Kendaraan Kiai Ahmad

0

Kiai Ahmad Siddiq adalah bintang NU sejak Musyawarah Nasional (Munas) NU di Situbondo tahun 1983. Nama itu semakin menterang pada Muktamar NU ke 27 di tempat yang sama setahun berikutnya, 1984.

Kiai Ahmad berhasil merumuskan hubungan Islam dan Pancasila ketika Pemerintah mengharuskan semua ormas berasaskan Pancasila. Cara menjelaskan dengan bahasa sederhana serta gaya penyampaiannya memikat banyak orang, terutama kalangan ulama.

Diakui, ia tampan berwajah seolah perpaduan Arab dan Eropa.

Penampilan sangat sederhana dan elegan mencerminkan ia suka banyak makan garam kehidupan. Ia tampil dengan mengenakan baju putih lengan pendek, berkacamata dan mengenakan peci rajut putih. Ia semakin anggun ketika ia mengemudikan sendiri mobil Land Rover berwarna biru muda buatan Inggris tahun 1950-an akhir.

Termasuk mobil tua dibanding kendaraan kiai-kiai yang lain. Kiai Ahmad tidak menginap di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Asembagus itu. Ia selalu pulang pergi ketika Munas dan Muktamar NU digelar. Ia selalu tepat waktu sehingga tidak mengganggu acara. Jarak Asembagus-Jember sekitar 120 kilometer itu ditempuhnya dalam waktu kurang lebih dua jam.

Tentu, mobil Land Rover yang jadi kebanggaan Inggris ini sangat nyaman melayani sang kiai, santri Hadratus Sytaikh Hasyim Asy’ari ini. Menurut  KH M. Balya Firjon Barlaman, putra bungsunya, ia tak tahu persis riwayat kepemilikan mobil ini, apakah mobil pertama atau bukan. Tapi ia mengenal mobil ayahnya adalah mobil dengan mesin 2000 cc ini. Mobil ini dipakai untuk jarak jauh; Surabaya, Yogyakarya, Jombang bahkan Jakarta. “Menghidupkan mesinnya masih pakai slanger, atau engkol,” katanya.

Bahkan setelah Kiai Ahmad terpilih sebagai Rais Am Syuriah PBNU, mobil itu masih dipakainya. Namun, karena sering ke Jakarta, Kiai Ahmad memakai mobil dinas KH Masjkur, yang masih menjabat Wakil Ketua DPRRI. Kiai Ahmad juga menginap di rumah Kiai Masjkur di jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat.

Termasuk pada saat seminar keagamaan yang diselenggarakan Litbang Departemen Agama RI di Hotel Wisata International tahun 1985, Kiai Ahmad tidak menginap di hotel yang disediakan. Ia memilih menginap di rumah Menteri Agama zaman Bung Karno, KH Masjkur yang juga sahabat kakaknya, KH Mahfudz Siddiq.

Kiai Ahmad punya cucu seorang pengusaha mebel di daerah Pondok Pinang, Haji Zaini Abdusysyukur. Ia memiliki rumah besar yang menyediakan kamar untuk Kiai Ahmad. Ia meminta Kiai Ahmad untuk menginap di rumahnya. Bahkan ia dengan senang hati menjemput dan mengantar dari bandara dan keperluan di Jakarta lainnya. Kiai Ahmad diantar Mercedez Benz S 280. Mobil itu seperti dikhusukan untuk Kiai Ahmad dan Bunyai Nihayah jika datang ke Jakarta. Pemliknya jarang mengendarainya.

Beberapa tahun kemudian, setelah Muktamar yang menjauhkan NU dengan perpolitikan praktis itu, Kiai Ahmad, PBNU dan juga Kiai As’ad Syamsul Arifin (tuan rumah Muktamar NU ke 27) diberi mobil pemerintah.  Kiai As’ad menyebut pemberian dari Panglima TNI Jenderal Benny Murdani. Setelah diterima, sejak itu mobil tak penah diapakai oleh Kiai As’ad.

Mobil yang dibagikan itu adalah mobil Mitsubishi Lancer gerenasi keempat tahun 1985.  Mobil disain Mayaru Furukama 1600 cc ini termasuk mobil populer di dunia hampir menyamai Toyota Corolla. Mobil berwarna biru tua dengan nomor P 1926 ini menjadi kendaraan andalan Kiai Ahmad. Land Rover Kiai Ahmad kemudian pindah tangan ke Nahdliyin di kota Malang.

Sejak Kiai Ahmad wafat tahun 1991, mobil ini kemudian jatuh ke tangan kemenakannya, KH Muhammad Ayub Saifur Rizal alias Gus Sef. “Mesinnya masih bagus namun sudah jarang dipakai,” kata Zidni, putera Gus Sef. Mobi itu sekarang berada di Pondok Pesantren Ashria I alias Sabilul Muttaqin, Maesan, Bondowoso, sekitar 30 kilometer ke utara dari Jember.

Kiai Wahab dulu memiliki mobil Opel Kapitan tahun 1963, buatan Jerman. Mobil itu setia menemani hingga wafat tahun 1971. Kiai Bisri Syansuri tak memiliki kendaraan. Jika ia tengah bertugas sebagai anggota DPR di Jakarta ia diantar mobil milik puterinya, Nyai Wahid Hasjim, sedan Prancis Peugeot 304 yang dikemudikan cucunya sendiri Muslich Hasbullah. Kiai Ali Ma’shum jika di Jakarta ia memakai mobil milik muridnya H. Junaidi, pejabat di Kementerian Agama, atau santri-santri yang lain. (Musthafa Helmy)

Leave A Reply

Your email address will not be published.