Dr. KH. Zakky Mubarak, MA
Setiap orang mendambakan untuk memperoleh kesuksesan dalam meniti karir dan profesinya. Sebagian dari mereka ada yang tidak konsisten, sering berubah-ubah dalam merintis karir yang dijalani. Cara itu diyakini akan dapat mempercepat kesuksesan, sehingga dalam jangka waktu yang tidak begitu lama, ia memperoleh segala apa yang dicita-citakannya.
Sebetulnya sikap tidak konsisten dalam meniti karir, itu menunjukkan kesembronoan sikapnya. Karena berpindah-pindah dalam pekerjaan justru tidak akan mengantarkan pada kesuksesan, tapi mengantarkannya pada kegagalan. Kesuksesan dalam berbagai hal harus diraih dengan sikap istiqamah, demikian juga harus bersikap konsisten dalam meniti karir dan menjalani profesi masing-masing.
Mereka yang konsisten dalam menekuni pekerjaannya akan meraih kesuksesan demi kesuksesan dan terus meningkat pada keadaan yang lebih tinggi dan lebih sukses. Banyak orang yang sukses dalam kehidupan dunia ini diawali dari kegiatan sederhana dan sangat kecil. Tapi karena dijalani secara istiqomah, usaha itu kemudian menjadi besar dan meluas ke berbagai penjuru dunia.
Dalam kegaitan beragama, juga harus melandasi dirinya dengan kehidupan yang konsisten dan istiqamah. Dengan demikian, maka keadaan orang itu akan terus meningkat dalam kehidupan beragamanya. Agama digambarkan seperti buah kelapa, lapisan luarnya adalah sabut. Banyak orang yang beragama berkutat dalam sabut itu, tidak berusaha semakin mendalam. Ciri orang yang beragama dalam tataran ini adalah memiliki sikap tidak istiqamah, bermental kagetan, merasa baik sendiri, meremehkan orang lain, dan membanggakan diri.
Pada saat orang memasuki pada tataran yang kedua, yaitu batok kelapa, maka suasana keagamaanya akan semakin meningkat. Tidak lagi membanggakan diri, tapi mulai merasa banyak orang yang lebih baik dari dirinya. Memasuki tataran ketiga yaitu kopra, perilaku keagamaannya semakin baik. Tidak pernah meremehkan orang lain atau menyalahkan mereka, tetapi berusaha mencari kebaikan-kebaikan yang ada pada orang lain.
Tataran keempat adalahnya minyak kelapa sebagai intisari agama. Orang yang berada dalam tataran ini akan semakin meningkat nuansa keagamaannya dengan ditandai: (1) tidak pernah merasa angkuh atau sombong, (2) tidak bermental kagetan, sehingga segala hal selalu diperhitungkan baik buruknya dan tidak cepat mengambil keputusan sebelum menepatkan pertimbangan yang sangat matang. Dengan demikian, langkah dan keputusannya selalu tepat dan tidak menimbulkan penyeselan di kemudian hari.
(3) selalu mengambil pelajaran dari orang-orang di sekelilingnya yang baik maupun yang buruk, sehingga ia bisa meniti karirnya dalam kebaikan yang terpuji. (4) tidak pernah merasa bahwa kebaikan kebaikan dan kehebatan dalam dirinya adalah merupakan hasil usaha pribadi. Ia menyadari bahwa semua itu adalah karunia dari Allah. Nabi Sulaiman a.s. sebagai nabi, rasul dan sekaligus raja yang wilayahnya sangat luas, ia juga sebagai orang yang sanga kaya raya.
Beliau juga seorang ilmuwan yang sangat detail, sehingga bisa memahami bahasa hewan. Singgasana dan istananya sangat mewah dengan sentuhan teknologi modern di masa itu. Demikian hebatnya keadaannya, beliau mengungkapkannya dalam keadaan rendah hati: “Ini semua adalah karunai dari Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur dengan nikmat itu, atau mengingkari nikmat-Nya”. (QS. Al-Naml, 27:40).
(5) dalam tataran ini, seseorang beragama memiliki dada yang sangat luas, sehingga pengetahuannya menyerupai lautan. Apabila ia memperoleh karunia dan nikmat, ia bersyukur, dan apabila menghadapi ujian, dihadapi dengan tabah dan sabar. Manusia dalam tingkaran ini memiliki jiwa yang sangat agung, sehingga apabila ia dihina atau dicaci maki oleh orang lain, ia tidak membalasnya. Sebaliknya ia malah tersenyum dan mengatakan dalam hatinya: “Sekiranya makian orang itu benar, semoga Allah mengampuniku. Apabila makian orang itu salah, semoga Allah mengampuninya”. Di sini tidak terdapat rasa kebencian, dadanya dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang kepada sesama.
وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ
Tidaklah sama kebaikan dengan keburukan. Tolaklah (keburukan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia. (QS. Fussilat, 41:34).