Dr. KH. Zakky Mubarak, MA
Setiap amal atau aktivitas selalu didahului dengan niat. Tanpa ada niat yang timbul dalam hati, tidak mungkin seseorang melaksanakan sesuatu.
Niat menjadi tolak ukur dari setiap amal dan perbuatan. Niat yang baik akan mendatangkan perbuatan yang baik dan terpuji. Sebaliknya, niat yang buruk akan mendatangkan perbuatan buruk dan tercela.
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.
Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niat, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang hendak diperolehnya atau karena seorang wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya adalah sesuai dengan tujuan yang ia niatkan dalam hijrahnya. (HR. Muslim, 1907).
Berdasarkan hadits tersebut, ditegaskan bahwa setiap amal dan perbuatan adalah tergantung kepada niatnya dan bukan pada perbuatannya. Niat tersebut harus dijiwai dengan keikhlasan yang mendalam, karena amal yang tidak disertai dengan keikhlasan seperti tubuh yang tidak bernyawa. Karena itu, antara niat dan keikhlasan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dicerai-pisahkan.
Ikhlas adalah ketika seseorang mewujudkan niatnya, perkataannya, dan perjuangannya hanya karena Allah saja dan karena mengharapkan keridhaan-Nya. Dengan demikian, aktivitas yang dilakukan seseorang itu tidaklah mengharap harta, kedudukan, sanjungan, pangkat, popularitas, dan kemewahan dunia lainnya. Dengan cara demikian, maka orang tersebut akan menuju keikhlasan yang maksimal pada keridhaan Allah s.w.t..
Allah s.w.t. tidak melihat pada bentuk dan perilaku dari amal seseorang, tapi melihat kepada hati dan keikhlasan yang dimiliki oleh orang tersebut. Sesungguhnya manusia secara keseluruhan akan binasa kecuali yang berilmu. Orang-orang yang berilmu akan binasa kecuali orang-orang yang beramal. Orang-orang yang beramal akan binasa kecuali mereka yang ikhlas.
Tingkatan dari amal ibadah seseorang dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu (1) orang-orang yang beribadah dan beramal, memiliki tingkat paling rendah atau tingkatan hamba sahaya, mereka yang melaksanakan kebajikan dan meningalkan keburukan dengan tujuan mendapatkan pahala dan terhindar dari siksa. Tingkatan yang ke (2) adalah tingkatan kaum pedagang, yaitu orang-orang yang beribadah dan beramal dengan pertimbangan untung dan rugi. Dengan demikian, ia akan mengharapkan pahala sebanyak-banyaknya.
Tingkatan yang ke (3) adalah tingkatan orang-orang yang ikhlas, semata-mata mengharap keridhaan Allah s.w.t. Semua ibadah dan muamalah yang mereka lakukan bertujuan kepada ridha-Nya.
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ لَا شَرِيْكَ لَهٗ ۚوَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Itulah yang diperintahkan kepadaku. Aku adalah orang yang pertama dalam kelompok orang muslim.” (QS. Al-An’am, 07:162).
Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa banyak orang beramal dan beribadah yang terpeleset dari niat yang ikhlas. Allah s.w.t. mendatangkan empat golongan manusia. Golongan yang pertama didatangkan seorang yang dikenal sebagai pejuang dan gugur sebagai pahlawan. Orang itu ditanya oleh Allah s.w.t.: Apa yang engkau lakukan dengan berbagai nikmat yang kamu peroleh? Orang itu menjawab: Aku berperang (berjihad) di jalan-Mu sehingga aku gugur sebagai syahid. Allah s.w.t. berfirman: Engkau telah berdusta, sesungguhnya engkau berjihad bukan karena Aku, tapi supaya kamu dikenal sebagai seorang pahlawan yang gugur sebagai syahid. Engkau telah memperoleh keinginganmu itu di dunia kemudian orang itu dicampakkan ke dalam api neraka.
Kelompok kedua adalah seorang ulama yang ilmu banyak, aktivitas sehari-harinya mengajar dan belajar. Allah bertanya kepadanya: Apa yang telah engkau lakukan dengan ilmu yang engkau miliki? Ia menjawab: Aku mempelajari ilmu dan mengajarkan kepada orang lain semata-mata menuju ridhamu. Allah menjawab: Engkau telah berdusta, sesungguhnya engkau mempelajari ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain supaya dikenal sebagai ulama yang termasyhur. Hal itu telah kamu peroleh di dunia, maka orang itu dicampakkan dalam api neraka.
Kelompok yang ketiga adalah orang-orang yang yang mempelajari al-Quran dan cabang ilmunya dengan sungguh-sungguh dan mengajarkanya kepada orang lain. Ia ditanya oleh Allah s.w.t.: Apa yang engkau lakukan dengan ilmu al-Qur’an mu? Orang itu menjawab: Aku mempelajari dan mengajarkannya kepada orang lain, serta mengajarkan qiraah semata-mata hanya karena engkau. Allah s.w.t. menjawab: Engkau telah berdusta, sesungguhnya engkau mengajarkan al-Qur’an dan mengajarkan qiraahnya supaya dikenal sebagai qari yang termasyhur dan disukai banyak orang. Kamu telah memperoleh keinginanmu itu di dunia, maka dicampakkanlah orang itu ke dalam api neraka.
Kelompok yang keempat adalah seorang hartawan dan dermawan yang selalu menginfakkan hartanya dalam berbagai kegiatan yang terpuji. Kepada orang ini Allah s.w.t. bertanya: Apa yang telah engkau lakukan dengan kekayaan dan hartamu itu? Ia menjawab: Aku senantiasa menginfakkan harta-hartaku hanya karena Engkau, tidak karena yang lain. Allah s.w.t. menjawab: Engkau telah berdusta, sesungguhnya engkau telah berinfak dan memberikan bantuan kepada sesamu supaya kamu ingin dikenal sebagai hartawan, dan hal itu telah kamu peroleh di dunia, maka dicampakkanlah orang itu ke dalam api neraka. (disarikan dari HR. Muslim, 1905).