Melihat Karya Ulama Nusantara di Muktamar NU ke 35

0

Risalah NU Jombang – Nahdlatut Turots menggelar pameran karya ulama Nusantara dari berbagai zaman di stan pameran yang diselenggarakan selama pelaksanaan Muktamar NU ke 35 di Tambakberas, Jombang, 26-30 Agustus 2026. Selain melihat pameran, pengunjung juga dapat melihat proses preservasi pada area ‘Klinik Turots’.

Naskah yang dipamerkan ada yang hasil tulis tangan maupun hasil cetakan. Salah satu yang dipamerkan di antaranya adalah manuskrip asli (autograf) terjemah Matan Al-Hikam karya Syaik Ibn Athaillah Assakandari yang ditulis dengan aksara pegon karya KH. Soleh Darat Semarang yang selesai ditulis tahun 1291 Hijriah. Manuskrip lainnya adalah naskah ilmu tata bahasa arab, kumpulan berbagai keilmuan islam, dan naskah tasawuf berbahasa sunda.

Naskah cetak yang ditampilkan kebanyakan adalah naskah karya ulama Nusantara cetakan lama seperti karya Syaikh Muhammad Nawawi Banten yang berjudul Syarah Tijanu al-Duroru, Syarah Sulam al-Munajat, Qotru al-ghoits, dll. Selain itu masih banyak naskah cetak dari ulama lain baik berbahasa Arab, Jawa, Melayu, maupun Sunda.

Salah pengunjung pameran, Muhammad Fauzi (24 tahun) mengatakan bahwa pameran ini menambah pengetahuannya tentang turots di Indonesia yang selama ini sepengetahuannya hanya ada di Madura.

“Sebelumnya saya kira turots itu belum senasional ini, ternyata di muktamar ini turost.id (yang diketahuinya) berkolaborasi dengan lembaga lain sehingga jadi menasional. Tadinya saya taunya yang di Madura. Ini menarik banget, apalgi bagi temen-teman yang teratarik dengan karya ulama zaman dulu,” katanya.

Berangkat dari Magetan bersama satu temannya, Fauzi, ia mendapatkan inspirasi untuk menerbitkan karya ulama zaman terdahulu agar dikenal oleh masyarakat selain menerbitkan karya kyai dan santri di pesantrennya. Pesantrennya sendiri saat ini sudah tujuh tahun menerbitkan majalah dua bulanan tentang Islam dan keilmuannya.

“Kebetulan kami di pondok bagian literasi santri. Biasanya kami cuma sekedar menerbitkan kitab buku karya kyai dan santri. Saya jadi tertarik. Bagaimana kita bisa menerbitkan turots-turots karya ulama zaman dulu. Harapannya, kedepannya kami juga menerbitkan karya tulis ulama-ulama zaman dulu,” kata Santri Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro Magetan.

Ia juga menyampaikan dugaannya bahwa di daerah Magetan juga banyak turots karya ulama setempat di masyarakat yang belum banyak diketahui karena belum banyak pegiat turos di daerah tersebut. Selain itu, sebagai santri asli dari Bandung, ia juga berharap kedepannya di Jawa Barat diselenggarakan kegiatan serupa.

“Sebetulnya di daerah kami, Magetan, nampaknya banyak kyai yang punya karya, cuma belum banyak diketahui. Diantara yang di sini, kayaknya yang dari Jawa Barat belum terlihat, makanya perlu diteliti lagi. Mungkin nanti bisa diperlebar lagi,” tutupnya.

Penulis: Ibnu A’thoillah

Leave A Reply

Your email address will not be published.