Suatu hari Kiai Abdul Hamid Pasuruan merasa tidak nyaman dengan kemasyhurannya yang tidak membuatnya bebas ke sana ke mari. Berbeda dengan Kiai Syarwani Abdan, ulama sebayanya yang tinggal di kota Bangil tak jauh dari Pasuruan dan berasal dari Banjarmasin.
“Saya ingin seperti Kiai Syarwani Abdan. Dia itu alim tapi mastur (tertutup kewaliannya) tidak masyhur. Sementara saya sudah terlanjur masyhur. Saya sering kerepotan karena harus menemui banyak orang. Menjadi orang masyhur itu tidak mudah, bebannya berat/ Kiai, Syarwani enak, tidak banyak didatangi orang,” kata Kiai Hamid saat haul Sunan Ampel tahun 1970-an.
Dalam sebuah foto terlihat Kiai Hamid sedang berbincang dekat dengan Kiai Syarwani Abdan yang diabadikan Haji Muhdor Maksum asal Ampel Surabaya. Haji Muhdor Maksum adalah tuan rumah tempat pertemuan bersejarah tersebut sekaligus juru potret fotonya.
Kiai Syarwani setiap haul Kanjeng Sunan Ampel di akhir Syakban selalu memanfaatkan ziarah pagi hari sebelum acara dimulai bakda duhur. Sedangkan Kiai Hamid beziarah bakda Asar yang kadangkala acara haul belum sempurna selesai.
Malangnya, kedatangan Kiai Hamid hampir membuyarkan acara haul itu karena sejak Kiai Hamid masuk wilayah Masjid Ampel, sudah banyak orang menunggu kedatangannya dan berebut berjabat tangan. Sehingga untuk menghindari orang banyak berjabat tangan Kiai Hamid melaksanakan salat sunnah yang berkali-kali dilakuka sambil terus menunggu salat asar dimulai.
Ketika salat Asar hendak dimulai Kiai Hamid langsung meninggalkan tempat dan memutuskan tidak menghadiri haul Kanjeng Sunan Ampel. Dalam perjalanan pulang dari masjid Ampel berpapasan dengan Haji Hasan adik Haji Muhdlor. Haji Hasan memberitahu bahwa Kiai Syarwani ada di rumah haji Mudlor yang tidak jauh dari masjid. Mendengar itu Kiai Hamid minta diantar ke rumah Haji Muhdlor untuk bertemu Kiai Syarwani.
Pertemuan antara Kiai Hamid dan Kiai Syarwani Abdan tidak terduga siapa pun. Kiai Hamid diikuti Kiai Dahlan Peneleh, Kiai Abdurrahim bin KH Syadzily (Gus Rohim asal Pendem Malang, Kiai Busthomi bin Kiai Husnan Surabaya dan lain sebagainya.
Haji Muhdor segera memberitahu Kiai Syarwani bahwa ada Kiai Hamid di ruang tamu depan dan Kiai Syarwani bergegas menemui wali besar itu. Maka terjadilah pertemuan kedua wali tersebut di rumah Haji Muhdor.
Keduanya saling merangkul dan mencium tangan.
Dalam pertemuan itu, Kiai Hamid meminta agar Kiai Syarwani bertukar selendang surban. Surban putih yang dipakai Kiai Syarwani ditukar surban hijau Kiai Hamid. Surban bekas Kiai Syarwani langsung dikenakan sebagai surban kepala (imamah). Sedangkan surban bekas Kiai Hamid diselempangkan di bahu Kiai Syarwani. Setelah itu Kiai Abdul Hamid dan Kiai Syarwani diajak masuk ke ruang tengah, ruang keluarga Haji Muhdor.
Di ruangan itu Kiai Hamid meminta siwak bekas yang baru saja di pakai Kiai Syarwani dan dipakainya. Kiai Hamid tidak mau minum minuman baru selain minum bekas yang diminum Kiai Syarwani. Setelah tahu kopi nya diminum Kiai Hamid, Kiai Syarwani langsung meminum kembali minuman yang bekas diminum Kiai Hamid.
Disaat perbincangan kedua wali itu, Haji Muhdlor mengabadikan momen indah itu dengan di foto-foto , tapi alangkah terkejutnya kamera tidak bisa dipencet dan macet. Melihat Haji Muhdlor kebingungan, Kiai Hamid bertanya: “Kenapa? Kamera nya rusak?”
“Macet Kiai,” jawab Haji Muhdor.
Melihat gelagar itu, Kiai , iya macet kyai Syarwani menimpali. “Untuk kenangan kiai minta izin difoto,” katanya. Kiai Syarwani meminta Haji Muhdlor menyerahkan kameranya kepada Kiai Hamid. Kiai Hamid memegang kamera itu dan menyerahkan kembali kepada Haji Muhdlor. Haji Muhdor menyuruh keponakannya untuk mencoba kembali foto dan ternyata kamera tidak macet lagi. Kiai Hamid berkata: “Buat kenangan ya.”
Ketika Kiai Hamid pamit pulang, Kiai Syarwani minta doa kepada Kiai Hamid. Kiai Syawani lantas bicara bicara; “Kiai Hamid ini waliyyullah.”
Mendengar ucapan tersebut dibalas langsung oleh Kiai Hamid. “Yang wali itu adalah orang yang ada di sampingku ini,” sambil menunjuk Kiai Syarwani Abdan. “Mintalah doa kepada Kiai Syawani,” kata Kiai Hamid.
Karena kedua ulama ini saling tawadhu dan menolak berdoa, akhirnya Haji Muhdlor memberanikan diri menengahi dengan meminta dua wali itu berdoa bergantian. Kiai Hamid memulai dan diikuti Kiai Syarwani.
Dalam pulang Kiai Hamid minta keluar melalui pintu klain karena di lar sudah banyak irang menunggu untuk mencium tangannya.
Haji Muhdlor ditemani Kiai Syarwani mengantar Kiai Hamid keluar melalui pintu samping. Di tengah perjalanan mengantarkan Kiai Abdul Hamid itu, Kiai Hamid memberitahu Kiai Busthomi bahwa Kiai Syarwani ini bagaikan rumah yang pagarnya terbuka lebar”.
Kiai Busthomi bertanya maksudnya. Kiai Hamid menjawab bahwa maqam dan derajat Kiai Syarwani itu tinggi tetapi tidak mau dikenal orang. Beliau siap menerima tamu kapan saja.
Kiai Hamid wafat tahun 1982 dan Kiai Syarwani wafat tahun 1989. Akhirnya berpuluh tahun kemudian, setelah kedua wali itu telah wafat terjadi hubungan kekerabatan. Kedua cucu dua wali itu menikah. Cucu Kiai Hamid (putera Kiai Nasih) menikahi cucu Kiai Syarwani, puteri Kiai Kasyful Anwar.
Perlu dicatat, haul dua wali itu menyedot perhatian besar umat Islam Indonesia untuk datang ke Pasuruan dan Bangil. (mh)