Menunggu Waktu Luang

0

Dr. KH. Zakky Mubarak, MA

Banyak orang merencanakan berbagai pekerjaan dengan segala macam bentuknya, tidak langsung dilakukan, tetapi menunggu waktu luang.

Sikap seperti ini sangat tidak islami, karena dalam bimbingan yang sesungguhnya, diarahkan agar setiap orang muslim tidak meluangkan waktu atau menangguhkan pekerjaannya, karena hal itu akan mencampakkannya ke dalam kehidupan yang penuh penyesalan.

Setiap orang muslim hendaknya melaksanakan segala rencana dan kegiatannya setepat mungkin, tidak membuang waktu atau menunggu waktu yang luang. Apabila seseorang bisa mengerjakan suatu hal di pagi hari, maka jangan menunggu sampai sore hari. Apabila hal itu bisa dikerjakan sore hari, tidak perlu menunggu sampai malam hari dan seterusnya. Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah s.a.w. memesankan: “Jadilah engkau di dunia ini seperti seorang yang asing, atau orang yang lewat jalan”.

Ibnu Umar kemudian memaknai hadits tersebut: “Ketika engkau berada di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu sampai pagi, dan ketika engkau berada di waktu pagi, maka janganlah engkau menunggu sampai sore. Pergunakanlah sehatmu untuk sakitmu, dan pergunakanlah hidupmu untuk bekal kematianmu”. (HR. Bukhari, 3831).

Sahabat Jabir bin Abdillah meriwayatkan ketika Nabi s.a.w. berkhutbah, beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kamu kepada Allah, sebelum kamu disibukkan oleh pekerjaanmu, dan lakukanlah hubungan, antara kamu dengan Tuhanmu dengan memperbanyak zikir. Perbanyaklah sedekah, baik secara rahasia maupun terang-terangan, niscaya kamu akan diberi rizki, dapat pertolongan dan mendapat balasan kebaikan. (HR. Ibnu Majah, 2691).

Dalam kehidupan modern seperti yang dialami sekarang ini, sebagian besar manusia, kehidupannya selalu disibukkan oleh pekerjaan satu dengan yang lainnya. Sebagian besar pekerjaan itu berkaitan dengan urusan dunia dan oleh kegiatan lain yang tidak bermanfaat. Sadarlah wahai orang-orang yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhannya, bahwa sikap seperti itu merupakan suatu kebodohan. Suatu hal yang mencelakakan, karena dapat menutup mata batin untuk menyadari keagungan Allah s.w.t..

Selain dari yang disebutkan di atas, yang mewarnai kebodohan seseorang adalah: (1) mengutamakan kepentingan dunia yang sifatnya fana dan bersifat sementara, sebaliknya ia menelantarkan kepentingan akhirat. Padahal, kehidupan di akhirat itulah merupakan kehidupan yang sesungguhnya dan kehidupan yang abadi. Dijelaskan dalam al-Qur’an:
مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهٗ فِيْهَا مَا نَشَاۤءُ لِمَنْ نُّرِيْدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهٗ جَهَنَّمَۚ يَصْلٰىهَا مَذْمُوْمًا مَّدْحُوْرًا وَمَنْ اَرَادَ الْاٰخِرَةَ وَسَعٰى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤىِٕكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَّشْكُوْرًا
Barang siapa yang menghendaki kehidupan sekarang (duniawi) Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi siapa yang Kami kehendaki. Kemudian, Kami sediakan baginya (neraka) Jahanam. Dia akan memasukinya dalam keadaan tercela lagi terusir (dari rahmat Allah). Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, dan dia adalah seorang mukmin, mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik. (QS. Al-Isra, 17:18-19).

Kebodohan yang ke (2) adalah kegemaran mengumpulkan kekayaan dan kemewahan duniawi, sehingga orang tersebut tidak memiliki waktu untuk beribadah dan beramal shaleh. Orang yang hidupnya seperti ini digambarkan sebagai orang yang lalai, sehingga sampai masuk ke liang lahad.

Dalam surat al-Takatsur disebutkan tentang orang-orang yang selalu bermegah-megahan dan mengumbar hawa nafsu sampai waktunya habis atau sampai masuk liang kubur, ia belum sempat mengerjakan amal shaleh dan mengerjakan kewajiban-kewajiban agama lainnya.

اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَۗ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَۙ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ كَلَّا لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ الْيَقِيْنِۗ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَۙ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِيْنِۙ ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَىِٕذٍ عَنِ النَّعِيْمِ

Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu sampai kamu masuk ke dalam kubur. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Sekali-kali tidak (jangan melakukan itu)! Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya). Sekali-kali tidak (jangan melakukan itu)! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti, (niscaya kamu tidak akan melakukannya). Pasti kamu benar-benar akan melihat (neraka) Jahim. Kemudian, kamu pasti benar-benar akan melihatnya dengan ainulyakin. Kemudian, kamu pasti benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu). (QS. Al-Takatsur, 102:1-8).

Memperhatikan kenyataan ini, maka setiap orang muslim harus rajin beribadah, beramal shaleh, pada setiap saat, dan tidak boleh menunggu waktu luang. Hal itu harus terus dilakukan sampai akhir menutup mata.

Leave A Reply

Your email address will not be published.