
Oleh; Prof. Dr. Zubaedi M. Ag M. Pd
(Direktur Pascasarjana UIN Bengkulu dan Wakil Ketua PWNU Bengkulu)
Peringatan hari guru setiap tanggal 25 november memberikan pelajaran penting bagi seorang pendidik untuk terus berinovasi, mendengarkan murid, dan mengajar dengan hati demi melahirkan guru-guru yang inspiratif.
Dalam merefleksi Hari Guru, mengambil pembelajaran dari kepemimpinan Nabi Muhammad SAW sebagai pendidik inspiratif adalah langkah yang sangat tepat.
Rasulullah SAW merupakan figur paripurna yang layak dijadikan teladan oleh setiap pendidik. Sebagai seorang guru, pemimpin, dan pembimbing umat, beliau mencontohkan metode pendidikan yang holistik, penuh kasih sayang, dan relevan sepanjang zaman.
Rasulullah bukan sekadar menyampaikan ilmu (transmisi informasi), melainkan mendidik dengan keteladanan akhlak, empati, dan pendekatan psikologis yang menyentuh hati para sahabatnya. Merefleksikan Hari Guru dengan meneladani Rasulullah SAW sebagai pendidik inspiratif adalah langkah terbaik untuk mengembalikan marwah pendidikan ke arah yang sejati. Nabi Muhammad SAW adalah role model utama yang berhasil mengubah peradaban manusia melalui pendekatan yang menyentuh hati dan akal. Sebelum mengajarkan suatu kebaikan, Rasulullah adalah orang pertama yang mempraktikannya.
Guru inspiratif memahami bahwa siswa lebih mudah meniru apa yang dilihat (perilaku) daripada apa yang didengar (nasihat). Karakter luhur (akhlakul karimah) adalah fondasi dasar dari seluruh materi pelajaran.
Atas pertimbangan ini, betapa kita merindukan hadirnya guru-guru yang menebarkan semangat inspiratifnya. Hal ini mengingat posisi guru yang sangat vital bagi pertumbuhan dan perkembangan jiwa raga anak-anak. Tumbuh kembang mereka dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotor sangat dipengaruhi oleh hasil didikan, bimbingan, pembinaan dan pengajaran dari pendidik formal di sekolah. Tentu saja tanpa menafikan pengaruh dari hasil didikan orang tua dan pengaruh lingkungan tempat tinggal mereka bergaul dalam keseharian.
Akan tetapi porsi pengaruh pendidikan formal diakui sangat signifikan. Hal ini atas dasar pertimbangan bahwa periode pendidikan yang mereka jalani dalam institusi pendidikan formal dalam rentang waktu yang relatif panjang. Jika dihitung, semenjak belajar pada jenjang pendidikan pra sekolah (piaud), pendidikan dasar (SD/MI, SMP/MTS) maupun pendidikan menengah (SMA/SMK/MA) tercatat lebih dari 13 tahun.
Tumbuh kembang mereka secara biologis, psikologis, sosiologis dan religius akan berjalan dengan optimal jika berada dalam kepengasuhan guru-guru yang berjiwa inspiratif. Semuanya terjadi dikarenakan para murid akan senantiasa mendapat arahan, motivasi, perhatian, sugesti dan pendampingan dari para pendidik inspiratif sehingga akan selalu tumbuh semangat ingin maju dalam belajar dan berprestasi.
Para pendidik dapat meneladani Rosulullah dan hasil didikan Rasulullah (para sahabat) yang telah membuktikan dalam sejarah sebagai pendidik inspiratif. Rasulullah Muhammad SAW adalah figur guru inspiratif dan ideal karena beliau mengandalkan akhlak mulia, dan komunikasi penuh kasih sayang. Konsep Rasulullah SAW sebagai pendidik yang inspiratif dan ideal tertuang secara khusus dalam beberapa kitab utama, antara lain Ar-Rasul al-Mu’allim wa Asalibuhu fi at-Ta’lim, Al-Syamail al-Muhammadiyah, dan Gurunya Ummat Manusia.
Dalam Kitab Ar-Rasul al-Mu’allim wa Asalibuhu fi at-Ta’lim yang dikarang oleh Karya Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah secara mendalam membahas kepribadian Nabi Muhammad SAW serta metode dan strategi pengajaran beliau yang penuh kasih dan efektif.
Dalam Kitab Al-Syamail al-Muhammadiyah, yang dikarang oleh Karya Imam al-Tirmidzi mengupas tuntas fisik, perilaku, dan akhlak mulia sehari-hari Rasulullah yang menjadi sumber inspirasi keteladanan (uswah hasanah). Dalam buku al-Tarbiyyah al-Islamiyyah (Gurunya Ummat Manusia) karya Dr. Mustafa Muhammad at-Thahhan menjelaskan bagaimana Rasulullah memotivasi umatnya untuk giat belajar, mendidik dengan kelembutan, dan membangun peradaban lewat ilmu.
Nabi Muhammad ﷺ adalah pendidik pertama dan utama dalam pendidikan. Nabi ﷺ bersabda, “Allah tidak mengutusku sebagai orang yang kaku dan keras akan tetapi mengutusku sebagai seorang pendidik dan mempermudah.” (HR Muslim). Keberhasilannya ditandai dengan melahirkan para sahabat sebagai pendidik-pendidik yang tangguh yang berkontribusi besar dalam menyebarkan Islam. Hasil didikannya sampai-sampai berdampak melahirkan penghargaan dari Allah dengan pemberian status sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.
Sepuluh sahabat Nabi yang dijamin masuk surga ini adalah hasil didikan Rasulullah. Mereka membawa nilai-nilai inspiratif dalam kepemimpinan, keimanan, dan akhlak. Abu Bakar Ash-Shiddiq dikenal memiliki karakter setia dan dermawan dalam kehidupannya. Umar bin Khattab dikenal memberikan teladan tentang ketegasan dan keadilan. Utsman bin Affan mengajarkan pengalaman hidup tentang sifat pemurah dan kelembutan. Ali bin Abi Thalib mengajarkan sikap berani dan kebijakan dalam hidup. Abdurrahman bin Auf memberi pelajaran hidup tentang sifat dermawan, kesuksesan dalam berdagang dan gemar berinfak di jalan Allah.
Abu Ubaidah bin Al-Jarrah mengajarkan hidup jujur dan amanah. Thalhah bin Ubaidillah dikenal dengan sikap berani dalam membela kebenaran. Zubair bin Awwam dikenal memberi pembelajaran hidup tentang sikap setia dan tangguh dalam perjuangan. Hidupnya digunakan sebagai pembela Islam terdepan yang dijuluki sebagai Hawari (penolong) Rasulullah SAW. Sa’ad bin Abi Waqqash dikenal memberi pengalaman hidup sebagai panglima yang gigih dan hebat dalam membela membela Islam.. Sa’id bin Zaid dikenal memberi pelajaran hidup tentang konsisten beriman.
Mendidik dengan Praktek
Nabi telah menginspirasi kita bahwa ilmu adalah iman dan yakin, ihsan dan makrifat, tunduk dan terampil. Di mulai dengan mengimani apa yang dibawa oleh Rasulullah dan meyakini ajaran yang dinukil dan dipahami dengan akal. Diperkuat dengan ihsan menyebabkan amalan akan menjadi lebih baik dan terhindar dari kesalahan. Jika diperkuat dengan makrifat akan mengarahkan untuk senantiasa bersyukur dan berzikir. Dengan memiliki ketundukan akan membimbing untuk melaksanakan perintah, menjauhi larangan, dan meridhai takdir, Dilengkapi dengan keterampilan, ibadah pun lebih sempurna dan pahala bertambah.
Nabi telah mengajari para sahabatnya pengajaran secara praktis. Beliau telah mempraktikkannya sebelum berbicara. Sebab, pengajaran secara praktis lebih mudah dipahami serta lebih kuat diingat, seperti berwudhu di hadapan orang-orang agar dapat ditiru. Nabi shalat dan bersabda, “Shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat,” (HR. al-Bukhari).
Nabi menyeru para sahabatnya untuk bertakwa kepada Allah dan beliau adalah sosok yang paling bertakwa. Beliau melarang mereka agar meninggalkan sesuatu dan beliau adalah sosok yang paling menghindarinya. Beliau menasihati mereka dan air matanya mengalir di pipinya yang mulia. Beliau berpesan kepada mereka agar senantiasa berakhlak baik dan beliau adalah sosok yang akhlaknya paling baik.
eliau menganjukan mereka agar berzikir kepada Allah dan beliau adalah sosok yang paling banyak berzikir. Beliau menyeru mereka agar bersedekah serta bederma dan beliau adalah sosok yang tangan serta jiwanya paling dermawan. Beliau menasihati mereka agar bersikap baik kepada keluarga dan beliau adalah sosok yang baik kepada keluarganya, pengasih, lembut, dan ramah.
Nabi sukses dalam memberikan inspirasi kepada para sahabat agar senantiasa mengembangkan potensinya. Beliau membagi tugas sesuai dengan potensi masing-masing. Beliau menetapkan pembagian tersebut
Referensi:
- Husen, “Belajar Menjadi Guru kepada Rasulullah Refleksi Hari Guru Nasional 2025”, Artikel dalam mtsmu2bakid.sch.id, Dipublikasi 25 November 2025, https://mtsmu2bakid.sch.id/belajar-menjadi-guru-kepada-rasulullah-saw-refleksi-hari-guru-nasional-2025/
- M. Ryan Romadhon, “Kitab Ar-Rasulul Mu’allim: Reportase Nabi sebagai Pendidik”, Artikel dalam svr.nu.or.id, Dipublikasi 24 Juli 2024, https://svr.nu.or.id/pustaka/kitab-ar-rasulul-mu-allim-reportase-nabi-sebagai-pendidik-djEdz |
- Syaikh “Aidh al-Qarni, Mulhim al-ȧlam, Terj. Muhammad Saw Sang Inspirator Dunia, Oleh. Bakhruddin Fannani dkk (Jakarta: Almahira, 2022), hal. 230.
- Syaikh “Aidh al-Qarni, “Muhammad Saw Sang Inspirator Dunia….; hal. 234.
- Syaikh “Aidh al-Qarni, “Muhammad Saw Sang Inspirator Dunia….; hal. 235.