. Dari baju wali itu tentu yang diharapkan adalah baju yang paling banyak dipakai untuk ibadah, bukan baju baru.
Misalnya jubah Kiai Hamid yang wafat 25 Desember 1982 itu, juga begitu banyak baju dan sarungnya yang jatuh ke tangan orang lain, termasuk keluarga dekatnya. Yang paling bayak diminati adalah jubah dan sarung yang pasti selalu dipakai ibadah.
Ada jubah Kiai Hamid yang jatuh dan diberikan oleh Bunyai Hamid (Nyai Nafisah) kepada adik ipar dan juga sepupunya; KH Hasan Abdillah. Baju jubah berwarna krem itu memang paling banyak dikenakan Kiai Hamid dalam salat, baik sebagai imam salat atau makmum, atau ketika salat sunnah di rumah.
Bagi KH Hasan Abdillah, baju itu menjadi sangat istimewa yang senantiasa dipakai untuk salat. Bentuk bajunya terbuka bagian depan dari atas ke bawah sehingga mudah dikenakan. Maka baju itu sering dipakai hanya untuk salat dan di luar salat digantung.
Ketika Kiai Hasan Abdillah wafat tahun 2012, 30 tahun setelah Kiai Hamid, baju itu tergantung di gantungan baju. Tiba-tiba murid Kiai Hasan yang menjadi imam masjid di Selangor, Malaysia datang dan meminta kenangan apa pun yang pernah dikenakan gurunya.
Salah seorang putera Kiai Hasan memberinya jubah yang tergantung di kamar itu. Dia tidak sadar makna jubah itu.
Setelah tahu ia kaget. Sebab, anak-anak Kiai Hasan yang lain menyayangi baju jubah Kiai Hamid itu dan ingin diabadikan untuk dikenakan para penerus atau ahli waris Kiai Hasan. Tapi, mereka tak tega untuk meminta kembali baju itu kepada murid yang kini menjadi seorang imam di sebuah masjid di Selangor. Mungkin ini sudah nasib baik muridnya itu untuk menerima dan meneruskan keberkahan baju keramat. “Itu sudah menjadi warisan spiritual Kiai Hasan,” kata anaknya yang lain.
Baju Kiai Bisri
Kiai Hamid terkenal memiliki sahabat karib bernama Kiai Bisri Mustofa yang akrab sejak di pesantren. Kiai Bisri dikenal sebagai pengarang tafsir Al – Ibriz li Ma’rifah Tafsir Al Qur’an al –‘Aziz yang hingga kini masih dikaji antara lain oleh KH Sodaqah, Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah di Semarang.
Hubungan Kiai Bisri dengan Kiai Hamid sangat dekat. Kiai Bisri termasuk kiai yang bisa bercanda dan bahkan mencandai Kiai Hamid. Berbagai kisah tentang hubungan itu banyak dikisahkan dan disaksikan orang.
Misalnya, tentang dunia literasi, kenapa Kiai Bisri begitu mudah tangannya melahirkan tulisan-tulisan hingga puluhan buku. Kiai Bisri berkata: “Kalau menulis niati cari duit, pasti produktif.” Kiai Hamid tersenyum. Kiai Hamid juga melahirkan tulisan berbahasa Arab: Nazam Sullam Taufiq dan Taqriratul Hamidiyah tentang ilmu Balaghah.
Buku-buku Kiai Hamid tidak dicetak semasa beliau hidup. Baru dicetak setelah 25 tahun kewafatannya. Ia seolah menyembunyikan karyanya sebagai sikap tawadluknya yang tinggi. Dalam hal karya itu, KH Sahal Mahfdz, Rais Am PBNU, dalam pengantarnya memuji Kiai Hamid dalam hal ilmu dan akhlaknya yang tiada dua.
Dalam hal ceramah, Kiai Hamid paling nampik memberikan tausiah, bahkan doa, kecuali terpaksa. Misalnya, diminta memimpin doa oleh pamannya, KH Ahmad Siddiq, ia terpaksa bersedia.
Berbeda dengan Kiai Bisri yang sangat piawai mengolah kata di podium. Bahkan pernah menulis buku cara berpidato. Menurut Prof. KH. Saifuddin Zuhri, Kiai Bisri termasuk ulama yang mampu mengutarakan hal sulit menjadi gamblang, mudah diterima semua kalangan, termasuk kalangan awam. Hal-hal yang berat menjadi ringan. Bahkan sesuatu yang membosankan menjadi mengasikkan. Sesuatu yang kelihatannya sepele menjadi amat penting. Berbagai kritiknya sangat tajam meluncur lancar dan menyegarkan. Pihak yang terkena kritik tidak marah dan hanya tersenyum karena disampaikan secara sopan dan humor.
Kiai Hamid dan Kiai Bisri lahir di Rembang dan hampir sebaya, 1915. Tahun 1970-an, Kiai Bisri sering diundang berceramah saat imtihan di Pasuruan oleh Kiai Hamid. Kiai Bisri yang wafat tahun 1977 itu memiliki kenangan tersendiri bagi keluarga Kiai Hamid.
Termasuk hal baju Kiai Hamid. Begini kisahnya.
Usai mengisi pengajian di Pesantren Salafiyah Pasuruan, Kiai Bisri tidak sampai hati berharap ‘honororium’ dari Kiai Hamid. Tapi, ia amati baju yang dipakai Kiai Hamid menariknya, ditunjukkan dengan mimik yang khas.
“Bajumu kok bagus sekali, Nda!” kata Kiai Bistri. (Nda adalah sebutan pertemanan di daerah Rembang dan Kudus yang menunjukkan keakraban).
Kiai Hamid tersenyum dan lalu masuk ke kamar. Baju yang dipakai itu dilepas dan dibungkus lalu diberikan kepada Kiai Bisri. Kiai Bisri sangat puas membawa pulang baju ‘keramat’ itu.
Beberapa waktu kemudian, Kiai Bisri memanggil Pak Kusnan, seorang santri kalong yang kaya, tinggal di Jepon, Blora. Pak Kusnan itu santri yang terkanal patuh kepada para kiai, apalagi kepada Kiai Bisri .
“Kamu mau beli baju ini, Kang?” Mbah Bisri menunjukkan baju pemberian Mbah Hamid. “Ini baju dari Kiai Hamid.”
“Nggih”.
“Wani piro?”
“Saya bawa Rp 30 ribu”.
“Ya sudah sini. Nih… pakai sekarang!”
Pak Kusnan menyerahkan uang dan langsung memakai baju itu dengan bangga. Masih wangi.
“Sekarang, ayo ikut aku!”
Kiai Bisri membawa Pak Kusnan ke Pasuruan menemui Kiai Hamid.
Agaknya Kiai Hamid teringat baju yang diberikan beberapa saat lalu. “Bajumu bagus sekali, Kang?” Kiai Hamid menyapa Pak Kusnan. Kiai Bisri berlagak cuek seolah tak mendengar.
“Berapa harganya?”
“Rp 30 ribu”.
Kiai Hamid pun langsung menoleh kepada Kiai Bisri, “Susuk limang ewu, Nda!” katanya. (Artinya, kembali lima ribu.)”
Ulama sebaya itu langsung terkekeh-kekeh. Pak Kusnan baru mengerti kisah itu setelah dalam perjalanan pulang dari Pasuruan dengan mobil sedan Datsun 1600 CC tahun 1970-an.
Hal-hal seperti ini hanya bisa dilakukan Kiai Bisri kepada Kiai Hamid yang pernah tidur sebantal saat di pesantren. Sebab, banyak orang memandang wajah Kiai Hamid saja tidak berani karena silau dengan cahaya hatinya. (MH)