Khutbah Jumat :Muharram Momentum Hijrah, Taubat, dan Kebangkitan Amal

0

 

Oleh: KH. Mahmud Salim Lc., M.Pd., M.E

(Dai Go Global 2026 dan Sekretaris LBM PCNU Cilacap)

 

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَ بَعْضَ الشُّهُورِ عَلَى بَعْضٍ، وَجَعَلَ فِيهَا مَوَاسِمَ لِلطَّاعَاتِ وَالْخَيْرَاتِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى جَزِيلِ النِّعَمِ وَالْهِبَاتِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنِيرُ الْقُلُوبَ وَتَشْرَحُ الصُّدُورَ وَتُكَفِّرُ السَّيِّئَاتِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، سَيِّدُ الْبَرِيَّاتِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أُولِي الْفَضْلِ وَالْمَكْرُمَاتِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Ma‘asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah s.w.t. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Sebab hanya dengan ketakwaan hidup menjadi mulia, hati menjadi tenang, dan akhir kehidupan memperoleh keselamatan. Saat ini kita memasuki bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender hijriyah. Bulan yang agung, bulan yang dimuliakan Allah, dan bulan yang memiliki banyak keutamaan. Allah Swt berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan dalam ketetapan Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. (QS. At-Taubah: 36).

Pada ayat di atas, Allah s.w.t. menegaskan bahwa jumlah bulan di sisi-Nya ada dua belas, sebagaimana ketetapan-Nya sejak penciptaan langit dan bumi. Di antara dua belas bulan itu terdapat empat bulan haram yang dimuliakan, yakni Dzulqa‘dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam diperintahkan untuk memperbanyak ketaatan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Kemuliaannya bukan hanya pada namanya, tetapi pada kesempatan besar untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka janganlah kita mengotori bulan mulia ini dengan dosa dan permusuhan, melainkan hiasilah dengan ibadah, dzikir, sedekah, serta mempererat silaturrahim dan persaudaraan agar hidup yang kita jalan penuh dengan keberkahan.

Sebagaimana disinggung di atas, para mufassir juga menjelaskan bahwa empat bulan haram itu adalah Dzulqa‘dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Karena itu, Imam al-Qurthubi berkata:

سُمِّيَتْ حُرُمًا لِعِظَمِ حُرْمَتِهَا، وَتَغْلِيظِ الذُّنُوبِ فِيهَا، وَتَعْظِيمِ الطَّاعَاتِ

Disebut bulan haram karena kemuliaannya yang agung, dosa-dosa diperberat di dalamnya, dan amal ketaatan dilipatgandakan pahalanya. (Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, juz 8, hlm. 134).

Di sini kita memahami bahwa bulan-bulan sebagaimana disinggung di atas dinamakan “hurum” karena memiliki kehormatan yang sangat agung di sisi Allah. Pada waktu itu, dosa-dosa menjadi lebih berat akibat dampak dan kehinaannya, sedangkan amal kebaikan dilipatgandakan nilainya. Dengan demikian, seorang mukmin hendaknya menjaga lisan, hati, dan perbuatannya dari maksiat serta memperbanyak ibadah, sedekah, dzikir, dan taubat. Momentum bulan haram mengajarkan kita agar lebih bertakwa dan menghormati syariat Allah. Barang siapa yang memuliakan apa yang dimuliakan Allah, maka Allah akan meninggikan derajatnya dan melimpahkan keberkahan dalam hidupnya di dunia maupun akhirat. Karena itu, bulan Muharram bukan bulan biasa. Ia adalah momentum untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal, dan memperkuat hubungan dengan Allah s.w.t..

Hadirin Yang Dimuliakan Allah

Rasulullah s.a.w. dalam sabdanya menyebut bulan Muharram dengan sebutan istimewa, sebagaimana Riwayat Imam Muslim:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram. (HR. Muslim, 1163).

Hadits ini menunjukkan kemuliaan bulan Muharam sebagai kesempatan memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Puasa di bulan ini menjadi bukti keimanan, ketakwaan, serta kecintaan seorang hamba kepada sunnah Nabi. Terlebih pada hari Asyura, Allah memberikan keutamaan besar dengan menghapus dosa-dosa kecil setahun yang lalu bagi orang yang berpuasa dengan ikhlas. Karena itu, marilah kita manfaatkan Muharam dengan memperbanyak puasa sunnah, zikir, sedekah, dan amal shaleh lainnya agar hidup penuh keberkahan serta mendapatkan rahmat dan ampunan Allah.

Jika kita memperhatikan secara seksama hadits di atas, Nabi menyebut Muharram dengan “Syahrullah” atau bulannya Allah. Penyandaran ini pada hakekatnya menunjukkan betapa mulianya bulan Muharram. Karena itu para ulama menganjurkan memperbanyak puasa sunnah di bulan ini, terutama puasa Tasu‘a dan Asyura, yakni tanggal 9 dan 10 Muharram. Rasulullah s.a.w. bersabda:

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

Jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa tanggal sembilan. (HR. Muslim, 1134).

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah dapat menghapus dosa setahun sebelumnya. (HR. Muslim, 1162).

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Hari Asyura adalah hari yang penuh pembelajaran yang memuat sejarah perjuangan para nabi. Karena, pada hari itu Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari kedzaliman Firaun. Tatkala Rasulullah s.a.w. melakukan hijrah ke Madinah dan telah sampai di sana, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa Asyura. Ketika ditanya, mereka menjawab:

هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَأَهْلَكَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ

Ini adalah hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan Firaun dan tentaranya. (HR. Bukhari, 3397).

Mendengar jawaban orang-orang Yahudi itu, seketika Rasulullah s.a.w. bersabda:

نَحْنُ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ

Kami lebih berhak terhadap Musa dari pada kalian. (HR. Bukhari Muslim).

Bila kita pahami hadits di atas, setidaknya ia mengingatkan kita tentang pertolongan Allah kepada Nabi Musa dan kaumnya ketika diselamatkan dari kedzaliman Firaun. Pada hari Asyura, Allah menunjukkan bahwa kebenaran pasti menang dan kebatilan pasti akan binasa. Ketika Rasulullah s.a.w. mendengar kaum Yahudi berpuasa karena menghormati peristiwa tersebut, beliau bersabda: “Kami lebih berhak terhadap Musa dari pada kalian”, pada hakekatnya menunjukkan bahwa seluruh nabi membawa ajaran tauhid atau pure monotoisme yang sama. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan berpuasa Asyura sebagai bentuk syukur kepada Allah. Karena itu, marilah kita mengambil pelajaran agar selalu teguh dalam iman, sabar menghadapi ujian, serta yakin bahwa pertolongan Allah pasti datang kepada hamba-Nya yang beriman. Lalu beliau berpuasa dan menganjurkan kaum Muslimin untuk berpuasa.

Para Jamaah Yang Dimuliakan Allah

Dari kisah di atas kita belajar bahwa rasa syukur para nabi diwujudkan dengan ibadah, bukan dengan hura-hura dan kemewahan. Ketika Allah memberikan keselamatan dalam bentuk apapun, para nabi mengapresiasikannya dengan bersujud. Ketika Allah memberi nikmat, para nabi mengejawantahkannya dengan berpuasa. Begitupun ketika Allah memberi kemenangan, para nabi merayakanya dengan cara bertaqarrub kepada-Nya. Karena itu, tahun baru hijriyah semestinya menjadi momentum hijrah ruhani, hijrah dari maksiat menuju ketaatan, hijrah dari lalai menuju sadar, hijrah dari kesombongan menuju ketawadhuan, dan hijrah  dari permusuhan menuju persaudaraan.

Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, pergantian tahun hijriyah bukan dirayakan dengan kemewahan dan hura-hura, tetapi dengan muhasabah, doa, dzikir, mempererat silaturahim, dan memperbanyak amal shaleh. Muharram mengajarkan pentingnya menjaga persatuan umat dan kerukunan bangsa. Oleh karena itu, jangan sampai media sosial dipenuhi fitnah, caci maki, dan permusuhan. Sebab, Islam datang membawa misi universal berupa rahmat, kedamaian, dan persaudaraan.

Para ulama menjelaskan hikmah mengapa Muharram dijadikan awal tahun hijriyah. Di sini ada pernyataan menarik yang dilontarkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari:

أَنْ يَحْصُلَ الِابْتِدَاءُ بِشَهْرٍ حَرَامٍ، وَيُخْتَمَ بِشَهْرٍ حَرَامٍ، وَتَتَوَسَّطَ السَّنَةُ بِشَهْرٍ حَرَامٍ وَهُوَ رَجَبٌ، وَإِنَّمَا تَوَالَى شَهْرَانِ فِي الْآخِرِ لِإِرَادَةِ تَفْضِيلِ الْخِتَامِ وَالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

Agar permulaan tahun dimulai dengan bulan haram, dan ditutup dengan bulan haram, serta pertengahan tahun berada pada bulan haram yaitu Rajab. Adapun dijadikannya dua bulan haram berurutan di akhir tahun karena adanya kehendak untuk memuliakan penutup, sebab amal itu tergantung penutupnya. (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, juz 8, hlm. 108).

Bila dipahami secara mendalam, Ibnu Hajar hendak mengajarkan kepada kita bahwa dalam kalender Islam, awal tahun dimulai dengan bulan haram, yaitu Muharam. Selanjutnya, dalam pertengahan terdapat Rajab, dan di akhir tahun ada dua bulan haram yang berurutan, yaitu Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. Semua itu menunjukkan kemuliaan waktu-waktu tertentu yang Allah pilih untuk mendidik hamba-Nya agar meningkatkan ketakwaan.  Betapa indah Islam mengajarkan bahwa awal kehidupan harus dimulai dengan kemuliaan, dan akhir kehidupan juga harus ditutup dengan kemuliaan pula.

 

Ma‘asyiral Muslimin Rahimakumullah

Bisa jadi Muharram tahun ini adalah Muharram terakhir dalam hidup kita. Karena, jika melihat fakta kehidupan, betapa banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita, kini telah berada di alam kubur. Dahulu mereka berjalan bersama kita, kini mereka menunggu doa dari orang-orang yang masih hidup. Karena itu, janganlah kita menunda untuk taubat, jangan pula menunda untuk ibadah, jangan menunda meminta maaf, serta jangan menunda memperbaiki diri. Imam Hasan al-Bashri berkata:

إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

Sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap satu hari berlalu, maka sebagian dirimu ikut pergi. (Abu Nu‘aim, Hilyat al-Auliya’, juz 2, hlm. 148).

Karena itu mari kita isi Muharram dengan memperbanyak taubat, memperbaiki shalat, memperbanyak membaca al-Qur’an, mempererat silaturahim, memperbanyak sedekah, mendidik keluarga dengan agama, dan memperbanyak amal shaleh.  Disebutkan dalam sebagian hikmah ulama salaf:

مَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ أَصْلَحَ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ

Barang siapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia. (Ibnu Abi ad-Dunya, al-Ikhlash wa an-Niyyah, hlm. 54).

Semoga Allah menjadikan Muharram ini sebagai awal kebangkitan iman, persatuan umat, dan perbaikan hidup kita semua. Amiin Yaa Rabbal Aalamiin.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلَهُ, أَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلًا وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمْسُلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّهُمَّ أَصْلِحِ الرُعَاةَ وَالرَّعِيَّةَ وَاجْعَلْ إِنْدُوْنِيْسِيَّا وَدِيَارَ الْمُسْلِمِيْنَ آمِنَةً رَخِيَّةً. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فىِ السِّرِّ وَالْعَلَنِ وَجَانِبُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Leave A Reply

Your email address will not be published.